Cerpen Miranda Seftiana: Pada Selembar Takdir

03.06 Zian 0 Comments

Aku adalah hembusan nafas dalam setiap hela denyut nadimu. Tetapi mungkin tak kau sadari itu. Kediamanku seolah tak ada arti bagimu, saat lelaki lain terlanjur bersemayam di hatimu. Sayang, mungkin memang bukan aku yang terpahat di garis tanganmu.
Semilir angin usai kumandang adzan dzuhur serasa begitu menyejukkan. Membelai lembut hati yang tengah terluka. Kulihat engkau baru saja keluar dari mushala dekat kantor saat wajah ini mulai kubaluri dengan air wudhu. Mata teduhmu seakan menyiratkan kebahagiaan yang berbeda. Ikhwal lelaki itukah? Entahlah.
Seulas senyum hangat kau hadirkan saat berpapasan denganku. Kerudung merah jambu yang kau kenakan tampak sedikit melayang tertiup oleh lembut semilir angin. Humaira, kau memang cantik seperti namamu. Bahkan lebih dari itu, karna kecatinkanmu dari baluran air wudhu bersanding sujud bukan sekedar polesan duniawi. Pantas saja banyak orang yang mengagumimu, termasuk diriku.
Dzuhurku hampir tergadai oleh bisikan cinta yang belum halal padamu. Namun kusadari, cinta yang hakiki hanyalah akan hadir bila beserta dengan ridha-Nya. Lantaran demikian aku tak pernah berani berbicara lantang tentang perasaan ini, sekalipung kutahu sebagai perempuan tentu dirimu mengharapkan kepastian dariku.
Namun, Humaira, percayalah, sekiranya takdir Allah telah menuliskan nama kita pada lembar kitab Lauhul Mahfudz-Nya, maka tiada yang akan dapat menentang kehendak-Nya tersebut. Tidak pula aku ataupun dirimu.

***


"Sudahlah, Ars, lebih baik kau ungkapkan saja perasaanmu itu. Daripada nanti Humaira dikhitbah orang lain terlebih dahulu?" ucap Ilham teman sekantorku di redaksi koran ini.
"Bukan aku tak mau mengungkapkannya, Ham. Hanya saja kamu kan tahu sendiri kalau selama ini sikap Humaira biasa-biasa saja bahkan terkesan dingin terhadapku?" jawabku perih.
Ilham tampak menimbang-nimbang ucapanku tadi. Sebagai seorang sahabat yang selama ini dekat denganku, tentu Ilham tahu benar persoalan cinta diam-diamku ini. Apalagi, Ilham dan Humaira satu direksi dalam bagian redaksi sastra di koran harian ini, tentu ia tahu sikap Humaira terhadapku.
Kusadari, berdiam diri seperti ini sedang rasa hati tak mampu kurejam lagi, kelak bisa saja menjadi bumerang tersendiri. Apalagi, sebagai seorang wanita, usia Humaira tentulah telah cukup untuk membina kehidupan berumah tangga. Sikapku tanpa kepastian tentu akan dapat mengundang lelaki lain untuk lebih dahulu bersandar di dermaga hati Humaira. Tetapi sekali lagi, aku tak ingin menentang takdir. Mungkin keberanianku sebagai seorang lelaki belumlah cukup untuk datang mengkhitbahnya sedang perasaan hati Humaira saja belum mampu kupastikan. Biarlah Allah saja yang menentukan.
"Ars! Ars! Arsyad! Jangan melamun saja!" tegur Ilham yang akhirnya mengembalikan kesadaranku ke dunia yang sesungguhnya.
"Eh... I... Iya... I... ya, Ham. Kenapa?" tanyaku gelagapan.
"Ars, apa kamu tak ingin segera mengkhitbah Humaira?"
Kuhembuskan selefadz nafas berat atas pertanyaan Ilham itu. Ada dentuman keras yang tengah menghujam hatiku. Ada rindu dan hasrat kasih yang sesungguhnya tak mampu kurejam lagi.
"Ham, jujur aku memang mencintai Humaira, bahkan mungkin lebih dari yang kutahu. Tetapi, untuk saat ini aku belumlah berani mengatakannya secara langsung. Sebab sampai saat ini, aku sendiri tak tahu apakah Humaira memiliki perasaan yang sama denganku," jawabku pada Ilham.
"Biar Allah sajalah yang menentukan alur kisah cintaku pada Humaira akan berujung ke mana nanti. Karna aku yakin, siapapun wanita yang nanti akan mendampingiku, ia kini tengah mempersiapkan diri menjadi istri yang shalehah. Begitupun halnya denganku. Aku kini tengah berusaha agar bisa menjadi imam yang tauladan." tandasku.
Sejenak Ilham hanya terdiam di hadapanku. Matanya terpaku memandangi hujan yang perlahan turun di keramaian jalan yang sering menjadi pusat kemacetan ini. Sesekali Ilham tampak menggosokkan kedua telapak tangannya untuk mengurangi rasa dingin yang terlanjur menyergap tubuh. Di halte ini, hal yang sama pernah kualami bersama Humaira saat kami pulang mewawancari Gubernur terpilih dua bulang yang lalu.
"Hmmm... Tapi, bukankah manusia harus berusaha dulu, Ars, baru Tuhan akan membukakan jalannya?" ucap Ilham lagi.
"Usaha itu banyak perwujudannya, Ham. Begitupun halnya dengan usahaku. Aku telah berusaha menunjukkan rasa ketertarikanku pada Humaira sekalipun itu secara tersirat. Maka dari itu, kini aku hanya berusaha bertawakal pada Allah. Aku percaya, bilamana kami berjodoh, itulah yang terbaik menurut Allah. Sedang bila tidak, maka aku yakin, Allah tengah mempersiapkan pendamping yang lebih baik bagi kami berdua." imbuhku menutup perbincangan hari itu sembari bergegas menarik tangan Ilham menuju sebuah bus yang tengah berhenti.
Di sepanjang perjalanan pulang menuju kantor, pikiranku seolah sulit untuk berpaling dari sosok Humaira, seakan dalam sel otakku ini hanya namanyalah yang tertera di sana. Sosok gadis ayu bermahkota jilbab yang terkadang tersingkap angin, hingga senyum hangat serta mata teduhnya. Mungkin benar adanya, sebuah ungkapan yang mengatakan terkadang kekaguman tak perlu disampaikan dalam bait kata. Begitupun halnya dengan kekagumanku pada Humaira.

***

Langit sepertiga malam hampirlah menuju subuh tatkala kedua mata ini masih terjaga dalam bayang mimpi. Bayangan Humaira dengan senyum terlukis di pipi menggusarkan hatiku. Ada percikan rasa yang berbeda yang tengah menyergap sebagian jiwa ini. Sebelum syaitan sempat meniupkan cinta yang tak suci, bersegera kuambil air wudhu. Kubasuh setiap jengkal wajah dan tubuh ini. Kulepaskan simpul gundah yang tengah mengisi rongga dada.
Tafakurku berurai airmata malam itu. Ada semerbak harum kasih yang tak mampu kurejam lagi. Mencintai Humaira, berarti akan ada hati yang tersisih. Memendam hasrat ini semakin dalam, tentu akan mengukir luka pada kalbuku sendiri. Sungguh, ibarat buah simalakama kenyataan ini bagiku.
Ya Allah... Sekiranya mahligai suci itu memang untukku dan Humaira, maka persatukanlah kami dalam sebuah ikatan kasih atas ridha-Mu. Sedang bila memang bukan namaku yang terukir pada kedua telapak tangan Humaira, maka ikhlaskanlah hati ini memandang nahkoda lain yang bersandar di dermaga hati Humaira.

***

Langit mulai bersemburat tembaga tatkala seluruh rasa di hati ini luruh menjadi kepasrahan yang tak mampu kujabarkan atas takdir yang telah terukir pasti pada kedua belah telapak tangan. Kebahagiaan yang sempat membayang di pelupuk mata seolah dihempaskan oleh debur ombak kenyataan yang kini menjadi pasti.
Humaira, wanita lembut nan shalihah itu kini telah siap merenda kebahagiaan yang tertunda. Sayang, bukan dengan diriku bahtera itu ia layarkan di samudera kasih menuju jannah-Nya. Lantaran seorang lelaki kukuh bergelar dokter muda telah lebih dahulu mengkhitbahnya, menebas keberanian yang selama ini kusembunyikan, menyibak tabir yang selama ini sering kali kupungkiri.
Ada sebuah dentuman keras yang kini menghantam dada, seolah ingin meremukkan ruas-ruas tulang rusukku. Menghempaskan kepingan hati pada sebuah kenyataan luka. Ketika ku temukan lukisan sosok lelaki lain pada mata teduh wanita yang terlanjur bersemayam di hati ini.
Semerbak wangi tanah sehabis dipeluk hujan seolah menjadi latar atas luka hati ini. Hingga semilir kamboja kepedihan semakin merasuki lorong jiwa ini, menggetarkan rongga dada antara ikhlas dan kecewa.
"Humaira, ada cinta abadi dari-Nya yang kini tengah kurasakan. Membasuh luka dan kecewa dalam kelembutan mata air Al- Kautsar. Sejuk dan terus mengalirkan bulir bening pada pelupuk mata."

Kalimantan Selatan, 5 Oktober 2012

Sumber:
https://www.facebook.com/notes/miranda-seftiana/pada-selembar-takdir/10152160065185548

0 komentar: