Cerpen Khoiriyyah Azzahro: Kala Kau Tak Di Sini
Lembut angin menampar pipiku malam itu. Tapi engkau diam saja. Tepat di hadapanku, dua orang berseragam pramuka lengkap, mondar mandir.Kulirik pergelanganku, 19.15. Lewat lima belas menit dari jadwal seharusnya. Ah, sedari awal, Aku telah sangsi. Tapi, tadi siang engkau memintaku datang malam ini. Padahal Aku sungguh sangsi bahwa akan ada latihan kepramukaan seperti minggu kemarin. Karena, tak ada satu pun kakak senior yang memberitahu. Namun, engkau yang memintaku. Memohon padaku.
“Bulan depan, usai ujian dan pengumuman evaluasi belajar, Aku akan ke Ambon, Ni!” engkau berucap lirih.
Aku diam. Angin masih sibuk menampari pipiku.
Dan Aku teringat akan pipi itu. Pipi engkau. Aku teringat kala suatu sore, pipi di wajah engkau berubah merah membiru. Serta seragam yang lusuh dan rambut acak-acakan. Dengan tubuh lunglai di atas sofa rumahmu, rumah orangtuamu.
Namun, engkau tiada berucap sepatah kata padaku.
