Tampilkan postingan dengan label Anita Cemerlang. Tampilkan semua postingan

Cerpen Lis Maulina: Yang Luruh Satu-satu

SUNYI mencekam keduanya. Sudah hampir limabelas menit, tak seorang pun buka suara. Seakan enggan untuk menggerakkan bibir. Desau angin sore semakin mencekam suasana. Hening, bagai berada di kompleks pemakaman.
Miko melirik gadis yang duduk di sampingnya. Dengan sudut matanya, ditelitinya wajah itu secara seksama. Dicobanya mengartikan garis-garis yang ada di sana.
Merasa diperhatikan, Rinda mengangkat wajahnya. Mata mereka beradu, lama. Tapi, ah! Miko masih belum menemukan makna yang pasti dalam tatapan bola bening itu. Sorot mata yang lembut menutupi emosi yang tersirat di dalamnya.
Miko mendesah. Di mana kau sembunyikan gejolak perasaanmu, Manis? Ataukah kau memang tidak mempunyainya?
Gantian Miko yang menunduk. Digigitnya bibir, menutupi resah. Diremasnya jemari. Napas yang tertahan dihembuskannya kuat-kuat. Beban terasa berkurang, walau sedikit.
"Rin," paggil Miko akhirnya.
"Hem."
Hanya itu saja suara yang keluar dari bibir tipisnya. Tak ada reaksi lain, apalagi yang berlebihan. Kembali Miko harus kecewa.
"Kau sudah mengerti apa yang kukatakan?"
Sedetik setelah pertanyaan itu selesai, Miko menyesali diri. Pertanyaan bodoh, makinya sendiri dalam hati.
"Yah."
"Kau tidak kecewa?"
Rinda tersenyum pahit. Kau tidak kecewa? Astaga, pertanyaan apa pula itu? Cewek mana yang tidak kecewa, cowok tersayang ternyata tidak bisa hadir pada hari bersejarahnya? Cewek mana yang tidak kecewa merayakan pesta ulangtahunnya tanpa didampingi cowoknya? Cewek mana yang tidak kecewa membayangkan betapa bingungnya dia nanti memilih, kepada siapa potongan kue yang pertama harus diberikan? Cewek mana?
Rinda menelan ludah. Getir. Kalau saja Miko tahu, betapa payahnya dia menahan perasaan yang berontak. Betapa sulitnya mengatasi protes-protes beruntun. Betapa lelahnya menabur hiburan untuk menyelimuti kekecewaan yang menebal. Kalau saja kau tahu, Miko, tentu pertanyaan konyol seperti itu tidak akan kau lontarkan.
Tadinya Rinda berharap, lusa adalah ulangtahun yang paling istimewa. Dia didampingi cowok yang paling dikasihinya. Dia sudah membayangkan betapa bahagianya nanti.
Mendapat hadiah istimewa dari Miko, lalu ditemani meniup lilin, dan memberikan potongan kue pertama padanya. Lalu Miko akan diperkenalkan kepada seluruh keluarga.
Ah, betapa bahagiakan!
Tapi kabar yang dibawa Miko beberapa puluh menit lalu, membuyarkan semua angan-angannya. Hantaman kekecewaan mengguncang dadanya, bergetar sampai ke seluruh persendian. Segala daya dicobanya untuk bertahan. Perasaannya yang mendidih disiramnya dengan air sejuk. Dan dia berhasil. Sampai keadaannya kembali normal.
Pengertian yang amat dalamlah yang meredakan segalanya. Kasih sayangnya pada cowok itu membentengi emosinya. Hingga dia tampak tegar, tak goyah walau sedikitpun.
Rinda mengerti, Miko harus pergi. Sekolah memerlukannya memperkuat tim basket guna menghadapi tim sekolah yang akan dikunjungi dalam pertandingan persahabatan.
Sebenarnya sudah lama Rinda tahu, sekolahnya akan mengadakan kunjungan ke sekolah lain di luar kota. Dia tahu, dalam kunjungan itu akan dilaksanakan pertandingan-pertandingan olahraga. Dan itu berarti Miko harus ikut. Karena dia adalah tulang punggung tim basket sekolah.
Tapi Rinda sama sekali tidak menduga kunjungan itu akan dilaksanakan besok. Padahal rencana semula bulan depan. Entah mengapa jadi dipercepat. Namun yang membuatnya benar-benar kecewa karena waktu keberangkatan bertepatan dengan rencana perayaan hari ulangtahunnya.
Padahal tadinya Rinda berencana ikut menemani Miko. Sekedar menjadi suporter. Tapi kini, jangankan untuk ikut, kunjungan itu malah mengacak-acak seluruh rencana yang disusunnya. Kunjungan itu merampas Miko dari sisinya, lusa.
"Rin." Sentuhan di jemari membuatnya agak tersentak.
"Kau melamun?"
Lagi-lagi Rinda hanya tersenyum pahit.
"Kau dengar pertanyaanku tadi , kan?"
Rinda mengangguk. "Dan kurasa kau sudah tahu jawabnya."
"Kau jangan membuat aku bingung, Rin!"
Rinda tidak menjawab. Sorot matanya yang lembut tapi menusuk membuat Miko gelagapan. Namun dia sempat menangkap getar-getar aneh di mata itu.
Yah, beberapa rontaan kecil tersimpan di balik ketenangan tatapannya. Makin lama Miko menatapnya, makin besar dan banyak rontaan-rontaan itu, sampai akhirnya menjadi riak-riak bening. Di sana tergambar jelas butir-butir kekecewaan yang dilapisi oleh lembaran kasih yang tulus.
"Maafkan aku, Rin! Maafkan!" desahnya penuh sesal.
"Aku..."
"Aku tahu," potong Rinda cepat. "Dan aku mengerti. Pergilah!"
"Rin?" Mata Miko terbelalak.
"Aku tak mungkin membiarkan tim basket kita menelan kekalahan. Kau sangat mereka butuhkan. Walau kuakui, aku juga membutuhkanmu. Tapi ini demi kepentingan kita bersama, demi sekolah kita, maka pergilah!"
Ingin rasanya Miko langsung memeluk gadisnya yang berhati malaikat ini. Betapa bangganya dia mempunyai gadis searif ini.
Diraihnya jemari Rinda.
"Aku berjanji Rin, secepatnya aku akan kembali. Setelah pertandingan selesai, aku akan langsung pulang."
"Jangan terlalu dipaksakan!"
"Tidak, Rin! Ini adalah kesempatan terakhir bagiku untuk membahagiakanmu sekaligus mengharumkan nama sekolah kita. Dan aku tidak mau kehilangan keduanya."
Walau dengan agak heran mendengar kalimat yang meluncur penuh semangat itu, Rinda mengangguk juga.
"Itu terserah padamu. Pokoknya, aku titip nama sekolah kita."
"Beres."

***

ORANG yang seharusnya menikmati kebahagiaan ini justru lebih banyak diam menjadi penonton. Kadang-kadang saja dia ikut tersenyum melihat tingkah polah tamu yang berbagai macam. Namun dia lebih sering kedapatan melamun, menatap kue ulangtahunnya dengan pandangan kosong.
Sebenarnya Rinda sudah berusaha membaur kebahagiaan dengan tamu-tamunya. Menghambur tawa dan canda. Bukankah hari ini perayaan ulangtahunnya? Mestinya dia yang lebih bergembira. Tapi walau sudah diusahakannya, sebentar saja ia dapat menarik senyum, setelah itu kembali pada rasa hampa.
Akhirnya Rinda bosan sendiri. Dibiarkannya para tamu menikmati kegembiraan. Sedangkan dia diam-diam menyingkir ke pojok ruangan dan melamun. Menghayati arti kesunyian hatinya.
Kalau ada Miko, tentu tidak begini keadaannya. Dia pandai membuat suasana menjadi ceria. Dia yang paling ahli memancing tawa Rinda. Tiba-tiba saja Rinda menjadi rindu pada cowok itu. Sedang apa dia, ya?
Tanpa sadar Rinda melirik sepotong kue yang terletak di samping kue tart besar. Itu adalah kue potongan pertama yang disimpannya untuk Miko.
Sementara di luar angin berhembus cukup kencang. Terbukti bayangan pepohonan yang terlihat dari jendela, meliuk-liuk bagai menari. Mungkin hujan akan turun. Malam ini jauh dari cerah, sama seperti suasana hati Rinda. Tapi keadaan cuaca di luar tidak mempengaruhi kemeriahan pesta.
"Rinda!" Sayup-sayup suara panggilan itu singgah di telinga Rinda.
Rinda tidak bereaksi. Hanya telinganya yang sedikit kaget karena menangkap getaran suara itu. Getaran suara itu mamang terlalu lemah untuk dipedulikan. Lebih sering dianggap hanya sebagai gema hati sendiri.
"Rinda!" Kali ini panggilan itu terdengar jelas.
Kini Rinda mulai beraksi. Mula-mula hanya mata Rinda yang sedikit mendelik. Lalu lehernya mengikut arah dari mana suara itu tadi terdengar. Rinda terkesiap ketika seraut wajah di balik kaca jendela.
Cepat Rinda bangkit dari tempat duduknya. Bergegas ke luar menuju taman. Wajahnya tiba-tiba menjadi cerah.
"Miko!" serunya tertahan ketika matanya tertumbuk pada sosok tubuh kumal di hadapannya.
"Kau benar-benar nekat rupanya."
Miko tertawa renyah. Dikeluarkannya sebuah kotak mungil dari balik punggungnya.
"Aku tidak mau menunggu besok, kan sudah bukan tanggal 14. Hampir saja aku tak bisa menemuimu lagi. Untung aku masih diberi izin."
Rinda tersenyum bahagia. Akhirnya Miko datang juga.
"Syukurlah kalau begitu. Ayo masuk!" Akan kuperkenalkan kau kepada tamu-tamuku," kata Rinda sambil menarik tangan Miko.
Miko bergeming dari tempatnya. Rinda jadi heran karenanya.
"Jangan, Rin! Malu kan, aku kucel begini?"
"Ah, peduli apa? Itu kan cuma luarnya saja. Aku tidak malu, kok."
"Iya, kau tidak, tapi aku yang malu. Masak aku yang kucel begini mendampingimu yang terlihat seperti bidadari. Kau cantik sekali, Rin."
Warna merah memenuhi wajah Rinda. Tatapan lembut Miko membuatnya agak jengah.
"Tunggu sebentar, ya! Aku ambil kue dulu. Aku sengaja menyimpannya untukmu." Rinda menghilang ke dalam tanpa bisa dicegah. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan serba salahnya karena pujian Miko.
Sebentar kemudian gadis itu sudah kembali berada di taman. Disodorkannya potongan kue itu pada Miko. Anehnya, Miko malah menggeleng.
"Kenapa?" tanya Rinda kecewa.
Miko diam tak menjawab.
"Baiklah, kalau kau tidak mau memakan kue ini, aku juga tidak mau menerima hadiahmu," ucapnya sedikit ketus.
Miko tertawa.
"Baiklah, kau main ancam segala, sih! Hadiah itu aku beli langsung dari Martapura dan kubawa khusus buatmu. Masak tidak kamu terima? Sia-sia dong perjalananku..."
Miko mengambil potongan kue itu dan memakannya sedikit. Sedang Rinda mengambil bingkisan yang disodorkan Miko.
"Rin."
"Ya."
"Boleh nggak aku mencium pipimu sebagai ucapan selamat?"
Rinda tersentak. Dipandanginya Miko dengan heran. Permintaan itu terasa ganjil di telinganya. Selama ini, tak pernah sekalipun Miko mengajukan permintaan yang aneh-aneh. Tapi demi melihat mata yang penuh harap itu, Rinda mengangguk juga. Sekali-sekali toh tidak ada salahnya, pikirnya kemudian.
Dengan dada berdebar aneh Rinda membiarkan bibir Miko mulai mendekati pipinya. Makin dekat, kian kencang juga debar itu. Dan napasnya hampir berhenti ketika bibir itu tinggal beberapa senti lagi akan menyentuh pipinya. Tapi...
"Rinda!"
Teriakan melengking yang dapat Rinda tebak adalah suara mamanya itu, mengacaukan segalanya. Ada apa kok mama pakai teriak-teriak segala? Kayak ada perampokan saja. Mama yang lembut dan anggun itu, apakah sedang berlatih jadi Tarzan?
Miko cepat menutup mulut Rinda ketika dia ingin balas berteriak menjawab panggilan itu.
"Jangan berteriak begitu!" larangnya agak galak. "Kamu kan sudah dewasa sekarang."
Rinda menurut, dia berdiri hendak memenuhi panggilan itu. Tapi Miko juga melarangnya.
"Jangan sekarang!"
"Kenapa, sih?" tanya Rinda penasaran.
"Penuhi dulu janjimu!"
"Huh, nggak sabaran banget! Mulai nakal ya sekarang?" rajuk Rinda.
"Kamu kan sudah janji."
"Baiklah."
Akhirnya Rinda mengalah. Disodorkannya pipinya, memejamkan matanya. Tiga kali Miko mengecupnya lembut, membuatnya terasa terbang di awang-awang.
"Udah, kan? Aku nemui Mama dulu, ya!"
Miko mengangguk, Rinda pun bangkit. Tapi sebelum sampai di ambang pintu, Miko memanggilnya lagi.
"Ada apa lagi?" tanya Rinda sedikit sewot.
"Aku sayang kamu."
Ah, kalimat lembut itu sempat membuat Rinda terpana. Suara Miko itu bagai bergaung di rongga dada dan kepalanya. Dan senyum itu bagai mmenebarkan kesejukan kasih sayang tulus ke seuluruh jiwa raganya.
"Aku juga sayang kamu," kata Rinda. Balas tersenyum tak kalah lembutnya.
Kemudian Rinda berbalik, memasuki ruangan pesta yang tiba-tiba saja menjadi sunyi mencekam. Musik yang tadi gegap gempita, kini hening. Para tamu juga berdiri mematung, mengikuti kebisuan suasana. Wajah-wajah mereka pun tidak seceria tadi. Berlawanan sekali dengan wajah Rinda yang berseri-seri. Melihat Rinda muncul, Mama langsung merangkulnya. Rinda tentu saja heran setengah mati. Apalagi melihat mata Mama yang memerah dan wajah Papa yang keruh.
"Ada apa, Ma?" tanya Rinda tak bisa menyembunyikan keheranannya.
Mama tidak menjawab, malah terisak-isak. Rinda jadi tambah bingung. Dia celingak-celinguk, minta penjelasan pada orang-orang di sekitarnya. Tapi mereka juga hanya diam. Ada yang sengaja menghindar dengan menundukkan kepala atau pura-pura menoleh ke arah lain.
Papa mendekat. Dirangkulnya Mama sebentar, kemudian ganti merangkul Rinda. Diusapnya rambut Rinda dengan penuh kasih. Walau bingung, perlakuan itu tetap diterimanya. Dirasakannya tangan Papa gemetar.
"Kau anak Papa yang tabah kan, Rin? Kau kuat kan, Nak?"
Suara yang tersendat itu mengiris hati semua yang mendengarnya.
"Jangan membuat Rinda mati kebingungan, Pa! Katakan saja apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Rinda tak sabar lagi.
Papa menghela napas, mengumpulkan kekuatan.
"Miko, anakku! Dia ..."
"Kenapa Miko, Pa? Dia baik-baik saja, kok. Dia tadi ke sini menemui Rinda. Katanya, dia tidak bisa menunggu besok untuk mengucapkan selamat. Dia juga memberikan hadiah. Tadi Rinda baru datang menemuinya di taman. Katanya dia malu masuk, karena kucel dan kumal sehabis menempuh perjalanan jauh."
Semua terpana mendengar penuturan Rinda. Mama bertambah keras tangisnya. Papa memeluknya.
"Rinda, setelah pertandingan, Miko minta izin pulang duluan, karena ingin menghadiri pesta ulangtahunmu. Tentu saja kami izinkan. Kami tidak ingin dia kecewa, sebab dia sudah memberikan kemenangan pada sekolah kita." Tiba-tiba datang penjelasan dari arah belakang.
Ternyata Mas Puji, pelatih dan pembimbing tim basket sekolahnya. Rinda menunggu lanjutan dari kalimat-kalimatnya yang patah-patah.
"Tapi setelah dua jam, kami mendengar berita, mobil yang ditumpangi Miko mengalami kecelakaan, tabrakan. Semua penumpang meninggal, termasuk... Miko."
Bagai kejatuhan batu berton-ton beratnya, Rinda merasa kepalanya menjadi teramat berat. Bumi tempatnya berpijak bagai retak.
"Tidak!" katanya sambil menggeleng kuat-kuat. "Tadi dia ada di sini! Dia mengucapkan selamat padaku, memberikan hadiah, dan aku memberikan sepotong kue untuknya. Betul! Dia masih ada. Dia selamat, tak kurang suatu apa. Kalian jangan mempermainkan aku! Kalau tidak percaya, kalian boleh melihatnya di taman."
"Tidak ada siapa-siapa di sana, Rin!"
Seseorang masuk, Rangga, sepupunya. Rupanya dia disuruh Papa memeriksa taman. Tangannya membawa piring kecil berisi sepotong kue yang sudutnya sudah tidak utuh lagi.
"Aku hanya menemukan kue ini," katanya sambil meletakkan piring itu di atas meja.Rinda cepat menyerobotnya.
"Nah, betul, kan? Dia memang ada. Ini buktinya. Dia yang tadi memakannya sedikit. Mulanya dia tidak mau, tapi kupaksa. Nah, dia benar-benar ada, kan? Dia pasti bersembunyi. Dia pasti ingin menggodaku. Kalian pasti mempermainkanku."
Rinda berlari menuju pintu. "Miko, Miko! Ini aku, Miko. Ayo keluar! Kau masih ada kan, Miko? Kau tidak mati seperti yang mereka katakan, kan? Miko! Kembali Miko! Jangan tinggalkan aku! Miiikkkkoooo!"
Tubuh Rinda yang bersandar di sisi pintu. Tiba-tiba saja melorot turun, seiring dengan melemahnya jeritannya. Secepat kilat orang-orang menghambur menolongnya.

***

AKHIRNYA toh Rinda harus mempercayainya. Akhirnya ia harus menerima kenyataan yang ada. Walau semula ia bersikeras untuk tidak percaya. Ia berkeras mengatakan Miko masih hidup. Tapi kemarin, semua kekerasannya luluh, ketika melihat sosok tubuh yang terbaring tenang.
Sosok itu memang milik Miko. Namun Rinda masih belum percaya. Dicarinya suatu tanda pada sosok itu yang mungkin bukan milik Miko. Dicarinya perbedaan antara sosok itu dengan Miko.
Rinda belum putus asa. Walau semua orang berusaha meyakinkannya, Rinda belum percaya. Tapi tahi lalat itulah yang akhirnya memaksa Rinda untuk percaya. Tahi lalat yang dipunyai Miko, di sela jari manis sebelah kirinya, ternyata juga dipunyai sosok beku di hadapannya. Barulah dia sadar, senyum kedamaian yang terukir di bibir sosok itu, sama dengan senyum Miko yang terakhir kali dilihatnya.
Yah, sama persis.
Tuhan, misteri apa yang Kau perlihatkan kepadaku? Kau hadirkan dia ke hadapanku, Tuhan! Kau sempatkan dia utuk mengucapkan selamat padaku, meninggalkan sebuah bingkisan terakhirnya padaku. Tuhan, Kau perlihatkan sebagian kekuasaanMu padaku, hingga akalku tidak bisa menjangkaunya.
Rinda menarik napas panjang. Teringat dia dengan sikap Miko yang agak aneh sebelum kepergiannya. Teringat dia ketika Miko mendatanginya untuk terakhir kalinya.
Teringat dia dengan keganjilan peristiwa itu. Lalu teringat dia dengan kecupan sayang Miko yang pertama sekaligus yang terakhir untuknya. Ah, bagai mimpi saja rasanya. Kecupan itu masih terasa hangatnya sampai sekarang.
Rinda memandangi nisan yang berukir nama Miko iti tajam-tajam. Lalu dipandangnya daun-daun yang berguguran karena sengatan kemarau.
Kau lihat daun-daun itu, Miko? Kau lihat? Mungkin seperti itulah aku sekarang ini. Kering, lalu luruh satu-satu. Menunggu musim hujan berikutnya, baru akan tumbuh lagi. Tapi aku tak yakin, aku akan seperti itu, tumbuh pada musim hujan berikutnya. Mungkin malah akan terus luruh satu-satu, sampai habis sama sekali.
Tapi jangan takut, Miko! Aku akan berusaha menumbuhkannya lagi. Aku akan berusaha untuk membangkitkan menara harapanku yang telah rubuh. Aku akan berusaha menyusun lagi keeping-keping hati yang hancur. Sesuai pesanmu yang terakhir.
Rinda berdiri dan mengajak batu nisan di hadapannya untuk tersenyum. Selamat jalan, Miko! Damailah kau di sana bersama Illahi yang bijaksana.
Lambat tapi pasti, Rinda melangkah pergi. Meninggalkan pemakaman itu. Meninggalkan nisan Miko. Meninggalkan daun-daunan yang terus luruh satu-satu.
Selamat jalan, Miko![]


Catatan:
Dimuat di Anita Cemerlang Vol. 330 tgl. 19-28 Maret 1990

Sumber:
https://www.wattpad.com/story/92514579-yang-luruh-satu-satu-tamat

Cerpen Lis Maulina: Tears in Heaven

UNTUK ketiga kalinya bel berbunyi nyaring. Di siang yang garing dan sepi seperti ini, seakan memekakkan telinga. Dengan sangat terpaksa mata Sarah yang sudah tertutup kembali dibuka. Ditepiskannya rasa kantuk yang membebani kelopak matanya.
Sarah bangkit sambil mengomel panjang pendek. Dia ke luar kamar. Lorong tampak lengang. Semua pintu kamar tertutup rapat. Selalu begitu. Kalau lagi tidak diharapkan, bunyi bel pasti dicuekin. Penghuni kos mendadak tuli semua. Tapi kalo malam Minggu, denger suara motor saja, semua berebut menuju pintu. Berharap sang arjuna masing-masing yang datang.
Lagian ni orang iseng banget, gerutu Sarah dalam hati. Panas-panas begini sempat-sempatnya bertamu. Nggak tahu orang lagi butuh istirahat.
Sarah memutar kunci. Pintu dikuakkannya lebar-lebar. Sesosok tubuh jangkung berdiri di ambang pintu.
Sarah mendongak, mencoba mengenali wajah sosok itu dengan pandangan penuh kantuk. Pertama yang ditangkapnya adalah tubuh yang tinggi tegap, atletis. Kulit coklat muda dan bersih. Rahang kokoh dengan dagu belah. Bibirnya merah muda tipis mengukir senyum manis. Hidungnya tinggi, pangkalnya agak berkerut. Matanya coklat agak kehijauan dengan sorot tajam tapi juga lembut, menyejukkan. Alisnya hitam tebal, nyaris bertautan. Rambutnya kecoklatan, berombak jatuh ke bahu...
"Hallo, Sarah! Kau lupa padaku?"
Astaga! Sarah terkesiap. Suara bariton agak serak itu... Aksennya yang khas itu...
Buru-buru Sarah mempertajam pandangannya. Kantuknya hilang seketika.
"Rudolf?" desisnya tak percaya.
Senyum itu pecah menjadi tawa. Lepas berderai. Benar, itulah ciri khas tawa Rudolf! Rudolf Kretchmer!
"Kau..." Sarah langsung menyerbu cowok itu dengan gemas. Tinju kecilnya terayun.
Tawa Rudolf makin lebar. Dengan tenang dia menangkap tangan Sarah, lalu menariknya. Tubuh mungil Sarah jatuh dalam rangkulannya, tenggelam di balik lengan kukuh itu.
Sarah langsung berontak. "Dolf, apa-apaan kamu?" serunya dengan bibir maju lima senti dan pipi bersemu.
Rudolf mengacak-acak rambutnya. "I miss you, Sarah!"
"Dari dulu gombalmu belum hilang-hilang juga."
"I swear!"
"Siapa yang percaya sumpahmu? Buktinya sampe berbulan-bulan, nyaris setahun, kamu lenyap bagai ditelan bumi. Padahal janjinya mo rajin nulis surat. Sibuk sama cewek-cewekmu, ya?"
Rudolf terdiam. Dia menarik napas dalam-dalam. Lalu tersenyum kecut. "Lalu sekarang untuk siapa aku datang? Baru landing, langsung menemuimu di sini."
Sarah membelalak. Dia memandang Rudolf dari atas ke bawah. Matanya tertumbuk pada tas travel berukuran sedang yang teronggok di sisi kakinya. Lalu kembali pada tampang Rudolf yang kelihatan sedikit kusut.
"Kamu datang langsung ke sini?"
Rudolf menggeleng.
"Belum ke losmen? Belum istirahat?"
Kembali menggeleng.
"Edan! Apa perlu kuantar?"
Rudolf tertawa. "Tidak, terimakasih. Kulihat kau pun tampak kelelahan. Istirahatlah! Aku bisa ke losmen sendiri. Aku masih hapal tempatnya. Nanti sore aku ke sini, kau harus sudah siap menemaniku jalan-jalan keliling kota, oke?"
Tanpa menunggu persetujuan Sarah, Rudolf berbalik sambil menenteng tasnya. Kemudian mencegat becak.
Sarah terpaku sampai becak hilang di tikungan. Dia baru sadar ketika teman-teman kosnya muncul dan bertanya, "Andy Garcia, Sa?"

***

MERAPI berdiri kokoh. Sebagian tubuhnya diselimuti kabut tipis. Puncaknya membentuk maar, membuatnya keliatan garang dan sangar.
Sarah memperbaiki posisinya. Dari tebing ini, wajah Merapi terlihat begitu menakjubkan. Sangat sayang bila dilewatkan begitu saja.
Beberapa detik sebelum Sarah menekan tombol kameranya, tubuhnya didorong dari belakang. Sarah kaget. Keseimbangannya tak terkendali. Untung tangannya masih sempat meraih batang pohon dan memeluknya erat-erat. Kalau tidak, tubuhnya sudah sama nasibnya dengan kameranya yang jatuh terhempas ke dasar jurang. Hancur berkeping.
Sarah membalikkan badan. Matanya menatap sangar pada seseorang cowok yang berdiri dengan wajah pucat pasi. Agaknya dialah penyebab insiden tadi. Terbukti dari rasa bersalah yang tergambar jelas di wajahnya.
"I'm sorry. I didn't mean to..." ucap cowok itu gugup.
Sarah mendengus. Dia melangkah lebar dengan amarah.
"Wait a minute, please! Nona..." Cowok itu berhasil menangkap lengan Sarah. Ternyata dia jauh lebih sigap dan cekatan. Tapi melihat mimik wajah Sarah, dia kembali tergagap. "Maafkan saya, Nona! Saya... sungguh tak sengaja. Karena Nona akan saya ganti."
Cowok itu menyodorkan kameranya. Walaupun mungil, tapi jelas lebih mahal dari kepunyaan Sarah yang cuma sebuah kamera tua. Model terbaru keluaran luar, hasil teknologi modern.
"Nona..."
"Kamu kira aku mau menerimanya? Walau punyamu jelas lebih bagus dan lebih mahal, aku tetap tak sudi!" sembur Sarah. "Kameraku sudah mengabadikan moment-moment indah yang belum tentu ada di kameramu. Belum lagi rasa kagetku yang amat sangat karena kecelakaan itu nyaris pula membahayakan diriku. Itu tidak bisa dibayar dengan uang sebanyak apapun."
Wajah cowok yang agak kebule-bulean itu makin pias. Rasa berdosa dan sesal tergambar makin jelas.
"Lalu saya mesti bagaimana, Nona? Saya sungguh menyesal dan..."
"Lupakan saja!"
Sarah meninggalkan cowok yang masih kebingungan itu. Sebenarnya dia kasihan juga, tapi rasa marah dan kesal mengalahkan rasa ibanya. Karena ingin cepat meninggalkan tempat itu, Sarah memilih memotong jalan dengan memanjat tebing rendah. Sialnya, tanaman tempatnya bergantung masih muda dan tidak kuat menahan tubuhnya.
Sarah terjatuh.
"Anda tidak apa-apa, Nona?" Cowok bule itu berlari mendapatkan Sarah yang terduduk. "Are you hurt? Oh!"
Cowok itu membantu Sarah berdiri dan memapahnya ke tempat aman, di bawah pohon besar yang terlindung. Tak ada pilihan lain bagi Sarah selain menurut. Sikunya yang terasa perih, dan kakinya yang sakit. Mungkin keseleo. Membuatnya tak bisa menolak pertolongan itu.
Cowok itu membuka tas pinggangnya. Mengeluarkan segumpal kapas, alcohol, dan obat luka. Siku Sarah yang berdarah karena tergores ranting dan tergesek batu tebing dibersihkannya dengan alkohol.
"Sakit?" tanya cowok itu ketika Sarah meringis. "Tahan sedikit, oke?"
Sarah menggigit bibirnya, menahan rasa perih. Apalagi ketika obat luka itu dioleskan.
"Emang sedikit perih. Tapi obat ini akan cepat mengeringkan." Cowok itu tersenyum. "Siapa namamu, Nona?"
Sarah terpana. Rasa sakitnya tiba-tiba lenyap. Entah karena obat yang bereaksi, atau karena senyum cowok itu. Begitu manis. Ketulusan yang tersirat dalam senyum itulah yang membuatnya manis. Ah, kenapa aku tidak memperhatikannya sedari tadi, sesal hati Sarah.
"Nona?"
"Eh, saya... Sarah." Sarah mengutuki ketololannya. Wajahnya bersemu. "You?"
"Rudolf. Rudolf Kretchmer."
"Where are you came from?"
"Coba kamu tebak!" Rudolf tersenyum lagi.
Sarah mengamati wajah Rudolf sebentar, lalu mengangkat bahu. "Entahlah! Kamu seperti oang barat, tapi aku melihat garis Asia di wajahmu."
"You're right. Kata teman-teman, aku produk campuran. Aku mendapat darah India, Australia, dan Spanyol dari Ibuku. Sedang Bapakku menurunkan darah Jerman, Cina, dan Suriah padaku. Tapi aku tinggal dan berkewarganegaraan Jerman."
"Kayak gado-gado saja." Sarah tertawa.
Rudolf tersenyum. "Ternyata kamu bisa juga tertawa, Nona Sarah. Kukira kamu gadis galak."
"Maafkan sikapku tadi!" ucap Sarah menahan malu.
"Never mind..."
Sebuah tepukan di bahu menggulung layer kenangan di benak Sarah. Di sebelahnya Rudolf menatapnya serius.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Ah, tidak!" Sarah menggeleng. "Menatap Merapi dari tempat ini membuatku ingat saat pertama kali kita bertemu."
Rudolf tertawa. "Kalau begitu sama. Tempat ini tidak banyak berubah. Aku ingat benar, kamu kelihatan sangat marah waktu itu. Aku jadi gugup dan bingung. Dan tebing itulah yang kau daki untuk mencapai jalan setapak di atas, tapi kau jatuh."
Sarah tersipu, ingat kekonyolannya saat itu.
"Jangan ketawa! Kamu membuatku malu!"
Rudolf tidak menghentikan tawanya.
Sarah cemberut. "Kalau begitu, tebing itu kudaki lagi!"
"Sarah, jangan!" Suara Rudolf tersekat. Sia-sia saja. Sarah sudah berlari dan mencoba mendaki lagi.
Malang, kali ini pijakan kakinya yang tidak kuat. Tanahnya gembur karena hujan yang kerap turun. Jadi mudah longsor. Untuk kedua kalinya tubuh Sarah melorot jatuh.
Rudolf berlari menghampiri Sarah yang meringis menahan pedih di sikunya yang luka.
Rudolf menggelengkan kepala. "Ternyata kamu masih juga keras kepala, Sa. Tapi anehnya, justru itu yang kusuka."
Rudolf memapah Sarah ke bawah sebuah pohon dan mengobati luka di sikunya. Sarah diam. Rasa sakit tak lagi dirasakannya. Perasaan galau karena kalimat yang diucapkan Rudolf mampu mengalahkannya. Sampai mereka turun ke Kaliurang dan pulang.

***

SANG surya mulai jatuh, mendekati kaki langit. Sinarnya tak lagi terik dan menyilaukan, tapi lembut dan hangat. Perca jingganya menyebarnya ke mana-mana. Membuat kilau buih laut lebih cemerlang.
Pengunjung Pantai Parangtritis malah bertambah. Rupanya semua sengaja menunggu saat senja tiba. Sama-sama ingin menikmati sunset. Mereka menyebar di bibir pantai dengan kegiatan masing-masing. Turis-turis bule lebih senang bercanda dengan ombak, lalu berjemur di bawah hangat mentari senja. Sedang turis-turis domestik lebih suka duduk-duduk di warung sambil menghirup es degan langsung dari batoknya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Sarah menghentikan kegiatannya mengisap air kelapa yang seakan tidak pernah habis dari tadi.
"Kuperhatikan selama ini kamu sering melamun, Sarah. Kenapa? Kau tak suka menemaniku?" tanya Rudolf lagi.
Sarah masih belum bergeming. Matanya terus menatap kosong ke depan. Tidak kusuka? Oh, sungguh munafik bila kujawab iya! Bahkan kalau mau jujur, aku malah sangat bahagia. Bukankah saat seperti ini yang selalu kuinginkan? Bu...
"Atau kamu takut cowokmu cemburu dan marah?"
Cowok? Sarah tersenyum kecut. Siapa cowokku? Ady yang pergi ke Irian karena penolakkanku? Ataukah Guntur yang bersikap memusuhi karena kebekuanku? Sarah menggeleng pelan. Malam Minggunya selalu dihabiskan untuk melamun di depan mesin tik.
Terdengar suara heraan napas Rudolf. Lama dia tak lagi mengusik.
"Selama inii bila berada di pantai, dalam benakku Cuma ada satu," gumam Rudolf tiba-tiba. "Saat kita berada di sini. Setahun yang lalu. Apakah kamu masih mengingatnya, Sarah?"
Wajah Sarah pias seketika. Tuhan, inilah yang aku takutkan! Ternyata benar, akhirnya dia akan kembali bergema di rongga telinganya.
Sarah terkesiap waktu itu. Dia sama sekali tak menduga. Sambil menepiskan perasaannya sendiri, Sarah berusaha bersikap wajar. Dia tertawa kecil.
"Oya?" Cuma itu yang keluar dari bibirnya.
"Aku tahu, mungkin kau anggap ini gila. Tapi itulah kenyataannya, Sarah," ucap Rudolf yang sedikit kesal karena kalimat seriusnya dilecehkan. "Aku menyukaimu. Bahkan lebih dari itu, aku menyayangimu!"
Sarah terbelalak. Dia tak bisa lagi berlagak pilon. "Kau? Ah, tidak mungkin, Dolf! That's crazy. Kita baru dua minggu berkenalan."
"Benar. Tapi aku merasa seperti mengenalmu sejak lahir."
"Impossible! Kau belum tahu banyak tentang diriku. Kau belum mengenalku sepenuhnya, kekuranganku, kelebihanku, kejelekan adatku, semua."
"Apapun katamu, aku tetap menyukaimu."
"Kau keras kepala!" Sarah putus asa.
Rudolf tersenyum manis. Dia merangkul bahu Sarah dan berbisik. "Aku ingin dengar bagaimana perasaanmu sendiri padaku, sebelum kepulanganku kembali besok lusa. Kau tinggal jawab ya atau tidak. Supaya aku tahu, di sini, di Indonesia, aku memiliki sekeping cinta."
Wajah Sarah makin pucat. Dia terpojok. Apa yang harus dikatakannya? Berdusta? Mengatakan bahwa dia cuma menganggap Rudolf teman biasa, padahal jauh di lubuk hatinya pun telah tumbuh benih-benih cinta? Dua minggu menemani cowok itu keliling obyek wisata di Yogya dan Jawa Tengah, sanggup menabur rasa suka yang teramat sangat. Tatapan matanya yang teduh, sikapnya yang melindungi, perhatiannya, kemuliaan hatinya, bahkan kesopanannya yang mungkin melebihi cowok pribumi sendiri.
"Sarah!" Rudolf menyibak rambutnya.
"Jangan desak aku, Dolf! Please!" Sarah mengangkat wajah dan menatap cowok itu penuh harap.
Rudolf tertegun. "Maksudmu?"
"Beri aku waktu untuk memikirkannya, ya? Aku tak bisa menjawabnya sekarang."
Rudolf diam. Sarah putua asa. Air matanya merebak saking bingungnya. Suaranya mulai serak.
"Oke, Sarah! Jangan menangis, please! Aku tak tega melihat airmatamu." Rudolf memeluknya. "Aku akan kasih kau waktu untuk memikirkan."
Sarah menghela napas. Berat.
Setelah itu Rudolf pun pulang kembali ke Jerman, meninggalkan kenangan yang teramat manis untuk dilupakan. Sarah sama sekali tak mengira, ucapannya dulu malah jadi boomerang. Tadinya dia mengira dengan kepergian Rudolf, jarak dan waktu yang merintangi mereka akan sanggup menjadi hama wereng yang sedikit demi sedikit membunuh benih-benih kasih di dadanya. Tapi kenyataannya malah sebaliknya.
Hanya sekali Rudolf kirim surat. Waktu mengabarkan dia tiba dengan selamat, dan kembali disibukkan dengan aktivitasnya. Setelah itu lenyap sama sekali.
Entah mengapa Sarah merasa ada bagian dirinya yang hilang. Dia sedih. Apakah Rudolf telah melupakannya? Apakah kisah yang mereka jalin bersama tidak berarti baginya? Sarah kangen. Pada tawanya yang lepas berderai. Pada gaya bicaranya yang khas. Pada tatapannya yang teduh. Pada sikapnya yang lembut. Pada segalanya.
Sarah resah. Kenangan dengan Rudolf mengurungnya dalam kebekuan. Cowok kebule-bulean itu seakan telah mengunci pintu hatinya dan membawa anak kuncinya itu terbang bersamanya, sehingga Sarah tak bisa membuka hatinya untuk cowok lain.
Sedang Rudolf sendiri? Barangkali asyik bersama cewek-cewek bule yang cakep dan lebih agresif. Barangkali dia... Tuhan! Aku cemburu? Sarah mendekap dadanya sendiri. Apakah aku mencintainya?
Sarah menangis ketika menyadarinya. Mengapa aku harus merangkai mimpi yang sangat mustahil ini, Tuhan?
"Sarah," Rudolf menyentuh bahunya lembut. "Kamu ingat apa yang pernah kau ucapkan dulu? Sekarang aku menagih janjimu!"
Sarah menggigit bibir. Tentu saja aku ingat, bisik hatinya. Karena janji itulah, maka aku tidak bisa menikmati kebahagiaan bersamamu seutuhnya. Karena aku yakin, jawabanku akan melukaimu, bahkan melukaipu pula.
"Setelah pulang, aku merenungi kata-katamu. Mungkin kau benar, keputusanku waktu itu terlalu tergesa-gesa. Lalu kuputuskan untuk tidak menghubungimu. Aku coba melupakanmu. Setahun lebih, Sa. Itu bukan waktu yang pendek. Dan selama itu pula aku tersiksa kerinduan yang kian mencekam. Sampai akhirnya aku yakin, aku benar-benar mengasihimu. Ketika libur kusempatkan pergi ke sini. Aku ingin memastikan, apakah hatimu pun untukku, ataukah tidak sama sekali."
Tuhan, Sarah mengeluh. Matanya berkaca-kaca. Ribuan jarum halus mulai menusuki hatinya. Nyeri! Kuatkan hatiku! Pintanya lirih.
"Maafkan aku, Dolf!" Suara serak Sarah penuh getaran. "Aku tak bisa. Ada tirai di antara kita yang sulit untuk tertembuskan."
Tangis Sarah pecah. Rudolf diam mematung. Dia sibuk menenangkan hatinya yang bergolak.
Rudolf meraih kepala Sarah, dan mendekapnya.
"Tak apa, Sa. Kuhargai keputusanmu, walau aku belum bisa mengerti. Jangan menangis!" bisiknya kemudian. Lirih.

***

HIRUK-PIKUK Bandara 'Adisucipto' seakan mengurung mereka dalam kebisuan. Keduanya tenggelam dalam pikiran dan perasaan masing-masing. Mencoba menghayati arti perpisahan kali ini.
"Ridho!"
Panggilan itu mampu menggugah Rudolf. Sedikit terperanjat dan hampir tak percaya pada pendengarannya. Ketika seorang cowok hitam manis menghampiri, baru dia yakin.
Cowok itu meninju bahu Rudolf pelan. "Kamu ada di sini juga, To? Mau balik ke Jerman? Ngapain kamu di sini?" cecarnya membuat Rudolf bingung untuk menjawab.
Cowok itu melirik Sarah yang terbengong-bengong di samping Rudolf. Dia kemudian tersenyum. "Oh, iya. Kamu dulu pernah cerita tentang seorang bidadarimu yang ada di Yogya. Ini to orangnya? Saya Anton, teman kuliah Ridho di Jerman."
Sarah masih kebingungan. Tapi cowok bernama Anton itu sudah menggenggam tangannya. Sedang Rudolf Cuma bisa mendelik.
Tiba-tiba seorang gadis manis menghampiri. Sarah mengenalnya, Yuri teman sekampus, lain fakultas. Mereka sering bertemu di rapat Sema PT.
"Kalo ini bidadariku!" kata Anton memperkenalkannya. "Yuri, kamu masih ingat mahasiswa berdarah gado-gado yang paling suka kumpul sama mahasiswa Indonesia? Nah, ini dia orangnya Ridho alias Rudolf Krecthmer. Kukira dia sibuk rapat di mesjid bersama teman lainnya, ngurus soal Bosnia. Dan ini bidadarinya."
Yuri tersenyum. "Dia teman sekampusku, Sarah."
"Oya! Kebetulan sekali. Mari kita ambil barangku! Kita gabung di sini. Begitu kan, Dho?"
Rudolf mengangguk bodoh. Keduanya kemudian hilang, mengambil barang.
Rudolf melirik Sarah. Gadis itu tertunduk dalam.
"Sarah!" penggilnya sambil mengangkat dagu Sarah. "Kenapa?"
"Ridho?"
"Oh, itu nama pemberian teman-teman setelah aku pulang menyusuri asal-usulku sampai ke Suriah. Ridho Allah, lengkapnya mereka menyebutku setelah memutuskan memeluk Agama Islam. Aku menyukai nama itu. Tapi aku malu untuk mengatakannya padamu. Nama itu terlalu agung untukku."
Air mengalir, menetes di pipi Sarah. "Tuhan, kalau begitu tirai pemisah di antara kita sebenarnya tak ada. Tak pernah ada jurang antara kita!"
"Maksudmu?" Rudolf mengernyitkan kening. Dia berpikir keras. "Jadi kamu mengira kita berbeda hingga ka..."
Sarah mengangguk. Airmatanya makin deras. "Meski aku harus mengingkari kata hatiku sendiri, karena sesungguhnya akupun menyayangimu."
Rudolf memeluk tubuh Sarah erat. "My God!"

***

SARAH baru saja memasang lagu Eric Clapton ke dalam mini componya. Itu kaset Rudolf yang ketinggalan. Cowok itu ngefans sama lagunya dewa gitar itu, maka diputarnya untuk mengusir kangen pada Rudolf.
Yuri masuk. Wajahnya yang suram membuat hati Sarah bertanya-tanya. Sejak kejadian di bandara, keduanya jadi sahabat dekat.
Setelah memencet tombol play dan memutar volume sedang, dia menghampiri Yuri yang sedang duduk di bibir dipan. Mata sahabatnya itu berair. Ada apa gerangan?
"Kenapa, Yur? Wajahmu kok kusut?" tanyanya lembut.
Yuri diam. Dia menatap Sarah tajam. Lalu mendesah. Berat.
Dengan ragu Yuri menyerahkan lembaran Koran Jawa Pos. Dia mengikuti telunjuk Yuri di halaman depan pojok bawah. Tergesa Sarah membaca berita. Tak ada yang istimewa. Cuma tentang seorang pahlawan perjuangan ketika Bandung Selatan menjadi lautan api. Dan seorang pemuda dengan nama yang sama, seorang mahasiswa Indonesia yang belajar di Jerman, sahid di Bosnia bersama beberapa temannya. Beberapa pemuda yang terdiri dari mahasiswa dan pelajar itu bermaksud melakukan penyelidikan di Bosnia-Herzegovina. Mereka diberondong peluru oleh milisi Serbia.
Dada Sarah tiba-tiba berdebar kencang. Dibacanya satu-satu nama pemuda yang menjadi korban penembakan tersebut. Jantungnya nyaris berhenti berdetak ketika menemukan kalimat... serta seorang mahasiswa Jerman keturunan campuran, Rudolf 'Ridho' Kretchmer...
Tubuh Sarah lemas seketika. Dia Cuma bisa merasakan rangkulan Yuri yang begitu erat. "Tadinya aku belum percaya, Sa. Tapi setelah menerima surat Anton, ternyata kabar itu benar..."
Oh! Pandangan Sarah gelap. Dia melihat sosok Rudolf beriringan bersama teman-temannya. Dia menjerit memanggil. Tapi cowok itu cuma menoleh sebentar dan tersenyum, lalu jalan lagi. Sarah lari mengejar. Tapi langkahnya tercegat ketika Rudolf dan kawan-kawannya memasuki sebuah istana yang sangat indah dan megah.
Could you know my name... if I saw you in heaven...
Suara Eric Clapton yang serak penuh haru terdengar lamat-lamat. Sarah menjerit. Bayangan itu lenyap. Yang ada hanya kegelapan yang pekat.[]


Catatan:
Dimuat di Anita Cemerlang Vol. 457 tgl. 11-21 Nopember 1993

Sumber:
https://www.wattpad.com/story/133401489-tears-in-heaven-tamat

Cerpen Lis Maulina: Si Putri Malu

JANTUNG Melati berpacu lebih cepat ketika mereka berhenti di depan pintu sebuah kelas. Seperti kelas-kelas yang lain, kelas ini pun bercat kapur putih, kecuali pintunya yang bercat biru laut dan bingkainya yang berawarna biru tua. Melihat sebuah papan bertuliskan 'II A3.2' di atas pintunya, yakinlah Melati, mereka memang sudah sampai di kelas barunya.
Melati menarik napas panjang. Mencoba menenangkan dirinya yang mulai merasa kebat-kebit, grogi. Dari dalam kelas terdengar suara gaduh yang luar biasa. Maklum, kelas yang tidak ada gurunya, ibarat tikus-tikus yang lepas dari pengamatan kucing! Apalagi ini kelas Sosial. Biasanya memang terdiri dari manusia-manusia yang sulit diatur dibanding jurusan Fisika dan Biologi. Menurut Pak Basuki, guru yang sekarang mengantar sekaligus walikelasnya, di antara dua kelas Sosial lainnya, kelas II A.3.2 memang yang paling sulit diurus.
Melati bertambah grogi mendengar penjelasan tersebut. Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana nanti dia digiring memasuki kelas. Ah, kalau saja boleh memilih, Melati lebih suka tetap tinggal di Samarinda, sekolahnya yang dulu. Bersama teman-teman yang sudah dianggapnya seperti saudara. Lagipula diapun sudah merasa menyatu dengan alunan Sungai Mahakamnya, dengan tetangga dan penduduk lainnya, terutama dengan... Galang.
Alangkah sedihnya Melati ketika diberitahu Papa, mereka sekeluarga harus pindah ke Banjarmasin, karena Papa ditunjuk jadi pimpinan anak perusahaan yang baru di sana. Andai saja bisa, Melati ingin tetap tinggal di Samarinda, numpang di rumah Tante Martha. Tapi tentu Papa Mama tak mengizinkannya.
Papa membujuknya mati-matian. Papa berjanji mencari tempat tinggal yang lingkungannya sama dengan lingkungan mereka tinggal di Samarinda. Yang letaknya strategis, mudah bila mau ke mana-mana, dan rasa kekeluargaannya masih kental dan terasa. Papa juga berjanji memasukkan Melati ke sekolah terbaik di kota ini. Pokoknya Papa berjanji semua akan berjalan seperti ketika mereka di Samarinda. Papa meyakinkannya, dia akan mendapat teman-teman yang sebaik teman-teman lamanya.
Masalah sebenarnya bukan itu. Mereka yang mengenal Melati pasti tahu permasalahan sebenarnya terletak pada Melati sendiri. Dia punya sifat pemalu yang kadang melebihi dosis. Terutama bila menghadapi suasana dan lingkungan baru. Melati agak susah beradaptasi. Dia pendiam bila berada di tengah-tengah lingkungan yang belum dikenalnya, sehingga susah akrab dengan orang.
Karena itulah Melati menjadi cemas bila dia harus memasuki lingkungan yang baru. Kalau di rumah, tidak masalah. Karena dia selalu didampingi papa dan mamanya. Mereka kenalan bersama-sama dengan tetangga di sekitar rumah. Tapi bila ke sekolah, mungkinkah juga dia ditemani papa dan mamanya? Jelas tak mungkin.
"Pokoknya usahakan kamu bersikap sewajarnya," begitu nasihat Papa, Mama, maupun Mas Galang kepadanya. "Jangan menghindari tatapan mereka dengan terus menunduk! Angkat mukamu, dan berikan senyum ramahmu! Jangan terlalu diambil hati guyonan mereka, anggap saja angin lalu! Kalau bisa, tanggapi dengan guyonan juga. Biasa kalau murid baru itu dikerjain terlebih dahulu. Yang penting, kamu kuat mental saja!"
Melati mengomel dalam hati. Iya, ngomong sih enak! Yang ngejalanin setengah mati.
"Lho, kok malah melamun?" Pak Basuki menegurnya sambil mengembangkan senyum bijaknya. "Ayo, kita masuk!"
Melati merasa agak tenang melihat senyum itu. Kayaknya guru-guru di sini memang sama baiknya dengan guru-guru yang dulu. Benar kata Papa kalau begitu.
Pak Basuki mendorong pintu yang tertutup setengahnya. Derit pintu yang pelan itu sanggup menghentikan kegaduhan di dalam. Terdengar derap kaki bercampur gesekan kursi dengan lantai. Pasti anak-anak itu bergegas duduk manis menunggu guru yang masuk.
Melati mengikuti langkah Pak Basuki memasuki kelas. Dia tidak berani mengangkat wajahnya. Ah, persetan dengan segala nasihat mereka! Gerutunya dalam hati. Ketika sosoknya nongol di ambang pintu saja sudah mengundang bermacam komentar yang digumamkan dari berbagai sudut. Membuat kepalanya semakin berat untuk diangkat.
"Pagi, anak-anak!" sapa Pak Basuki sambil meletakkan tumpukan buku di pelukannya di atas meja. Melati berdiri di sampingnya.
"Pagi juga, Pakkk...!" Seperti koor yang tidak ditata rapi, murid-murid menjawabnya. Ada yang sengaja dipanjangkan. Ada yang setengah menjerit. Ada yang memakai suara bas, persis suara monster.
"Hari ini kalian mendapat teman baru," lanjut Pak Basuki.
"Assyiiik! Yang ini, Pak? Bolehlah!" celetuk seorang yang bersuara cempreng.
"Kenalin dong, Pak!" sambut yang lain.
"Iya, Pak! Suruh dia cerita yang puannnjang ... tentang dirinya."
"Benar, Pak. Data-data selengkapnya."
"Iya, Pak."
"Benar, Pak."
Matilah aku! Keluh Melati panik. Inilah saat yang paling dia takuti. Tuhan, kuatkan aku! Menyesal rasanya pernah ikutan menggoda Ambar ketika menjadi murid baru di kelasnya dulu. Mereka memberondong Ambar dengan pertanyaan yang kadang tak masuk akal. Tapi Ambar cukup luwes menghadapinya. Dia menjawab semua pertanyaan dengan jawaban yang tak kalah konyolnya.
Tapi aku bukan Ambar, keluh Melati lagi. Kali ini pasrah bercampur putus asa. Dan aku tidak bisa seperti Ambar.
"Teman-teman memintamu memperkenalkan diri," kata Pak Basuki menggugahnya.
Melati mengangkat muka, menatap wajah guru itu memohon perlindungan. Matanya mengerjap, antara bingung dan panik. Tapi Pak Basuki malah mengangguk, membuatnya tak berkutik. Hanya tatap mata arif lelaki setengah baya itu memberi sedikit kekuatan untuknya. Dia yakin Pak Basuki tidak akan membiarkan dia dipecundangi teman-teman barunya ini.
"Nam .. ma saya Melati," ucap Melati dengan bisikan yang tergagap.
"Hahhh? Apa?"
"Kamu dengar, Di?"
"Tauk! Belati 'kali!"
"Masak? Bukannya Bambang?"
Celetukan-celetukan lain terus keluar di sela-sela tawa yang bergema memenuhi seisi kelas.
"Aduh, Pak! Nggak kedengaran," protes seorang cewek.
"Iya. Abis dia menghadap Bapak aja, sih. Nggak mau liat kita."
"Iya, ya. Padahal kita kan lebih manis-manis daripada Pak Basuki."
Pak Basuki mengulum senyum mendengar celoteh muridnya. Dia memandang Melati dan dengan isyarat menyuruh Melatibicara menghadap teman-temannya.
Ingin rasanya Melati pingsan saja saat itu. Supaya terbebas dari keadaan yang sangat menyiksa ini. Tapi apalah dayanya? Akhirnya dia hadapkan juga wajahnya ke arah teman-temannya. Menguatkan diri untuk memandangi mereka. Kebanyakan mereka cengar-cengir menggoda. Beberapa anak cewek berusaha menyembunyikan tawa. Ada juga yang diam dengan tatapan yang lebih mengandung simpati.
"Nama saya Melati Sri Rezeki," Melati mengeraskan suaranya."Ohhhhh? Melati, tho?" Kembali jawaban mereka seperti koor.
"Saya dari Samarinda," lanjutnya.
"Ah, masak? Bukannya dari Jayagiri?" celetuk cowok yang duduk di pojok kanan paling belakang. Dari suaranya yang cempreng, Melati tahu dialah yang paling sering nyeletuk tadi. Dari wajahnya kelihatan dia memang agak bandel.
Suara tawa bergemuruh lagi menyambut celetukannya. Wajah Melati menghangat.
Dari pojok kiri terdengar teriakan bernada girang, "Ih, pipinya memerah, nek!"
"Ih, iya!" sahut yang di depannya. "Dia tersipu."
"Tapi malah tambah manis, ya?" Kembali si cempreng bersuara.
Wajah Melati semakin terasa panas. Telinganya seperti terbakar. Dia bisa membayangkan bagaimana warna wajahnya sekarang. Ya, Tuhan! Jangan biarkan mereka terus menggodaku, doanya dalam hati.
"Wah, pantasnya sih, namanya bukan Melati, tapi Putri Malu."
Untung Tuhan mendengar doa Melati. Pak Basuki mengangkat tangannya, menenangkan kelas yang semakin gaduh.
"Cukup, anak-anak!" katanya lantang, sarat wibawa. "Kita mulai belajar."
Desahan kecewa terlontar dari beberapa mulut yang tidak puas dengan keputusan Pak Basuki. Sedang Melati memandang guru itu penuh terimakasih.
"Kau boleh duduk, Melati!" suruhnya kepada Melati. "Nana, ajak Melati duduk di sampingmu!"
Seorang cewek manis berponi yang duduk sendiri di bangku barisan ketiga mengangguk. Dia tersenyum kepada Melati, dan menggeser duduknya ke dekat jendela.
"Yah, Pak! Perkenalannya kan belum selesai." Lagi-lagi si Cempreng mengajukan protes ketika Melati duduk di samping Nana.
"Sudah cukup! Yang lain-lain bisa kalian tanyakan di luar jam pelajaran."
Tak ada yang berani protes lagi. Pak Basuki membuka bukunya, melihat pelajaran terakhir. Kemudian memulai tanya jawab sebelum melanjutkan pelajaran.
Baru Melati bisa bernapas lega. Walau kecemasan itu belum hilang, karena penggojlokan mungkin belum lagi berakhir sampai di sini.
Benar dugaan Melati, ketika lonceng istirahat berdentang, seluruh penghuni kelas menghambur ke arahnya. Berebut mengulurkan tangan dan menyebut nama masing-masing ditambah embel-embel konyol. Melati bingung menyambutnya. Apalagi secara sengaja, yang sudah salaman pun mengulurkan tangan lagi, lagi dan lagi. Hingga seakan penghuni kelas ini tak ada habisnya.
Kali ini Nana yang menyelamatkannya. Teman sebangkunya itu kasihan melihat Melati kebingungan. Tangan Melati digandengnya, dan diseretnya dengan paksa menjauhi tempat itu.
Tentu tindakan Nana mendapat protes keras. Tapi Nana cuek. "Melati mau kuantar ke Koperasi, beli emblem, lokasi, dasi, dan seragam olahraga," jawabnya berkilah.
Nana mengajak Melati berkeliling lingkungan sekolah. Semula memang ke ruang Koperasi, membeli barang-barang yang diperlukan Melati, kemudian Nana memperlihatkan ruang-ruang lainnya; perpustakaan, lab Biologi, lab Fisika, lab Bahasa, ruang Osis, ruang PKK, bahkan ke kantin segala.
Di kantin itulah Melati bertemu Etha, teman SMP-nya. Hampir saja dia lupa. Temannya itu tambah manis dan tinggi. Untung Etha membantu dengan tawanya. Tawa khas itu yang mengingatkan Melati. Mereka kemudian asyik bercerita, mengenang nostalgia selama SMP. Setelah lulus SMP, Etha melanjutkan ke SMA ini, kembali ikut orangtuanya. Waktu di Samarinda Etha ikut neneknya.
Melati senang sekali. Sekarang dia benar-benar merasa lega. Dia telah mendapat dua teman baik. Nana, teman sebangkunya dan Etha, teman lamanya yang ternyata satu SMA, walau lain kelas. Etha di Biologi. Tapi Melati merasa optimis, karena dua temannya ini pasti akan mau membantunya beradaptasi dengan lingkungan sekolah ini.

***

MELATI dan Nana sedang meneguk es jeruknya yang terasa segar setelah berolahraga, ketika Etha menghampiri mereka dengan seorang cowok cakep. Melati agak tersipu menyadari siapa cowok itu. Dia yang memperhatikannya diam-diam dari ruang Osis, ketika kelas mereka main basket di lapangan.
"Ini Han, Mel, Ketua Osis," ujar Etha memperkenalkan. "Dan ini Melati yang kuceritakan itu, Han."
Melati memandang Etha tak mengerti. Kenapa Etha harus menceritakan dirinya kepada Han? Sedang Nana cuma mendengarkan sambil menikmati bakso yang mereka pesan.
Etha tertawa melihat mimik Melati. "Aku memang cerita tentang kamu pada Han. Soalnya, dia sedang bingung mencari pemain basket yang dapat diandalkan. Aku ingat, waktu SMP kamu kan jago main basket."
"Benar, Mel. Sebab beberapa bulan lagi akan ada kompetisi-kopetisi basket yang lumayan penting; Walikota Cup, Sumpah Pemuda competition, dan lain-lain. Tahun lalu, regu basket sekolah kita, terutama putrinya, adalah regu yang diperhitungkan. Beberapa gelar juara kita rebut. Tapi akhir-akhir ini prestasi tim putr1 menurun, karena sebagian pemain andalan lulus tahun lalu. Sedang pemain baru belum mampu menggantikan mereka. Kualitas permainan masih jauh di bawah standar," jelas Han panjang lebar.
"Lalu kuusulkan pada Han untuk mengajakmu bergabung. Kukatakan, kamu jagoannya three points ketika SMP dulu," sambung Etha.
Melati tersipu. "Ih, Etha bisa saja! Dia terlalu melebih-lebihkan."
"Ah, tidak! Etha benar. Saya sudah melihat sendiri kemampuanmu tadi. Permainanmu cukup memukau. Padahal saya tahu kamu belum mengeluarkan seluruh kemampuanmu."
Melati makin tersipu mendengar pujian cowok itu.
"Kamu mau bergabung kan, Mel?" desak Etha setengah memaksa.
Melati akhirnya mengangguk setuju.

***

SEJAK itu Melati ikut latihan basket bersama Etha dua kali seminggu di lapangan basket sekolah. Rabu sore jadwal latihan khusus untuk putri. Sedang Jumat sore untuk gabungan putra-putri. Kalau hari Minggu pagi, setelah jogging latihan fisik. Kadang latihan ditambah porsinya menjelang kompetisi.
Semula Melati tidak mengalami kesulitan sama sekali. Semua berjalan mulus. Teman-temannya baik. Mereka menerima kehadiran Melati dengan tangan terbuka. Malah mengagumi permainan Melati, dan mengakui kehebatan Melati yang setingkat di atas mereka.
Padahal Melati sempat mencemaskan adanya iri atau dengki yang timbul karena kehadirannya. Sebab pasti ada satu dua orang yang kedudukannya digeser Melati dari regu inti. Namun kecemasan itu tidak terjadi. Mereka cukup lapang dada menerima segala keputusan yang ditetapkan pelatih. Mereka bahkan mau belajar kepada Melati untuk meningkatkan kemampuan bermain mereka.
Semua berjalan lancar. Mulus tanpa hambatan. Tapi benarkah selalu demikian? Ternyata tidak.
Masalah itu baru terasa setelah beberapa bulan berjalan. Datangnya dari salah seorang teman Melati, sesama pemain basket. Tapi bukan pemain yang tersingkir dari regu inti. Bukan. Justru rekannya di regu inti, sama-sama pemain andalan, yakni Saskia.
Melati sendiri lupa sejak kapan Saskia mulai bersikap sinis padanya. Padahal mulanya dia merasa biasa saja. Sikap Saskia ketika menyambutnya sama ramahnya dengan teman-teman lainnya. Kenapa sekarang berubah? Dia seakan selalu berusaha mencar-cari kesalahan Melati. Dan apabila menemukannya, kesalahan itu dibesar-besarkannya dengan selalu mengungkitnya.
Suatu saat, ketika mengadakan latih tanding setelah latihan, Melati dan Saskia tergabung dalam satu regu. Melawan Etha dan cs-nya. Kalau Melati melakukan kesalahan, Saskia memarahinya habis-habisan, seakan dia melakukan kesalahan yang teramat fatal dalam pertandingan vital. Gerutuannya selalu terdengar sepanjang bermain.
Kejadian seperti itu berulang dua tiga kali. Untuk yang ketiga kali, Saskia tak pernah lagi mau satu regu dengan Melati bila latih tanding tiba. Dia pasti memilih jadi lawan Melati. Dan kalau sudah begitu kejadiannya, Saskia tak segan bermain kasar. Berkali-kali Melati kena sikut, didorong, dipepet, bahkan pernah ditendang tulang keringnya. Kelihatannya seperti tidak sengaja, namun dari tatap sinis Saskia, Melati menangkap adanya unsur kesengajaan.
Melati benar-benar tak habis pikir, mengapa Saskia kelihatan begitu membencinya. Dia tak merasa pernah melakukan kesalahan yang menyakitinya. Melati malah berusaha bersahabat dengannya. Bukankah Saskia dulu begitu juga? Bahkan Saskia pernah berjanji, mereka akan jadi partner yang baik di lapangan, yang akan mengobrak-abrik pertahanan lawan. Sekarang kenapa berbalik seratus delapan puluh derajat? Saskia sangat antipati padanya.
"Dia cuma merasa tersaingi dengan kehadiranmu," kata Etha ketika dimintai pendapatnya.
Namun Melati tidak sependapat. Kalau memang merasa tersaingi, kenapa bukannya dari dulu Saskia bersikap sinis? Kenapa kebencian itu baru diperlihatkannya sekarang? Dulu Saskia malah baik dan amat bersahabat.
Tidak! Melati yakin ada sebab lain. Mungkin dia telah melakukan kesalahan yang menyakiri Saskia tanpa dia sadari. Tapi apa? Melati benar-benar tak tahu. Sedang Saskia sendiri selalu menghindari orang lain yang membicarakannya.
Melati semakin tak enak hati. Apalagi persoalan ini terus berlangsung sampai adanya kompetisi bola basket se SLTA Walikota Cup. Pada penyisihan pertama, dia dan Saskia diturunkan bersama-sama. Baru menit-menit pertama Melati melakukan satu kesalahan. Bukan kesalahan fatal sebenarnya. Tapi sakia mencak-mencak nggak karuan. Akhirnya terpaksa Mas Yos, pelatih mereka menarik keluar Melati untuk menjaga kekompakan tim.
Sejak saat itu, entah atas inisiatif Mas Yos sendiri, ataukah atas permintaan Saskia, mereka tidak pernah lagi turun bareng di pertandingan berikutnya. Kalau Saskia yang turun, Melati nonton di bangku cadangan. Sebaliknya bila ingin memasukkan Melati ke lapangan, Saskia mesti ditarik keluar dulu.
Alangkah tidak mengenakkannya keadaan seperti itu. Tim mereka jelas kehilangan kekompakan. Dan Melati sadar, dia berada pada posisi tidak menguntungkan. Masalahnya dialah yang pendatang, yang menjadi orang baru dalam tim. Sedang Saskia sudah sejak kelas satu menjadi anggota regu inti. Mas Yos dan teman-teman lain pasti lebih memihak Saskia.
Melati kemudian mengajukan permohonan mengundurkan diri dari regu inti. Tapi di luar dugaan, semua menolak permohonannya. Mas Yos, Etha, dan beberapa teman tidak menyetujui gagasan itu. Apalagi Han. Cowok itu mentah-mentah menolak dan membantah. Katanya pengunduran diri Melati bukan memecahkan masalah, malah menambah masalah.
"Benar, Mel," kata Mas Yos mendukung pendapat Han. "Kalau kamu mengundurkan diri, regu kita akan kehilangan asset yang dapat diandalkan. Terus terang, di antara seluruh anggota regu, kamu dan Saskia yang punya potensi paling besar. Andai dua potensi itu disatukan, pasti menghasilkan kekuatan yang maha dahsyat. Kalian mempunyai kelebihan masing-masing yang saling mendukung. Apabila salah satu dari kalian keluar, akan terjadi ketimpangan."
"Tapi kalau kenyataannya kami selalu turun sendiri-sendiri, apa gunanya, Mas?" tanya Melati putus asa.
"Kita cari lagi jalan keluar yang paling bijaksana. Kita selidiki masalah apa sebenarnya yang ada di balik sikap Saskia."
Mereka memang terus berusaha. Namun waktu juga terus berpacu. Babak penyisihan bisa mereka lewati dengan mulus. Babak perempat final dan semifinal beruntung juga bisa mereka lalui, walau harus dengan perjuangan keras. Sekarang final sudah di depan mata, dua hari lagi. Tapi mereka belum juga menemukan jalan keluar terbaik. Ini jelas akan menguntungkan pihak lawan yang juga punya kekuatan yang tidak bisa diremehkan.
Sampai kedatangan Etha yang tiba-tiba, dua hari sebelum pertandingan puncak. Dia membawa berita yang cukup mengejutkan Melati.
"Aku tahu mengapa Saskia bersikap begitu padamu," katanya dengan napas terengah. "Saskia mau juga bercerita setelah kupaksa. Dia benar cemburu padamu, karena..."
"Merasa kehebatannya kusaingi?" potong Melati.
"Bukan! Karena Han lebih memperhatikanmu."
Melati terbelalak. Dia sama sekali tidak menyangka kalimat yang akan diucapkan Etha. "Hah? Apa?"
"Iya. Diam-diam Saskia menyukai Han." Etha mengangguk mantap.
Melati menepuk jidatnya sendiri. Huh, Tuhan! Mengapa aku begitu buta? Pantaslah kalau itu persoalannya. Han, Ketua Osis sekaligus Kapten Regu Basket Putra itu memang sangat memperhatikannya. Cowok itu beberapa kali menjemputnya latihan, apabila Etha tidak bisa menjemputnya. Juga selalu menawarkan mengantarkannya pulang. Namun sering Melati menolak, kecuali latihan mereka berakhir menjelang Magrib, baru diterima. Juga perhatian-perhatian lainnya, yang menandakan begitu pedulinya cowok itu kepadanya. Tak jarang membuat Melati jengah sendiri.
"Sebelum kedatanganmu, Saskia dan Han memang pernah dekat. Perhatian-perhatian Han dulu menjadi miliknya sebelum beralih padamu."
Melati menarik napas dalam-dalam. "Tapi kami cuma berteman."
"Masak?" Mata Etha menggoda.
"Sungguh!" tegas Melati. "Bagiku Han sekedar teman biasa."
"Saskia tidak percaya. Menurutnya, kamu memberi harapan pada Han."
"Dia tahu dari mana?""Katanya, kamu kelihatan malu-malu kucing menerima perhatian Han."
"Astaga, Etha!" Melati mencengkeram kuat bahu Etha, agak mengguncangnya. "Tidakkah kau jelaskan padanya, sejak dulu aku memang begitu? Tidakkah kau katakana, aku memang pemalu sejak lahir? Tidakkah kamu ceritakan, semua yang mengenalku sepakat menyebutku 'Si Putri Malu'? Jadi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Han. Sama sekali tidak."
Etha terdiam, memandang wajah Melati lekat. Lalu bibirnya mengukir senyum. Melati tersipu melihat senyum yang mengandung godaan itu.

***

MELATI baru datang ketika pertandingan hampir mulai. Semua menunggunya gelisah di kamar ganti. Mereka baru lega ketika sosok Melati berlari kecil masuk.
"Maaf, saya terlambat!" Melati menjelaskan sebelum ditanya. "Habis, sengaja menunggu suporter khusus dari Samarinda."
Tiba-tiba muncul sosok lain di belakang Melati. Seorang cowok kece bertubuh atletis dan berwajah tampan. Tersenyum manis sambil merangkul bahu Melati.
"Hai, saya Galang. Si Melati manja memaksa saya jadi suporternya. Jadi, saya bela-belain datang. Untung kuliah libur dua hari. Kalau tidak terpaksa bolos. Demi..." katanya sambil tertawa kecil.
Semua tertegun. Mereka sama sekali tidak menyangka adegan yang disuguhkan. Berganti-ganti memandang Melati dan Galang.
"Mas kakaknya Melati atau..." Etha bertanya ragu.
"Kakak ketemu gede," jawabnya konyol sambil melirik mesra Melati. "Kenapa? Kalian terkecoh pada Melati yang kayaknya malu-maluin ini, ya? Huh, padahal dulu dia yang ngejar-ngejar, lho!"
Melati langsung mencubit lengan Galang dengan gemas.
Keterpanaan mereka tergugah ketika suara di speaker menyuruh regu yang akan bertanding bersiap. Semua kembali pada kesibukan semula. Dalam kesibukan Saskia tiba-tiba mengampiri Melati, dan berbisik. "Maafkan aku, Mel! Tadi aku minta Mas Yos untuk menurunkan kita bersama-sama. Eh, cowokmu cakep juga, ya?"[]


Catatan:
Dimuat di Anita Cemerlang Vol. 527 tgl. 16 – 26 Nopember 1995

Sumber:
https://www.wattpad.com/story/90529314-si-putri-malu-tamat

Cerpen Lis Maulina: Jerat-jerat Cinta

SEORANG wanita setengah baya sedang menyapu halaman. Mengumpulkan daun-daun kering yang berjatuhan ditiup angin. Asyik sekali tampaknya, sampai tidak menyadari kehadiran Dinda.
"Kulonuwun!" salam Dinda sambil mendorong pintu pagar bambu.
Wanita itu serentak mengangkat wajahnya. Keningnya berkerut. "Siapa, ya?" gumamnya.
Dinda melangkah mendekati. Sepatu ketsnya yang menggilas kerikil menimbulkan suara rame. Dia tersenyum.
"Bu Nur lupa sama saya?"
Wanita itu diam. Dia coba mengingat-ingat. Lalu tiba-tiba menepuk dahinya sendiri. Sapu lidi di tangannya terlepas begitu saja.
"Eaaalahhh... ! Nak Dinda, too? Adiknya Nak Ayu?"
Dinda mengangguk. "Tepat sekali, Bu. Masak ibu lupa, sih?"
"Ah, tidak, Nak! Ibu tidak lupa. Cuma heran saja." Bu Nur memandang Dinda dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas.
Dinda langsung menyadari keadaan dirinya. Dia ngacir dari Solo ke Yogya ini dengan seragam sekolah lengkap. Pasti itu yang membuat Bu Nur keheranan.
"Maaf, Bu. Ayunda ada?" tanya Dinda cepat, sebelum Bu Nur duluan mengajukan pertanyaan yang akan sulit untuk dia jawab.
"Oh, ada! Kebetulan sekali sudah pulang. Kalo biasanya sih masih di kampus. Tapi hari ini, baru saja pulang."
"Jodoh 'kali, Bu," sahut Dinda tertawa.
Bu Nur ikut terkekeh, memamerkan gigi-giginya yang tak utuh lagi. Dinda makin geli melihatnya.
Sambil terus terkekeh Bu Nur membalikkan tubuhnya. Dari gerakannya, Dinda bisa menduga, pasti Bu Nur berniat memanggil Ayunda. Maka cepat-cepat dia meraih lengan Bu Nur.
"Nggak usah dipanggil, Bu!" cegah Dinda. "Kalo boleh, biar saya saja yang masuk! Saya ingin memberi kejutan pada Yunda."
"Oh, tentu boleh," sahut Bu Nur cepat. "Nak Dinda masih ingat letak kamarnya, kan?"
"Iya, Bu. Permisi!"
Dinda melangkah memasuki rumah lumayan besar di hadapannya. Maklum, penghuni rumah itu cukup banyak. Sebagian besar anak-anak kos. Sedang Bu Nur cuma ditemani Sumi, keponakannya yang membantu mengurus rumah kos ini. Sedang anak-anak Bu Nur sendiri sudah menikah dan tinggal di berbagai kota.
Yunda beruntung mendapat induk semang sebaik Bu Nur, pikir Dinda. Orangnya ramah, pengertian, dan bijaksana. Mana rumahnya enak lagi. Dirawat dengan sungguh-sungguh. Lihat saja halamannya yang penuh dengan bermacam jenis tanaman yang teratur rapi!
Dinda menghentikan langkahnya tepat di depan pintu sebuah kamar paling ujung. Sayup-sayup terdengar suara Michael Bolton berkumandang ditemani saxophone "Don't make me wait for love". Sedang kamar-kamar lain senyap. Mungkin, yang lain kuliah.
Tanpa sadar Dinda tersenyum. Alangkah bedanya suasana kamar kakaknya ini dengan kamarnya sendiri di rumah. Yah, walau terlahir dari rahim dan benih yang sama, dia dan Ayunda berbeda. Ayunda lebih suka mendengarkan lagu-lagu manis dan romantis. Mencerminkan wataknya yang lembut, kalem, anggun, dan penyabar. Beda dengan Dinda. Kamarnya selalu semarak dengan musik-musik cadas milik Bon Jovi, Metalica, Gun 'n Roses, dan lain-lainnya sebagai lukisan sifat tomboy, keras kepala, egois, dan sedikit manjanya. Maklum, dia putri bungsu kesayangan keluarga.
Sedang apa ya Yunda di dalam? Pikir Dinda lagi. Mengkhayal? Melamun? Merenung? Membaca? Belajar? Dinda mengingat-ingat kebiasaan kakaknya bila sedang sendirian di kamar.
Pelan-pelan Dinda mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Dinda mengetuk lebih keras lagi. Masih tak ada jawaban. Sekali lagi...
"Ya, masuk! Nggak dikunci, kok." Terdengar sahutan dari dalam. Suara itu amat dikenalnya. Siapa lagi punya suara semerdu dan selembut itu selain kakaknya tercinta?
Dinda memutar handel pintu. Benar, pintu langsung terbuka. Dia masuk tiga langkah, dan menunggu.
"Ada apa?" tanya Ayunda tanpa membalikkan badannya. Dia duduk di meja belajarnya membelakangi Dinda. Di meja dan sekitarnya penuh dengan berbagai jenis dedaunan.
Dinda terkikik geli. Dasar calon insyinyur pertanian!
Mendengar suara khas itu, tiba-tiba Ayunda berbalik. Dia terbelalak melihat cocok Dinda yang tegar berdiri di depan pintu. Tawa Dinda makin keras melihat mimic kakaknya sedikit bingung campur kaget.
Tapi ini bukan pertama kali. Sering malah kakaknya itu dibuat bingung, kaget, dan tak berdaya oleh ulah Dinda. Demikian juga almarhumah Mama, sering senewen menasihatinya. Cuma Papa tampak santai. 'Kali beliau sadar, kebengalan Dinda diwarisi dari dirinya. Kalo Yunda, banyakan nurunin sifat-sifat Mama.
"Kinoi, kamu..." Yunda bangkit. Dia langsung menjitak sayang kepala Dinda. Mengacak-acaknya dengan gemas. "Apa-apaan kamu, Noi?"
Dinda memeluk kakaknya penuh rindu. Ayunda balas memeluknya. Lama.
Tiba-tiba saja Dinda merasakan keharuan bergolak di balik dadanya. Ingin rasanya dia menangis. Beban yang selama ini memepatkan benaknya dan menyesakkan dadanya seakan luluh dalam kehangatan pelukan kakaknya yang penuh kasih.
Dulu, ketika Mama masih ada, cuma kelembutannya yang mampu mengendalikan kebandelan Dinda. Kesabaran Mama mampu melumerkan kekerasan hatinya. Tatapan Mama yang sejuk mampu meredakan gejolak perasaannya.
Setelah Mama tiada, perannya digantikan Ayunda. Kakaknya itu benar-benar duplikat Mama. Tidak cuma wajahnya, tapi juga sifat dan wataknya. Sehingga Dinda tidak sempat merasakan kehilangan yang teramat karena Ayunda memerankannya dengan nyaris tanpa cacat cela.
Ketika Ayunda harus pergi, meneruskan kuliah di Yogya, barulah Dinda merasakan kehilangan pegangan.
"Yogya-Solo seberapa jauh sih, Noi? Tiap minggu aku juga pulang. Atau kalau tidak, kau yang menjengukku di sana," hibur Ayunda.
Memang, Ayunda selalu berusaha menepati janjinya. Tapi waktu satu minggu cukup untuk membuat cerita yang akan dikisahkannya pada Ayunda basi. Persoalan akan keburu memuncak bila menunggu Ayunda pulang ke rumah dulu. Segala saran dan nasehat takkan ada gunanya lagi bila peristiwanya sudah berlalu.
Untunglah, hal itu tidak berlangsung lama, karena kemudian muncul Intan. Anak baru itu sejak mula sudah menarik perhatian Adinda karena sifat dan pembawaannya mirip Mama dan Yunda. Dan benar saja, Intan bisa menjadi sahabat Adinda yang setia, pengganti Mama dan Yunda. Temannya berbagi cerita, suka dan duka. Temannya dalam menghadapi segala persoalan, minta pertimbangan dan saran.
Kehadiran Intan, sungguh berarti bagi hidup Dinda. Tapi...
Ah! Dinda mengeluh. Mengingat Intan bagai menusuk-nusukan pisau ke dadanya sendiri. Sakit! Nyeri! Pedih!
Kalau persoalan yang tengah dihadapinya kini berkaitan dengan Intan, kepada siapa lagi dia harus mengadu? Pada Papa? Mana mungkin Papa punya waktu memikirkan persoalannya. Kasihan, problem beliau sendiri sudah banyak. Sedang untuk memecahkannya sendiri, dia rasa belum sanggup.
Kalo menurutkan hati, Dinda pasti mengumbar emosi. Dan dia yakin hasilnya bukan baik, tapi tambah runyam. Sekarang dia butuh seseorang untuk memberikan pertimbangan. Dia butuh dukungan dan saran.
Makin lama terbelit persoalan, Adinda makin tak sanggup berkelit. Dia tak mampu lagi menahan gejolak perasaan. Dia tak sanggup lagi untuk bertahan. Dia pun nekat untuk mengabil keputusan, lari menghindarkan diri dari kenyataan.
Ayunda merasakan bahu adiknya berguncang dalam pelukannya. Ada isak tersimpan dalam guncangan itu. Dia merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Adinda yang sudah basah bersimbah air mata dengan penuh tanda tanya.
"Adin, ada apa?" tanya Ayunda. Dia tidak lagi memanggil Adinda dengan panggilan manja 'Kinoi'.
Adinda membuang muka, menghindari tatapan kakaknya.
Ayunda mengambil dagu adiknya, memaksa untuk terus memandangnya. "Adin punya masalah?" tanyanya lembut sambil merapikan anak rambut di dahi Adinda.
Adinda melepas pelukan kakaknya. Dia melemparkan tasnya. Lalu dia pun melemparkan tubuhnya di atas tempat tidur yang tertata rapi. Memeluk guling erat-erat. Menutup mata rapat-rapat.
Ayunda menghela napas. Dia mengerti, tak mungkin memaksa Adinda bicara saat ini. Dia pun kembali ke mejanya, menyelesaikan tugas laporan praktikum.

***

"KALO kita punya sahabat, terus sahabat kita itu senang sama cowok, tapi kita tahu cowok itu tukang bo'ong. Kita bilangin nggak sama sahabat kita?" Adinda memulai ceritanya.
"Iya. Harus, dong!" sahut Ayunda cepat. "Sebelum segalanya terlanjur, kita harus mencegahnya lebih dulu!"
Adinda menghela napas. Berat sekali tampaknya.
Ayunda mengerutkan kening. Dia mulai berpikir dan menebak-nebak arah pembicaraan Adinda.
"Intan?"
Dinda menatap wajah kakaknya sendu. Dia tak pernah bisa menyembunyikan apapun dari Yunda. Lemah dia mengangguk.
"Itulah kesalahanku yang utama, Nda. Ketika cowok itu mendekati Intan, mestinya Adin memperingatkannya. Tapi Adin cuma tutup mulut. Abis Adin nggak tega, Intan kayaknya sangat menyukainya. Dia kelihatan bahagia. Adin nggak sampe hati ngerusak kebahagiaan itu. Adin cuma bisa berdoa, semoga cowok itu telah insyaf dan benar-benar menyayangi Intan dengan tulus. Tidak cuma ingin mempermainkannya.
Tapi harapan Adin tidak dikabulkan. Cowok itu meninggalkan Intan. Menggoreskan luka dalam hatinya yang polos. Intan guncang. Untung saja Adin berhasil mengobarkan kembali semangat. Karena Adin merasa menyesal, Adin merasa berdosa. Adin merasa turut andil dengan terlukanya Intan."
Adinda terdiam. Mengambil gelas tehnya, dan meneguknya. Mungkin dia merasa tenggorokannya kering.
"Kini, setelah luka Intan mulai sembuh, cowok itu kembali datang dengan topeng kepalsuannya. Dia kembali mendekati Intan berbekal sejuta kata maaf dan sesal. Nggak salah kan bila kali ini Adin mati-matian memperingatkan Intan? Adin nggak mau untuk kedua kalinya cowok itu melukai Intan. Tapi kayaknya Intan sudah terbius kata-kata berbisa cowok itu. Dia terlanjur menyukai cowok itu. Dia lebih mempercayai kata-kata cowok itu daripada Adin.
Bahkan ketika tersebar fitnah, Adin menghalangi hubungan Intan dengan cowok itu karena Adin juga menyukai cowok itu, Intan percaya saja. Ah, Yunda! Bisa bayangkan gimana perasaan Adin? Maksud baik Adin malah dibalas prasangka buruk yang menyakitkan."
Ayunda melangkah mendekati adiknya. Dia duduk di sampingnya. Dipegangnya bahu Adinda dengan hati-hati. Dia lihat mata itu berkaca-kaca. Dia pun mengerti, di balik kaca bening itu tersimpan gejolak perasaan yang sulit dikendalikan. Itulah adiknya, sangat emosional.
"Apakah Adin yakin cowok itu akan kembali melukai Intan? Apakah tidak mungkin cowok itu benar-benar insyaf dan menyesali kesalahannya? Bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Pasti ada salah dan khilafnya. Intan benar, ingin memberi kesempatan pada cowok itu untuk memperbaiki kesalahannya."
Adinda berbalik, balas menatap Ayunda. Matanya menyala tanda menyimpan amarah dan dendam. Kelihatanlah watak asli Adinda.
"Maaf? Insyaf?" Adinda tersenyum sinis. "Adakah kata-kata itu mempunyai arti bila diucapkan oleh seorang Yoga?"
Ayunda terkesiap. Dia sama sekati tidak menduga jawaban Adinda. "Yoga?"
"Yah. Yoga Pradipa. Yunda masih ingat? Cowok itu yang dulu merebut perhatian Yunda dariku. Yang membuatku merasa tersisih dan tak lagi dipedulikan. Cowok yang akhirnya menghempaskan cinta pertama Yunda yang tulus dan polos dengan kejam. Dia berpaling pada gadis lain."
Ayunda mengerjap. Gambar-gambar masa lalu bagai slide yang berputar-putar di benaknya.
"Cowok yang membuatku harus rela melepaskan kepergian Yunda ke Yogya, karena harus mengobati hati yang terluka." Adinda bangkit dengan sangar. "Cowok itu melukai dua orang yang teramat kusayangi, Yunda dan Intan. Sekarang, haruskah kubiarkan dia melakukannya lagi kepada Intan?"
Ayunda tertunduk. Dia sibuk memadamkan bara yang terpercik di dadanya sendiri. Dendam lama itu bagai kembali tersulut. Luka itu kembali terasa nyeri. Tuhan, sekarang apalah bedanya lagi aku dengan Adinda bila tak sanggup memaafkan? Keluhnya.

***

"MAU ke mana, Yunda?"
"Pulang. Kangen sama Papa."
"Yunda!" keluhan lemah itu membuat Ayunda berpaling menatap Adiknya yang terduduk lesu.
"Persoalan justru bertambah parah bila kau terus di sini, Adin. Persoalan tidak akan selesai dengan melarikan diri dari kenyataan. Kamu harus hadapi semua ini. Pulang, dan jernihkan masalahmu dengan Intan. Yunda yakin, Intan pasti bisa mengerti. Dia sahabatmu. Paling tidak, kalian punya hubungan batin. Dia pasti percaya pada Adin."
Adin makin dalam tertunduk. "Tapi Adin nggak tahan mendengar fitnah-fitnah itu, Yunda. Telinga Adin sakit mendengarnya. Setiap mata yang memandang penuh tuduhan dan prasangka."
Ayunda merangkul adiknya.
"Justru akan lebih parah bila kamu terus menghilang begini. Mereka pasti akan menduga tuduhan itu benar. Lain kalau kau hadapi dengan tegar, Adin. Mereka pasti akan berpikir lagi akan kebenaran semua itu." Yunda membelai rambut Adinda penuh kasih. "Pulang ya, Noi!"
Adinda mengangguk lemah. Dia tak kan mampu membantah kakaknya kalau sudah begini. Lagipula Yunda benar, dia tak mungkin terus bersembunyi.

***

ADINDA mengumpat dalam hati. Darahnya mendidih sampai di kepala. Orang yang sangat dibencinya itu kini malah menghadang langkahnya. Ingin rasanya dia menampar mulut yang terlalu pintar mengumbar kata-kata itu. Ingin rasanya dia lari meninggalkannya. Tapi rasa ingin tahu yang besar menahan langkahnya.
"Mau apa?" tanyanya ketus.
Cowok itu, Yoga tersenyum-senyum. Membuat Adin makin muak melihatnya.
"Aku tahu kamu marah padaku, Adin. Tapi justru itulah, kita mesti membicarakan masalah ini agar jelas."
"Kalau begitu, bicaralah!"
"Di tempat ini? Ah, tidakkah lebih baik kita mencari rumah makan? Kita bisa bicara sambil makan siang."
"Aku tak punya banyak waktu. Keluargaku menungguku makan siang. Tak perlu bertele-tele. Di sini juga tak banyak orang. Semua teman sudah pulang."
"Tapi..."
"Atau aku akan pulang!"
"Tunggu, Adin!" cegah Yoga cemas. "Oke, kita bicara di sini. Tampaknya kamu benar-benar marah padaku."
Adin mendengus. Dia menunggu dengan tidak sabar. Sedang Yoga kelihatan sedikit gugup. Dia mencoba menenangkan dirinya dengan menyandarkan punggung ke pintu Forsa putihnya.
"Aku... aku heran Adin, kenapa kau keliatan sangat membenciku. Padahal aku sendiri sebenarnya... suka padamu."
Bagai mendengar bom di siang bolong, Adin sangat terperanjat mendengar kata-kata Yoga. Wajahnya langsung membara. Merah padam.
Yoga mengira warna merah di wajah Adin karena tersipu meneruskan. "Pertama melihatmu, aku sudah suka Adin. Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Maka aku mendekati Intan, karena dia sahabatmu. Tapi malangnya, Intan malah salah paham. Dia mengira, aku menyukainya. Padahal tidak, Adin, aku cuma menyukaimu. Aku..."
"Diam!"
Ganti Yoga yang tersentak. Dia melihat mata indah Adin membara. Ada kemarahan dan dendam berbaur di sana. Nyalinya tiba-tiba ciut.
"Kadal busuk! Kamu kira aku bodoh, dapat kau cekoki dengan kata-kata gombalmu? Setelah kau sakiti hati kakaku, kau lukai perasaan sahabatku, kini kau memang jerat itu untukku. Cih!" Adin meludah. "Jangan harap, Yoga! Sekarang enyah kau dari hadapanku sebelum murkaku memuncak. Kuharap kau masih ingat Kinoi, adik Ayunda yang dulu pernah kau sakiti juga, bila sedang marah. Nah, itulah aku!"
Yoga mundur beberapa langkah. Sekelebat dia ingat wajah Ayunda. Salah seorang bekas ceweknya. Dia baru sadar, ada kemiripan wajah Adin dengan Ayunda. Dia pun ingat deretan piala di rumah Yunda yang menurutnya milik Adin yang aktif di taekwondo. Adinda, si Kinoi yang keras kepala dan ... pemberang!
Dengan gugup Yoga meraih cunci di saku celananya. Membuka pintu Forsanya dengan gemetar. Tapi kunci itu malah jatuh. Bergegas dia merunduk untuk memungut. Ketika bangkit, dia malah melihat sosok lain di tempat itu. Sosok yang amat dikenalnya.
"Intan," desisnya kalut.
Intan tersenyum dingin.
"Pergilah, Yo! Untuk sementara ini, jangan perlihatkan mukamu di hadapanku!"
Yoga menelan ludah. Buru-buru dia membuka pintu Forsanya, masuk, kemudian melarikannya, meninggalkan tempat itu.
Tak bisa berkata-kata. Hanya matanya yang bulat bening berkilauan. Adinda terpaku. Kehadiran Intan yang tiba-tiba membuatnya terpana. Bingung harus berbuat apa.
Intan melangkah mendekati. Tangannya terentang. "Adin, ke mana saja kau? Aku kangen...!"
Adin tersadar. Dia langsung menyambut pelukan Intan dengan penuh haru. Sahabatnya kini telah kembali.
"Maafkan aku, Adin! Karena aku tak pernah mau mendengar," bisik Intan.
Adin mengangguk. Dia tak bisa berkata apa-apa. Hanya matanya yang benng berkilauan. Seindah kilauan di mata Intan. Seindah persahabatan tulus yang mereka jalin.[]


Catatan:
Dimuat sebagai Cerita Utama di Anita Cemerlang Vol. 441 Tgl. 28 Mei – 7 Juni 1993

Sumber:
https://www.wattpad.com/story/90558531-jerat-jerat-cinta-tamat

Cerpen Lis Maulina: Sepanjang Sungai Barito

I still keep coming here
Follow the traces
I travel back in time
Remember all those places
Feels like I never left
The house's still standing
Down by the river where
The dream are never ending

(Where the river flows, sung by Scorpion)

PRAMUGARI mengumumkan, sebentar lagi pesawat akan mendarat di lapangan udara Syamsuddin Noor. Dia meminta para penumpang mematikan rokok serta memasang sabuk pengaman. Annisa menunduk. Sabuk pengamannya tidak pernah dibuka sejak naik dari Bandara Adi Sucipto. Waktu dua jam terasa begitu pendek. Selama perjalanan, lamunannya juga ikut menerobos gumpalan awan.
Pesawat terasa merendah sampai akhirnya berguncang cukup keras. Roda pesawat sudah menyentuh bumi Lambung Mangkurat. Itu berarti dia sudah sampai di kampung halamannya.
Annisa tidak merasa perlu tergesa turun. Dari jendela dia sempat melihat beberaoa sosok yang dikenalnya di antara penjemput yang berdesakan di anjung sambutan.
Setelah hampir semua penumpang turun barulah Annisa berdiri. Tak lupa dia membawa tas plastik berisi dua kotak snack. Inilah enaknya naik pesawat yang transit, dapat jatah konsumsi dobel. Walau dia sendiri tidak berselera, namun bisa dijadikan oleh-oleh untuk keponakan-keponakannya.
Annisa masuk ke ruang kedatangan. Benar, di sana dia sudah ditunggu para penjemputnya. Rame sekali! Ada Abah, Mama, beberapa sepupu dan keponakannya. Pasti Abah bela-belain menyewa mobil untuk mengajak mereka. Padahal kalau mau, dia bisa pulang sendiri, naik taxi bandara. Tapi sesekali tak apa! Toh, tidak setiap tahun mereka menjemputnya di bandara.
Annisa diberondong pertanyaan. Dijawabnya pendek-pendek. Akhirnya mereka behenti bertanya. Mungkin mereka pikir dia kecapekan. Annisa kembali mengisi perjalanannya dengan lamunan panjang.
Mobil memasuki halaman. Terasa singkat sekali perjalanan bagi Annisa. Terlalu cepat sampai.
Annisa menengah. Mengamati bangunan yang berdiri megah di hadapannya. Sebuah rumah tua berarsitektur rumah tradisional Banjar. Menurut Abah umurnya sudah ratusan tahun, namun masih terlihat kokoh.
Annisa menaiki tangga menuju teras.
"Langsung temui Nini, Nis!" suruh Abahnya. "Beliau sudah tak sabar menunggu kedatanganmu."
Annisa mengangguk. Dia terus melangkah. Melewati beberapa ruang yang lantainya berjenjang-jenjang. Dia membelok ke sayap kiri, masuk ke kamar neneknya.
Seorang wanita tua duduk bersimpuh di atas kasur yang terhampar di tengah ruangan. Rambutnya yang putih kelihatan mulai menipis. Tubuhnya kurus dan ringkih. Cuma tulang berbalut kulit yang telah keriput. Kebaya dan kainnya tampak lusuh. Beliau sedang membaca Yasiin. Kacamata bacanya melorot sampai ke ujung hidung. Tangannya yang sedang menggenggam Yasiin kecil tampak gemetaran.
Melihat wanita tua itu, Annisa tak kuasa lagi menahan rindu dan harunya.
"Ni!" panggilnya dengan suara serak.
Nenek mengangkat wajahnya. Membuka kacamatanya dan meletakkannya ke samping bersama yasiin.
"Annis, cucuku!" Nenek tersenyum. Tangannya mengembang.
Serta merta Annisa menghambur ke pelukan tubuh ringkih itu. Tuhan, baru dia sadari, betapa sebenarnya dia merindukan wanita tua ini. Merindukan pelukan hangatnya, tatapan lembutnya, senyum arifnya, kata-kata bijaknya.
"Nini sakit apa?" Suara Annisa menyimpan isak.
"Kangen sama Annis. Kenapa Annis tidak pernah pulang mengengok Nini? Annis tidak kangen pada Nini?"
"Kangen, Ni. Tentu saja kangen," sahut Annisa cepat. "Tapi Annis kan sibuk kuliah."
"Walau pada saat libur juga?"
Annisa menunduk. Dia merasa bersalah.
"Sudahlah! Nini mengerti," kata Nenek lembut sambil membelai rambut Annisa. "Nini tidak menyalahkan Annis. Nini bahagia sekarang Annis sudah datang."

***

I still keep coming here
To that old river
To find my roots just where
The future lives forever

(Where the river flows, sung by Scorpion)

ANNISA sudah berkali-kali mondar-mandir mengelilingi rumah. Dia sendirian. Nenek tidur. Abah bekerja. Mama pergi belanja. Bik Surti mencuci di sungai.
Annisa mendengus kesal. Dia bosan. Sudah tiga hari dia cuma ngendon di rumah. Dia membayangkan, teman-temannya pasti sedang bersenang-senang di Bali. Semula rencananya dia dan beberapa teman yang sama-sama lulus pendadaran pergi refreshing di Bali. Tapi tiba-tiba sepucuk telegram datang mengabarkan neneknya sakit dan memintanya pulang segera.
Mulanya Annisa mengira itu cuma akal orang rumah memaksanya pulang. Selama lima tahun kuliah, dia memang tak pernah pulang sekalipun. Liburan panjangnya malah dihabiskan di kampung halaman teman-temannya, tak pernah di kampungnya sendiri.
Nenek alasan paling tepat untuk memaksanya pulang. Mereka tahu, Annisa sangat menyayangi neneknya. Dia takkan berani mengacuhkan telegram mengenai neneknya. Bila terjadi sesuatu tanpa dia sempat bertemu, dia takkan bisa memaafkan dirinya. Akhirnya Annisa memutuskan pulang.
Annisa terus melangkah ke dapur sampai beranda belakang yang menghadap sungai. Ada Bik Surti dan beberapa tetangga yang mencuci sambil ngerumpi.
"Non Anis!" sapa Bik Surti.
Annisa tersenyum, membalas sapaan itu. Dia menebarkan pandangan ke sekeliling. Pemandangansungai khas Kalimantan. Dia takkan pernah menemui pemandangan seperti ini di tempat lain.
Berbagai jenis perahu, yang bermotor maupun yang didayung hilir mudik menyusurui sungai. Yang bermotor namanya kelotok dan yang didayung disebut jukung. Sesekali melintas speed boat yang membuat gelombang sungai lebih besar.
Di sepanjang pinggiran sungai tampak jejeran batang dan lanting. Batang adalah rakit yang diatasnya dibangun jamban kecil. Di sanalah penduduk mandi, mencuci, dan tentunya buang air. Sedang lanting adalah rumah atau warung yang juga dibangun di atas rakit.
Annisa melihat sebuah jukung dan kelotok tertambat di tiang teras. Dia ingat, Abah memang punya jukung dan kelotok. Untuk penduduk pinggiran sungai, jukung atau kelotok adalah alat tranportasi vital seperti halnya sepeda dan motor untuk penduduk darat. Annisa tersenyum. Dia ingat, dia dulu suka sekali berjukung ria. Setelah tinggal di Yogya yang tak punya sungai besar, hobbynya beralih jadi bersepada.
"Non Anis mau ke mana?" tanya Bi Surti melihat Annisa melompat ke dalam jukung.
"Putar-putar saja, Bik." Sahut Annisa sambil melepas tali jukungnya. "Kangen mau naik jukung."
Annisa mengangguk. Dia pamit kepada mereka, kemudian mengayuh jukungnya membelah sungai
Annisa tersenyum kecil. Sekarang dia baru merasa, betapa rindunya dia pada kampung halamannya ini. Hidup yang mengalun selaras dengan ayunan gelombang sungai.
Aha! Ingat sungai, dia jadi ingat seseorang. Orang yang pernah dengan bangga berkata," bila mencariku, temuilah aku di mana suangai mengalir!" Sungguh sok puitis!
Kenapa aku tidak mencarinya? Annisa membelokkan arah jukungnya.

***

You find me, you find me
You find me by the river
You find me, you find me
You find me where the river flows
By the river where the dream have never died
By the river I look through children's eyes

(Where the river flows, sung by Scorpion)

"AN... NIS...SA?"
Erfani memandangnya dengan mata membelalak lebar, sekan tidak percaya dengan penglihatannya.
"Benar, Pak guru. Saya Annisa Rizkita," jawan Annisa sambil mengangguk hormat.
Erfani tertawa lebar. Dia berlari kecil menghampiri Annisa. Dia menjabat tangannya sambil mengguncang-guncang pundaknya.
"Darimana kau tahu aku di sini?"
"Aku ke rumahmu. Ibumu bilang kamu mengajar di sini."
Erfani tersipu. "Hanya honorer. Kebetulan di sini kekurangan pengajar. Daripada nganggur sementara menunggu ujian pengangkatan, kuterima tawaran kepala sekolah untuk membantunya di sini."
Annisa tersenyum. Dia melipat tangannya sambil memandang temannya sejak kecil itu dari kepala sampai kaki. Fani tidak berubah. Masih tetap sederhana. Sesederhana cita-citanya, jadi guru yang baik. Wuih, sulit sekarang menemukan orang yang mempunyai cita seideal itu! Apalagi yang berotak encer seperti Fani.
"Hei, apa yang kau lihat?"
"Perubahanmu."
"Lalu menurutmu apakah yang berubah pada diriku?"
"Tak ada," geleng Annisa. "kecuali kumismu yang membuatmu tampak lebih tua."
"Sial!" omel Erfani keki. "Terang aja, lima tahun kita tidak berjumpa. Kamu juga mulai tampak berkerut di sekitar mata."
"Ih, emangnya aku manula?"
Erfani tertawa.
"Kapan datang, Nis?"
"Tiga hari yang lalu."
"Dan baru sekarang kamu mencariku. Bagus benar!"
"Aku di rumah saja tiga hari itu, fan. Baru hari ini aku keluar. Abis, bosan!"
"Kenapa?" tanya Erfani agak sinis. Matanya menatap Annisa tajam. "Takut kembali terkenang?"
Annisa mendesah. Dia memalingkan muka, menghindari tatapan Erfani. Tak ada gunanya mungkir di hadapan Fani. Cowok itu tahu semua kartunya. Sejak SD mereka berteman, karena kebetulan sekolah mereka selalu sama. Cuma setelah kuliah, mereka pisah. Annisa ke Yogya, sedang Erfani tetap di sini.
"Aku yakin, sebenarnya kamu tidak pernah berniat pulang kembali ke sini. Lima tahun, tak pernah sekalipun pulang kampong. Kamu pasti berencana menetap di sana seumur hidupmu. Kepulangan kali ini pastu karena terpaksa."
Annisa menunduk. Fani benar. Dia memang tak berniat kembali lagi. Dia bahkan sudah mengirim beberapa surat lamaran kerja di sana. Setelah selesai kuliah, dia ingin tetap bekerja di Jawa. Dia ingin menghapus semua kenangannya di sini.
"Nini sakit," ucap Anisa lirih.
"Nah, benarkan?" Suara sinis Erfani makin menusuk telinga Annisa. "Di sini kamu cuma mengurung diri di rumah. Keterlaluan ekali! Padahal selain kenangan pahit, kota ini menyimpan kenangan manis juga, kan? Apakah kenangan manis itu kalah berkesan dari kenangan bu..."
"Sudah, sudah! Sekarang kan aku sudah keluar, dan langsung menemuimu. Apalagi?"
"Oh, iya! Bagaimana kesanmu setelah keluar dari persembunyianmu?"
"Aku baru sadar, sebenarnya aku amat merindukan tempat ini."
"Benarkah?" Wajah Erfani kelihatan cerah. "Berarti tidak apa-apa bila kamu kuajak jalan-jalan? Akan kuperlihatkan perubahan-perubahan di sini selama lima tahun kamu tidak pulang."
"Boleh. Siapa takut?"

***

"TEMPAT apa ini?" tanya Annisa turun dari boncengan motor Erfani.
"Soto Sungai Jingah."
"Oh, jadi ini!" Annisa manggut-manggut. "Tempat tongkrongan baru anak-anak muda di sini?"
"Bisa dibilang begitu. Tapi yang suka ke sini bukan anak muda saja, kok. Orang-orang tua juga. Kadang bersama keluarga. Soto di sini bukan saja enak, tapi juga banyak."
Mereka masuk. Bentuk warung ini sederhana saja. Tapi seperti kata Erfani, memang laris manis. Mereka hampir tidak kebagian tempat kosong. Untunglah ada juga tempat di pojokan.
Erfani memesan dua porsi soto dan es jeruk.
"Aku yakin, selama ini pasti kamu belum sempat makan soto Banjar yang benar-benar enak," celoteh Erfani ketika pesanan mereka datang.
Annisa mulai menyuap sotonya. Dia mengakui kelezatannya. Benar-benar dia menikmatinya. Tapi setelah beberapa suap, tiba-tiba ayunan tangannya terhenti di udara.
Erfani yang baru mengangkat wajah, menatapnya heran. Dia memutar kepalanya, mengikuti arah pandangan Annisa. Seketika itu juga dia jadi maklum.
Dia kenal benar pemuda yang baru masuk bersama seorang wanita muda dan seorang balita. Dialah Derry. Orang yang menyebabkan Annisa memutuskan pergi dari kota ini, menyebunyikan diri di Yogya selama lima tahun dengan alasan kuliah.
Erfani kembali menatap Annisa. Gadis itu masih mematung dengan mata melebar. Ada gelepar ketakutan di bola matanya. Wajahnya memutih. Bibirnya yang setengah terbuka menyimpan geletar halus.
Erfani menghela napas. Lima tahun telah berlalu. Waktu yang cukup panjang untuk menyembuhkan sebuah luka, menghapus sebait kenangan, dan mematikan sebentuk cinta. Namun agaknya lima tahun belum cukup bagi Annisa.
Separah itukah lukanya? Sehebat inikah akibatnya? Erfani mengeluh dalam hati. Demikian berkesankah kenangan bersamanya bagi Annisa? Begitu dalamkah cinta Annisa padanya?
"Aku harus pergi, Fan," kata Annisa lima tahun yang lalu. "Aku tidak bisa terus berada di sini. Aku tak kuat menghadapi semua ini. Tempat ini terlalu banyak menyimpan kenangan akan Derry. Kenangan manis yang berujung setajam belati. Sakit! Amat sakit!"
Erfani menggeleng. "Tidak, Nis, kamu tidak seharusnya pergi. Hanya karena seorang Derry, kamu tinggalkan orangtuamu, keluargamu, teman-temanmu, kampong halamanmu. Demi Tuhan, Nis, dia tidak seberharga itu. Dia tak pantas menerima pengorbanan sebesar ini."
"Kamu tidak mengerti, Fan. Kamu tidak merasakan dikhianati orang yang paling kita kasihi dan percayai."
"Justru karena itu, Nis. Dia tidak berharga untuk kamu tangisi dan sesali. Kamu harus tetap di sini, Nis. Demi orangtuamu, keluargamu, dan semua orang yang menyayangimu."
"Tidak, Fan, aku tak bisa!" Annisa terisak. "Aku tak kuat melihat tatapan mata orang-orang kepadaku. Tatapan kasihan bercampur cemoohan. Bisakah kau bayangkan kehancuran hatiku, Fan? Derry tidak Cuma meremukkannya, tapi menginjak-injaknya. Aku harus pergi, Fan, untuk menata kembali serpihan hatiku."
Dan Annisa pun pergi. Menghilang selama lima tahun. Setelah kembali, agaknya dia masih belum mampu menata serpihan hatinya yang telah remuk. Derry memang bajingan!
Erfani menggeram. "Kita pergi, Nis?"
Annisa tersentak. Dia menatap Erfani sebentar. Menatap porong soto mereka yang masih penuh. Kemudian kembali menatap tiga orang yang baru masuk yang nampaknya kehabisan tempat.
"Tidak, Fan." Annisa berdiri. "Aku malah ingin menyapa mereka."
Annisa menghampiri mereka.
"Halo, Der! Lama ya kita tidak jumpa? Bagaimana kabarmu?" sapa Annisa ringan.
Wajah Derry pucat pasi. Matanya membelalak. Dia memandang Annisa seolah melihat hantu di siang bolong.
"Ratna, kan? Masih ingat aku?"
Annisa beralih menyalami istri Derry. Dia berjongkok di hadapan anak mereka. "Ini anak kalian yang keberapa? Siapa namamu?"
"Nissa!"
Kening Annisa berkerut. "Nissa?"
"Khairun Nissa!" sahut bocah itu mengulang dengan lugunya.
Annisa tersenyum.
"Sungguh, aku metasa tersanjung! Mari duduk bersama kami, sambil bernostalgia. Kebetulan aku datang bersama Erfani."
Bocah bernama Nissa itu menuntun tangan kedua orangtuanya yang masih terlongo-longo. Mereka mengikuti Annisa menghampiri meja yang ditempatinya bersama Erfani.

***

MEREKA duduk-duduk di teras belakang. Ada sepiring pisang goreng dan dua gelas es teh. Musik Scorpion dari album terbarunya 'Pure instink' mengalun dari mini compo yang sengaja dibawa Annisa ke sana untuk mereka nikmati.
"Ahhh...!" Tiba-tiba Annisa bersuara sambil merentangkan tangannya. Napasnya dihembuskan kuat-kuat. "Aku tidak pernah merasa sebaik ini."
Erfani yang semula asyik menikmati pemandangan lalu lintas sungai menoleh.
"Hampir aku tidak percaya aku bisa melakukannya." Annisa bergumam. "Mungkin karena aku sudah bertambah dewasa, ya!"
"Tidak juga," sahut Erfani. "Sejak dulu aku percaya kamu bisa melakukannya."
Kening Annisa bertaut. "Aku tidak mengerti maksudmu."
"Kita berteman sudah cukup lama, Nis. Aku cukup mengenalmu. Yang paling tidak kusukai adalah kamu terkadang menganggap remeh dirimu sendiri. Kamu tidak pernah mau menyadari kalau sebenarnya kamu lebih baik dari yang kamu kira."
"Aku masih belum mengerti."
"Kamu selalu menganggap dirimu lemah, Nis. Kamu belum berusaha sepenuh kemampuanmu, kamu sudah menyerah. Seperti dulu kamu selalu mengira kamu tidak sanggup menerima pengkhianatan Derry. Kamu kira kamu tidak mampu menghadapi kenyataan, sehingga kamu memilih lari. Padahal aku tahu, Nis, sebenarnya kamu mampu. Kamu tidaklah serapuh yang kamu kira. Kamu hanya melihat kekurangan-kekuranganmu. Kamu menutup mata pada kelebihan-kelebihanmu. Sehingga kamu selalu saja menganggap orang lain lebih darimu. Kamu menganggap dirimu rendah."
"Ketahuilah, Nis! Sesungguhnya kamu lebih baik dari yang kau kira. Kamu lebih pintar dari yang kamu kira. Dan kamu juga..."
"Apa? Kenapa berhenti? Teruskan saja!" ucap Annisa tanpa nada marah. "Mungkin benar, aku tidak adil pada diriku sendiri. Selama ini aku meremehkan diriku sendiri. Teruskanlah, agar mataku lebih terbuka!"
"Kamu sebenarnya tidak sejelek yang kau kira."
"Oya?" Annisa membeliak.
"Yah!" angguk Erfani dengan wajah serius. "Menurutku sebenarnya kamu lumayan."
"Lumayan?"
"Lumayan mengerikan!"
"Sial" omel Annisa sebal.
Erfani tertawa. Senang dia bisa menggoda Annisa.
"Tapi walau begitu, kata-katamu ada benarnya juga. Terimakasih telah menginggatkanku!" kata Annisa serius. "Kamu benar-benar baik, Fan. Kamu benar-benar baik, Fan. Kamu selalu ada saat aku butuhkan."
"Eit, tapi aku tidak melakukan semua itu dengan tanpa pamrih, lho. Aku mengharapkan imbalan."
"Imbalan?"
"Ya. Tapi imbalan yang kuminta tidak berat, kok. Aku cuma ingin kamu terus di sini, tidak pergi ke mana-mana lagi."
"Ups, sorry, ya! Aku tetap akan pergi. Aku kan pengen juga ikut wisuda."
Erfani tercenung.
"Tak apa," katanya kemudian. "Kamu boleh pergi ke mana saja kamu suka. Aku yakin, akhirnya kamu akan kembali ke sini juga."
"Kenapa begitu yakin?"
"Kamu lupa, kata orang-orang tua, orang yang meminum air sungai Barito pasti akan balik lagi ke sini. Apalagi kamu, yang hampir tigaperempat hidupmu selalu meminum air sungai Barito. Maka cepat atau lambat pasti akan kembali ke sini." Erfani mengedipkan matanya. "Tenang saja, aku orangnya sabar, kok. Dan kamu tahu kan di mana bisa menenmukanku?"
Annisa ingin membantah, tapi Erfani tampak tidak peduli lagi. Dia malah ikut menyenandungkan tembang Scorpion dengan suaranya yang fals.

I still keep coming here, follow those traces
I travel back in time, remember all those places
Feels like never left, the house's still standing down
By the river where the dreams never ending
You find me, you find me

(Where the river flows by Scorpion)

Annisa mengulum senyum.[]

Keterangan:
Abah  : Ayah
Nini  : Nenek
Kelotok (Bahasa Banjar) : perahu bermotor
Jukung (Bahasa Banjar) : perahu dayung
Batang (Bahasa Banjar) : dermaga terapung
Lanting (Bahasa Banjar) : rumah terapung

Catatan:
Dimuat sebagai Cerita Utama di Anita Cemerlang Vol. 565 Tgl. 9 - 28 Desember 1996

Sumber:
https://www.wattpad.com/story/92827220-sepanjang-sungai-barito-tamat

Cerpen Lis Maulina: Tragedi Pringgadi

SEMUA mata membelalak memandang sosok tubuh yang sedang berlari-lari kecil menghampiri mereka. Jeans hitam membungkus kakinya yang bergerak gesit. Oblong putih bergambar Donal Bebek menyembul di antara jaket jeans yang juga hitam dengan kancing dibiarkan terbuka. Topi kulit hitam nyantel seadanya di atas kepala yang rambutnya dikuncir dua.
"Hai, udah mau berangkat, ya?" tanya cewek itu cuek sambil memandang mobil yang siap terparkir dan barang-barang yang teronggok di sampingnya.
"Dri, katanya kamu nggak ikut?"
Indri melirik Anto yang bertanya mewakili keheranan teman-temannya. Kemudian tertawa. Kuncirnya bergoyang-goyang mengikuti gerakan kepalanya.
"Kejutan," sahutnya seenaknya.
"Alah, paling juga kamu minggat dari rumah," Handi menimpali.
"Tahu aja, lu."
Jaka maju, mendekati Indri.
"Kalo gitu kamu pulang aja, deh! Kami nggak nerima anak pelarian. Bisa kualat."
Indri meletakkan ranselnya. Lalu bertolak pinggang di hadapan Jaka.
"Enak aja! Saya pergi dengan restu, tahu? Mau lihat surat izinnya?" Indri merogoh saku jaketnya. "Nih, duit! Tanda saya direstuin. Kalo nggak, mana dikasih dulit?"
"Iya, nih! Yang penting kan dia bayar."
Huuhhh!
Iyan yang baru saja angkat bicara kena timpuk.
"Makan tu duit!" Indri memasukkan limaribuan ke genggaman Iyan. "Sekarang, ayo berangkat!"
Semua kemudian kembali sibuk, mengatur barang-barang. Sedang ceweknya semua sesekali membantu.
"Asyik, akhirnya kamu ikut juga, in," ujar Riri yang berdiri di samping Indri.
"Kenapa?"
"Kalo ada kamu, cowok-cowok itu nggak bakalan berkutik."
"Kok, gitu?"
"Tapi bukan berarti mereka nggak suka kamu ikut, In," Jean angkat bicara. "Saya tahu, mereka mengharapkannya. Kemarin, ketika kami bilang nggak ikut, mereka ngomel-ngomel."
"Iya?"
"He-eh!"
Pembicaraan mereka terpecah. Anto berteriak, menyuruh mereka semua bersiap.
Satu-satu, duabelas remaja itu berloncatan ke dalam mobil. Indri memilih tempat paling belakang, dekat jendela. Supaya tenang buat tidur. Buat membayar hutangnya tadi malam, karena terlalu sibuk mempersiapkan yang akan dibawanya. Sedang paginya buru-buru kabur, sebelum penghuni rumah bangun.
Indri menguap. Dia berancang-ancang untuk tidur. Topinya ditutupkan ke wajah.
"Kalian tahu nggak, yang paling bahagia dengan keikutsertaan Indri yang mendadak ini?" celetuk Handi dengan tiba-tiba.
Anak-anak berebut ingin tahu.
Handi dan anak-anak cowok lainnya tertawa.
"Rudy."
Rudy cuma bisa nyengir karena semua mata beralih kepadanya. Kecuali Indri tampaknya cuek saja.
"Dia kan punya rencana kemping ini akan dibuat ajang romantis-romantisan."
Semua berteriak kegirangan. Anak muda, kalo sudah nemu gossip, persis semut nemu gula. Rakus.
Kin menyodok pinggan Indri. Topi yang menutupi wajah indri terjatuh. Dia melotot.
"Kamu dengar, nggak?"
"Nggak," Indri menutupi kembali mukanya. "Saya tuli."

***

GELAP baru saja turun. Namun keheningan sudah terasa menyergap di mana-mana. Nyanyian jangkrik mulai menggigit telinga. Burung-burung malam pun mulai ke luar dari sarangnya.
Indri menghela napas. Dipandanginya tubuh-tubuh yang tergeletak tanpa daya di keremangan lampu petromak. Letak mereka tidak beraturan. Simpang siur tidak karuan.
Indri mengulum senyum. Kasihan, desisnya, mereka kelelahan. Hampir seharian melakukan perjalanan panjang. Sampai di tempat tujuan menjelang petang. Lalu disambung kerja keras mendirikan kemah dan mempersiapkan tempat bermalam mereka.
Pelan-pelan, Indri melangkah ke luar. Tadi niatnya juga ingin tidur, tapi matanya nggak bisa terpejam. Siang tadi, sepanjang perjalanan dia tidur banyak. Jadi sekarang belum ngantuk.
Indri menghampiri teman-teman cowoknya yang berkumpul. Kalo cowoknya emang lain, udah bakatnya untuk begadang. Lain dengan cewek yang gampang kecapekan.
"Belum tidur, In?" tanya Bobby yang sedang memeluk gitarnya.
"Belum ngantuk." Indri menghempaskan pantatnya di samping Bobby. "Ayo, nyanyi lagi!"
Suara mereka yang tadi sempat terhenti bergema lagi. Walau nggak terlalu merdu, lumayanlah! Daripada mendengar nyanyian jangkrik.
"Kamu yang nyanyi, In!"
Indri mengulum senyum.
"Ah, jangan!" sergah Handi. "Entar disangka orang suara kuntilanak."
Indri melotot. Dia berdiri dan melangkah pergi.
"Yee... merajuk, tuh!"
"Nuduh sembarangan! Mau bikin kopi, tahu!"
"Sip. Saya segelas, In!"
"Enak aja. Emang warung?"
Indri melangkah ke belakang tenda. Tan urung, disiapkannya juga beberapa gelas. Lalu diraihnya plastik berisi kopi dan gula.
Dahi Indri berkerut ketika tanyannya mengangkat termos kecil tempat menyimpan air panas. Terasa ringan.
Wuah, dasar rakus! Baru sekejap, udah habis.
Indri melongok ember penyimpanan air bersih. Kosong melompong. Sial benar!
Ember kosong itu disambarnya, kemudian kembali ke tempat teman-temannya berkumpul.
"Eh, temenin, dong! Saya mau ke sungai, nih."
Semua melongok. Acara main gitar, nyanyi-nyanyi dan ngerumpi tertunda lagi.
"Ngapain, In? Buang air? Biar saya aja yang nemanin," Handi berdiri.
Bobby menarik tangannya. "Jangan, In! Handi belum mandi. Sama saya saja, ya?"
Indri melotot. "Kalian ini, pikiran nggak waras semuanya. Saya mau cari air, tahu? Kalian entar mau minum apa kalo air habis."
"Mereka duduk lagi. Cuek.
"Mau nemenin, nggak?" tanya Indri mulai sewot.
"Ah, biar Rudy aja yang menemani!"
Indri membelalak. Mereka mulai lagi.
"Ya, udah. Saya juga bisa pergi sendiri."
Indri bergegas. Dalam hati dia memaki. Kadang dia sebel juga sama teman-temannya itu. Suka seenaknya sendiri. Apalagi kalo soal ledek-meledek. Jodoh-jodohin teman seenak perutnya. Iya kalo benar, kalo nggak? Apa nggak payah? Lebih parah lagi kalo yang bersangkutan udah punya pacar. Apa nggak bakal mengobarkan perang dunia, tuh?
Tapi Indri heran juga, atas dasar apa teman-temannya menjodohkan dia dengan Rudy. Padahal sebelumnya nggak. Indri tenang-tenang aja berteman dengan Rudy. Malah suka ngegoda dia.
Kini, setelah suka diledeki, Indri jadi nggak enak hati sama Rudy. Suka serba salah sendiri. Dia jadi enggak bercanda lagi. Mendekati pun pikir-pikir dua kali. Entar kalo Rudy nyangka dia yang nggak-anggak, hancurlah semua.
Ah, mereka nggak tahu. Ulah mereka bisa merenggangkan persahabatan kami, keluh Indri dalam hati.
Langkah Indri yang pelan dan hati-hati tercegat. Telinganya menangkap suara rumput terinjak-injak. Ada orang lain di belakangnya.
Indri meningkatkan kewaspadaan. Hatinya cemas juga. Malam-malam begini, di tempat yang tidak ia kenal lagi. Walau kata Anto, tempat ini aman, dekat perkampungan penduduk. Juga ada keluarganya yang jadi kepala desa di desa yang bernama Pringgadi ini.
"In."
Indri menarik napas lega. Rudy muncul dari tikungan yang penuh rimbunan pohon. Hampir saja sepotong ranting besar yang sebelumnya telah dipatahkannya terayun.
"Kamu nekat juga, ya?" kata Rudy setelah mereka berhadapan.
"Lha, daripada nanti kehausan."
Mereka melangkah bersama, menelusuri jalan setapak yang gelap. Hanya remang-remang cahaya bulan sepenggal yang membantu penerangan.
Suasana sunyi lagi. Indri enggan membuka suara. Hanya terdengar jerit rumput yang terinjak sepatu kets mereka.
Jalan mulai menurun dan berbatu-batu. Gemercik air mulai terdengar, pertanda sungai sebentar lagi akan mereka jumpai. Tinggal beberapa puluh meter lagi. Kilauannya karena tertimpa sinar bulan sudah kelihatan.
Indri mempercepat langkahnya. Dia turun agak tergesa. Tak dipedulikannya batu-batu licin yang bisa menggelincirkannya.
Tiba-tiba Indri terpekik tertahan. Batu-batu yang diinjaknya berjatuhan. Hampir saja Indri jatuh tergelincir.
Rudy segera memegang bahu Indri.
Indri bergidik, antara ngeri dan geli. Seonggok benda panjang melingkar, menghalangi jalan. Kulitnya yang hitam legam berkilat-kilat. Matanya hijau kebiru-biruan. Lidahnya bercabang keluar masuk dia antara taring yang sedikit menyembul.
Indri merapatkan tubuhnya.
"Tenang, In! Dia tidak akan mengganggu kalo kita nggak ngeganggu," bisik Rudy sambil menggenggam erat tangan Indri yang gemetar.
Perlahan, ular sebesar ibu jari kaki itu menyusup ke semak-semak. Sedikit demi sedikit tubuhnya yang luar biasa panjang itu menghilang.
"Nah, kan! Dia ngerti sendiri kalo kita mau lewat," kata Rudy lagi setelah tubuhnya yang panjang mengkilat itu menghilang seluruhnya.
Wajah Indri masih kelihatan pusat. Bibirnya bergetar. Masih tak bisa mengeluarkan suara. Pancaran ketakutan masih terlihat di matanya.
"Sudah, In! Ular itu sudah pergi."
Indri masih juga tak bergeming.
"In!" Rudy menyentuh pipi Indri.
Baru Indri tersentak. Seperti tersadar. Putih pucat wajahnya berubah menjadi semu merah. Jengah.
Cepat Indri menarik tangannya, lalu menjauhkan diri. Buru-buru melangkah, meniti bebatuan sungai. Lagi-lagi dia nyaris tergelincir.
"In, hati-hati!" Rudy menghampiri, dan merampas ember di tangan Indri. "Biar aku yang ambil! Ah, kamu emang keras kepala!"
Indri membiarkan Rudy naik, memanjat bebatuan. Mencari sumber air yang tinggi. Karena di situ airnya lebih bersih, lebih jernih. Dia sendiri ngeri juga bila harus memanjat. Batunya licin dan agak berlumut. Mana gelap lagi. Agak di bawah tadi beberapa kali dia nyaris tergelincir.
Rudy kembali sambil menenteng ember penuh berisi air.
"Biar saya yang bawa!" katanya ketika Indri mengulurkan tangan, ingin mengambil alih.
Mereka kembali jalan beriringan. Tepat di tempat ular tadi melingkar, indri menyingkir. Tangannya mencekal pergelangan tangan Rudy.
Rudy tertawa pelan.
"Tak kusangka, kamu bisa takut juga rupanya."
"Emang saya malaikat, nggak punya rasa takut?" jawab indri sambil cemberut.
"Setidak-tidaknya, mulanya anggapan saya begitu."
Indri membeliak. Cemberut wajahnya hilang. Berganti nada heran.
"Bukan hanya saya, teman-teman lain juga punya anggapan yang sama." Rudy memandang indri sebentar, kemudian meneruskan. "Cewek-cewek terutama. Kemarin, ketika kamu ngomong nggak bakalan ikut kemping ini, mereka sangat kecewa. Mereka menggantung harapan padamu. Mereka anggap kamu bisa melindungi mereka. Waktu rapat tentang kemping ini, kamu yang mati-matian membela kepentingan mereka."
"Begitu?"
"Ya. Mereka mengagumimu. Kami semua mengagumimu. Kamu tipe cewek mandiri. Kamu serba bisa. Kamu seakan mampu berbuat segalanya."
Kali ini Indri yang tertawa. Tawanya hambar. Tidak seperti tawanya yang biasa, ceria.
"Percuma. Percuma saja kalian mengagumiku. Percuma saja kalian memberi kepercayaan besar kepadaku. Karena orangtuaku sendiri, orang yang paling dekat padaku, tidak memberikan kepercayaan itu. Saya tidak pernah mampu meyakinkan mereka akan kemampuan saya yang kalian kagumi itu."
Rudy ternganga.
"Maksudmu?" tanyanya tak mengerti
Indri tak menjawab. Senyumnya masam. Wajahnya berubah muram. Matanya suram.
Indri melangkah sambil menekuri kegelapan yang pekat. Rudy tak mau mengusiknya lagi.

***

"KOPIMU, Rud!"
"Thank's!"
Indri duduk di samping Rudy. Turut memang api yang menjilat-jilat kayu. Sebagian wajah mereka memerah, kena kilatan lidah api.
"Kamu jadi kuliah ke Yogya, In?" tanya Rudy tiba-tiba.
Indri tersentak. Dipandangnya Rudy sejenak. Kemudian mengangkat bahu.
"Entah," jawaban Indri lebih mirip keluhan.
"Kok, gitu?"
"Nggak pasti diizinkan, Rud. Susah. Mereka nggak ngerti-ngerti juga. Ada aja alasannya. Masalah biayalah, terlalu jauhlah, nggak ada kepastian masa depanlah. Pokoknya susah!" Indri menghela napas. "Tapi bagi saya sama saja, itu pertanda mereka nggak mempercayai saya. Mereka meragukan kemampuan saya, pilihan saya, putusan saya."
Rudy tersenyum maklum.
"Oh, ini toh maksud ucapanmu tadi di sungai?"
"Begitulah. Mungkin kedengarannya lucu, saya yang tomboy gini, ternyata, masih suka dipingit. Dulu, saya berhenti ikut kegiatan pramuka, karena nggal diizinkan ikut berkemah, apalah artinya? Lalu PMR pun bubar, karena kegiatannya pun mengharuskan saya mesti keluar rumah malam. Nah, itu kegiatan jelas positif. Apalagi acara kemping yang bagi mereka cuma dianggap hura-hura saja."
"Tapi katamu, kamu sudah dapat izin."
"Ya, dari bos cewek. Tapi dari Dirut, nggak tuh! Keputusan tetap di tangan Papa. Terpaksa saya merayu Mama agar bisa berkomplot mengelabui Papa. Saya bilang, saya bisa gila bila tidak ikut. Pikiran saya lagi mumet berat karena persoalan sekolah yang nggak rampung-rampung juga."
"Sudah belajar nekat, ya?"
Indri tertawa. "Sekali-sekali."
"Tapi tampaknya kamu suntuk banget."
"Walau bagaimana, kebohongan tidak pernah membawa ketenangan. Apalagi kalo bohong sama ortu sendiri." Indri berdiri. "Udah ah, saya mau tidur."
Rudy mengangguk. Dibiarkannya Indri melangkah, memasuki tenda cewek. Matanya terus mengikuti sambil tubuh itu lenyap di balik tenda.
Rudy menarik napas panjang. Cewek tomboy itu sudah mulai terbuka, pikirnya. Dan dia tak menyangka, cewek yang tampaknya selalu ceria itu ternyata menyimpan persoalan juga.
Rudy terus memandang api yang menghabiskan kayu yang tersisa. Letupan bara terdengar di mana-mana. Antara kemerahan lidahnya, wajah Indri tergambar, lengkap dengan senyum khasnya yang begitu istimewa.

***

INDRI baru saja bangun. Dia langsung menuju sungai ketika dilihatnya teman-temannya tak ada lagi. Tidurnya yang terlambat membuatnya bangun telat. Dan dia yakin, semua temannya pasti tengah bersuka ria di sungai sana.
Benar saja! Lihat, mereka persis anak itik yang lama tidak melihat air! Bersuka ria sambil bercanda. Tawa mereka bersaing dengan senandung pagi burung-burung. Percikan air beterbangan, persis air hujan.
"Eh, Putri Tidur kita telah bangun dari pulasnya," teriak Riri melihat Indri turun dengan handuk di pundaknya.
Indri tersenyum. Tidak menghiraukan gidaan mereka. Dia sibuk menikmati air yang menjilati telapak kakinya.
Di bagian ini, arus air tidak terlalu deras. Cocok untuk mandi dan berenang. Batu-batunya pun jarang. Lain dengan bagian hulu sungai. Lebih mirip air terjun kecil-kecilan. Terjal dan berbatu besar. Nekat mandi di situ, salah-salah jadi sasaran empuk batuan runcing dan tajam.
Bagian lain, sedikit ke hilir, aliran mulai deras lagi. Walau tidak seterjal bagian hulunya. Tapi cukup berbahaya. Apalagi bagi yang tidak begitu mahir berenang. Cuma bisa gaya injak-injak semen untuk kolam renang atau injak-injak dasar untuk sungai dangkal.
Indri mengibas. Ribuan butir air menyerbunya.
"Eh, entar dulu!" teriak Indri sambil berlari ke tepi sungai. "Ini bukan baju untuk mandi."
"Teman-temannya tertawa. Mereka tidak menghiraukan teriakan Indri. Tubuh Indri sudah basah sebagian.
Indri mengomel panjang pendek. Dia melangkah lagi ke tenda. Tapi rafleks dia berbalik, ketika teriakan histeris mengambar gendang telinganya.
Astaga! Darah Indri berdesir. Sesosok tubuh timbul tenggelam terbawa arus.
Jean! Begitulah jeritan ngeri yang beluar dari bibir teman-temannya. Semuanya terpana.
"Cari tali, cepat!"
Indri melempar handuknya. Dengan gesit dia lari, mengejar tubuh Jean yang mulai jau terbawa arus. Pontang-panting. Tak dipedulikannya sandal jepitnya yang tercecer entah ke mana. Tak dipedulikannya telapak kakinya yang perih tergores batuan runcing.
Peluh Indri mulai menitik. Dia berusaha keras mendahului arus yang membawa tubuh Jean. Setelah dia berada di depan beberapa meter, Indri langsung terjun ke sungai. Mencoba meraih sebongkah batu besar yang ada di sungai. Sejenak berlindung di sana menunggu tubuh Jean.
Indri menguatkan hatinya. Dilihatnya Jean masih sadar. Anak itu masih berjuang agar tubuhnya tetap berada di permukaan. Dan dia harus mencegah Jean terseret lebih jauh. Sebab di sana keadaan sungai jauh lebih berbahaya.
Tubuh Jean hampir melintasinya.
"Jean, tangkap tanganku!"
Indri mengulurkan tangannya. Jean berusaha menangkap. Dapat. Tapi tenaganya sudah lemah. Genggamannya melonggar. Indri panik. Terpaksa dia meninggalkan batu tumpuannya, ketika genggaman Jean terlepas sama sekali.
Indri berenang, memburu tubuh Jean. Dipeluknya tubuh itu erat. Tapi arus juga menyeret mereka makin jauh. Indri makin panik. Dia tak kuat berenang melawan arus dengan beban tubuh Jean. Tuhan, tolong kami! Rintih hati indri. Jean kehabisan tenaga dan pingsan. Dengan sisa tenaganya, Indri berusaha membawanya ke tepi. Beberapa kali arus menghempaskan mereka, makin jauh dari tepian.
"Indri, tambang!"
Indri tersadar dari keputusasaannya. Sekilas dia melihat, teman-teman cowoknya menghadang di bagian hilir dengan tambang membentang ke sungai. Tapi, ah! Mana tambang itu? Tenggelam. Indri tak bisa melihatnya.
Itu dia ujungnya terselip di dua batu kecil. Hap! Dapat. Tapi lepas lagi.
Indri mengayuh kakinya kuat-kuat, melawan arus. Hap! Dapat. Dan langsung digenggam kuat. Tanpa pikir panjang, dililitkannya ketubuhnya dan tubuh Jean pada tambang. Kakinya berjuang untuk membantu tarikan teman-teman di darat. Dia juga berusaha agar tubuh jean berada pada posisi yang tidak membahayakan.
Indri memejamkan mata, mohon pertolongan Tuhan! Percikan air memasuki hidungnya. Membuat dadanya makin sesak. Arus terasa memukul-mukul seluruh tubunya.
"Indri! Jean!"
Indri membuka mata. Tubuhnya sudah berada di saerah dangkal. Beberapa temanya menghambur menghampiri. Diucapnya syukur berkali-kali.
Tambang yang terasa mencekik pinggangnya dibuka.
"Indri!"
Itu suara Rudy. Samar dilihatnya wajah cowok itu pucat. Ada kecemasan dan ketakutan yang sangat di sana.
Baru Indri merasakan kelelahan menyergap tubunya. Rasa sakit dan nyeri di mana-mana. Tenaganya telah kering terkuras. Dia tak mampu lagi menahan berat tubuhnya.
Indri terkulai.

***

"JEAN?"
Hanya nama itu yang terlintas di benak indri, ketika matanya menangkap wajah-wajah temannya di sekelilingnya.
"Jean sudah dibawa ke rumah sakit, In. Dia selamat. Sudah mendapat pertolongan pertama di puskesmas. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya!"
Indri menarik napas lega. Dipejamkannya mata. Dipanjatkannya syukur setulus-tulusnya.
Indri membuka mata. Dilihatnya wajah dua orangtuanya.
"Mama, Papa," desisnya tak percaya.
Keduanya mengangguk. Mama menggenggam jari Indri. Papa mengelus rambutnya. Penuh kasih.
"Maafkan, Indri! Seharusnya Indri tidak pergi. Mungkin inilah hukuman bagi Indri, karena tidak mau mendengarkan kata-kata Papa dan Mama."
Papa menggeleng. Mama juga.
"Kalau kau tidak ikut, bagaimana nasib kawanmu itu, heh?" sahut Mama. "Tidak kau tahu, bagaimana tadi orangtuanya berterimakasih kepada Papa dan Mama, karena kau telah berhasil menyelamatkan anak mereka."
"Jadi, Papa-Mama nggak masarah sama Indri?"
Papa mengecup kening Indri.
"Malah sekarang baru Papa yakin, anak Papa memang hebat," sahut Papa lembut.
"Eh, anak Mama juga, dong!"
Indri tertawa bahagia. Di sudut kamar, dia sempat melihat Rudy dan beberapa orang lagi temannya, juga tersenyum menyaksikannya. Rudy mengedipkan sebelah matanya.
Indri makin tergelak. Tapi, wadooow! Pinggangnya sakit karena terguncang. Tawa Indri berubah jadi ringisan.
Yang lain terus tertawa, menertawakan ulahnya. Indri Cuma nyengir kuda.[]

Catatan:
Dimuat sebagai Cerita Utama di Anita Cemerlang Vol. 390 Tgl. 9 – 18 Desember 1991

Sumber:
https://www.wattpad.com/335981001-tragedi-pringgadi-tamat-minggat