Cerpen Miranda Seftiana: Kurban yang Hilang

23.19 Zian 0 Comments

Idul adha tinggal dua hari lagi, ketika desas-desus tentang maling yang tengah menggusarkan warga desa semakin berhembus kencang. Kemarin malam, perternakan H. Mariadi yang kehilangan dua ekor kambing siap kurban. Seminggu yang lalu, Pak Basuki yang melaporkan kehilangan lima belas ekor ayam peliharannya. Dan lebih parah lagi, dua hari yang lalu kediaman ketua RT yang tengah pergi ke tanah suci bersama sang istri dilaporkan kehilangan televisi dan barang berharga lainnya.
Kejadian ini tak ayal juga menggusarkan hati Uwak Bandi, seorang lelaki yang sehari-hari menggantungkan hidupnya sebagai tukang becak itu. Usia Uwak Bandi tidaklah muda lagi, mungkin lebih kurang seumur dengan kemerdekaan negeri ini. Sejak beberapa tahun belakangan, Uwak Bandi adalah orang yang rutin menyumbangkan hewan kurban ke langgar, meski hanya seekor kambing dan bukan ukuran super seperti milik petinggi negara itu. Namun keikhlasan Uwak Bandi mungkin tak perlu dipertanyakan lagi. Lelaki paruh baya itu dengan rutin menyisihkan uang hasil kerja kerasnya untuk membeli hewan kurban.

Kemarin, Uwak Bandi datang ke rumah, mengabarkan pada Abah selaku panitia kurban tahun ini bahwa ia akan menyumbang seekor kambing untuk dibagikan pada warga sekitar. Abah tertegun, matanya berbinar bangga tatkala menyaksikan Uwak Bandi menurunkan seekor kambing dari becak tuanya. Bahkan, Uwak Bandi tak pernah mau namanya disebutkan dalam kupon, meski sesungguhnya ia rutin berkurban setiap tahunnya. Menurut Uwak Bandi, kurbannya tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan milik orang lain, walaupun sesungguhnya Allah menilai kurban dari ketakwaan bukan berat sang hewan.
"Wak, saya kagum dengan uwak. Setiap tahun selalu ikut berkurban, kok bisa, wak?" tanya Abah penasaran.
"Alhamdulillah, Allah memberi uwak rejeki sehingga bisa berkurban setiap tahun." jawab Uwak Bandi dengan binar bahagia.
"Uwak rutin menyisihkan tiga ribu rupiah setiap harinya dari penghasilan yang uwak dapatkan selama setahun penuh. Alhamdulillah, ketika hari raya idul adha tiba, uang uwak terkumpul sekitar satu juta seratus rupiah. Nah uang itulah yang uwak gunakan untuk membeli kambing setiap tahunnya." imbuh Uwak Bandi.
"Subhanallah...." ucap Abah dengan kekaguman tak terjelaskan atas keikhlasan lelaki paruh baya itu.
Uwak Bandi, lelaki sederhana yang sehari-hari hanya menggantungkan hidupnya sebagai tukang becak itu ternyata memiliki keikhlasan luar biasa dalam hidupnya. Bagimana tidak, sebagai seorang tukang becak, pendapatannya hanya berkisar antara sepuluh hingga dua puluh ribu, tetapi dengan rutin ia menyisihkan tiga ribu rupiah untuk membeli hewan kurban ketika idul adha tiba. Entah mendengar, melihat, ataupun belajar dari mana lelaki paruh baya nan bersahaja itu sehingga mampu memiliki management ikhlas yang luar biasa.
Tidak semua orang mampu seikhlas uwak Bandi untuk menyisihkan pendapatannya sekedar untuk berbagi dengan sesama melalui hewan kurban setiap tahunnya. Uwak Bandi, yang hanya mampu membeli beras raskin dan lauk ikan sepat kering buatan sendiri itu justru memiliki ketaatan yang laur biasa atas perintah Tuhannya.
"Wak, apa keluarga Uwak tidak keberatan dengan kebiasaan uwak menyumbang kurban setiap tahun? Padahal kan uangnya bisa untuk keperluan lain?" tanya Abah lagi.
Uwak Bandi tersenyum, kerut di wajahnya seolah semakin jelas ketika menitikkan bulir peluh tanda penatnya kehidupan yang telah ia jalani.
"Alhamdulillah tidak. Mereka justru mendukung, agar kami tak lagi orang yang menunggu pemberian daging kurban, tetapi juga bisa memberi untuk orang lain." jawab uwak Bandi penuh kebersahajaan.

***

Takbir berkumandang sejak selepas shalat ashar tadi. Riuh rendah gelak anak-anak yang tengah memberi makan kambing serta sapi yang siap dikurbankan esok pagi selepas shalat idul adha.
Beberapa panitia tengah sibuk mempersiapkan keperluan untuk penyembelihan hewan kurban esok hari. Sebagian lain tengah membagikan sisa kupon daging kepada warga yang belum terdata dengan sempurna.
"Kambing... Kambing... Kambing uwak Bandi," teriak Hasan sembari berlari dengan nafas yang tak beraturan lagi.
"Ada apa dengan kambing uwak Bandi, San?" tanya Abah selaku ketua panitia pada Hasan yang wajahnya sudah pucat itu dengan keringat dingin yang mengucur deras.
"Kambing uwak Bandi hilang." jawab Hasan akhirnya.
"Innalillahi..." ucap seluruh panitia kurban bersamaan.
Dada Abah terasa sesak seketika. Kegusaran Uwak Bandi terjawab sudah. Kambing yang sedianya akan menjadi kurban uwak Bandi tahun ini harus raib sebelum sempat dipotong. Bukan masalah kambingnya yang Abah sesalkan, tetapi kerja keras uwak Bandilah untuk bisa membeli kambing tersebut yang akhirnya membuat Abah sedih. Entah ada dengan yang mencuri hingga ia memilih kambing milik uwak Bandi yang sebenarnya tak lebih besar dari kambing-kambing kurban yang lain.
Abah bingung harus mengatakan apa pada Uwak Bandi nanti, sekalipun Abah tahu uwak Bandi adalah orang yang memiliki pemahaman makna ikhlas yang tinggi. Bagi uwak Bandi, keikhlasannya tidaklah sebanding dengan keikhlasan nabi Ibrahim tatkala diminta untuk mengurbankan nabi Ismail putra yang telah lama dinantinya. Keikhlasan yang akhirnya mengawali peristiwa kurban bagi umat Islam itu.
Abah tiba-tiba teringat dengan ciri-ciri kambing milik uwak Bandi. Meski ukurannya lebih kecil dari kambing-kambing kurban lain, tetapi ada keistimewaan tersendiri dari kambing milik uwak Bandi. Kulitnya bersemu cokelat dengan sedikit putih, bertanduk lengkung, dan tak berbau amis seperti kambing-kambing lain, tetapi justru cenderung harum bak bunga kenanga.
"Rus, ada kabar yang lebih menyedihkan." ucap Pak Sutanto pada Abah.
"Uwak Bandi meninggal ba'da maghrib tadi, katanya jatuh di kamar mandi setelah berwudhu." lanjut Pak Sutanto mengabarkan.
"Innalillahi wa innailaihi ro'jiun." hanya itu yang mampu terucap dari bibir Abah. Lidahnya seolah kelu, kerongkongannya tercekat. Kehilangan uwak Bandi bersamaan dengan hilangnya kambing kurban titipan beliau. Abah semakin berduka, meski ia tak perlu merangkai kata untuk memberikan penjelasan atas kehilangan kambing milik uwak Bandi pada beliau, tetapi Abah masih merasa bersalah juga berdosa.

***

Kumandang takbir mengiringi pemotongan hewan kurban usai shalat idul adha. Beberapa warga turut berkumpul menyaksikan penyembelihan satu per satu hewan kurban yang ada. Panitia sibuk menimbang daging yang telah dipotong.
Namun panitia tiba-tiba dibuat kebingungan dengan jumlah kambing yang seharusnya berkurang satu karna hilangnya kambing milik uwak Bandi, tetapi justru tetap genap jumlahnya. Bahkan, kambing terakhir itu rupanya sama dengan milik uwak Bandi, tetapi hanya namanya penyumbangnya saja yang berbeda serta baunya yang tak lagi harum laksana kenanga. Kambing tersebut atas nama Rusdiah Tahrim, seorang janda kaya yang terkenal lantaran memberikan hutang dengan bunga yang tinggi.

Sumber:
https://www.facebook.com/notes/miranda-seftiana/kurban-yang-hilang/10152217538585548

0 komentar: