Cerpen Miranda Seftiana: Dua Cangkir Cokelat
Aku masih di sini, di tempat sama saat kita bertemu juga berpisah. Menunggu dirimu dengan dua cangkir cokelat hangat. Membiarkannya mendingin sendiri tanpa tiupan juga seruputan. Sesuatu yang telah berubah sejak kau pergi dua tahun lalu."Ada menu lain yang ingin dipesan, Mbak?" Lelaki berseragam itu kembali menanyaiku, seperti kebiasaan tersendiri.
Ia sebenarnya tahu jawabanku. Sebuah gelengan lalu pandangan kosong yang dibuang sembarangan ke arah jendela kaca besar di sudut kafe ini. Tempat biasanya kita menghabiskan waktu kebersamaan menanti senja meluruh dengan sempurna.
Namun, sekarang sedang hujan. Sesuatu yang kurang kau sukai, menganggu kesenanganmu mengabadikan momen indah dengan kamera berlensa panjang seperti belalai gajah. Begitu katamu padaku setiap kali kupertanyakan mengapa dirimu amat membenci air dari langit itu?
Kau memang selalu membuatku rindu. Apa pun yang ada di tempat ini seperti selalu membawa bayangmu kembali dengan sempurna. Meski berkali-kali aku berusaha menjual kenangan kita bersama bait kata yang tertulis di layar laptop. Sesuatu yang dulu sering kau matikan tiba-tiba karna merasa cemburu jika aku lebih mementingkan sang deadline.
***
"Aku harus pergi, Ri ..." ujarmu sembari membelai lembut punggung tanganku.
Kau tahu aku sudah terisak sejak tadi. Tepat ketika kau mengabari bahwa siang ini dirimu akan terbang ke Negeri Tirai Bambu. Demi mimpi. Demi sebuah pepatah yang selalu kutentang. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Aah ... Tak cukupkah dua gelar yang bertengger di belakang namamu itu?
"Semua takkan ada yang berubah, Ri. Apa sulitnya mengungkapkan rindu melalui kemudahan teknologi?"
Kau selalu begitu. Terlampau modern, menganggap teknologi bisa turut menggenggam hati selain dunia. Takkah kau pahami bahwa penawar rindu itu adalah memandangi mata teduhmu?
"Kurasa perjalanan panjang bisa mengubah semuanya, Dhi. Termasuk hati ..." Bendungan di sudut mataku akhirnya rubuh dengan sempurna.
Kau memandangku dalam. Seperti meminta sebuah permohonan, izin untuk pergi lebih tepatnya. Aku jengah ditatap begitu. Bukan tak suka. Aku takut tak bisa menyudahi perasaan ini dan semakin sulit untuk merelakanmu pergi.
"Satu jam lagi aku boarding. Aku harus pergi sekarang ..."
Kau mengecup keningku lama sekali. Seakan ingin mengalirkan perasaan di hatimu. Tetapi sungguh, kepergianmu hari ini telah membuatku kacau sepenuhnya. Aku tak mampu menafsirkan maksudmu. Selain tahu bahwa itu adalah sebuah salam. Salam perpisahan.
Setelahnya kusaksikan punggung tegapmu pergi menjauh. Menerobos hujan untuk pertama kalinya tanpa sungutan. Membiarkan aku memandangi cangkir cokelatmu yang perlahan mendingin dengan hanya sekali seruputan darimu.
***
Cokelat hangat itu telah mendingin dengan sempurna. Tak ada lagi asap yang mengebul di atasnya. Entah cangkir cokelat ke berapa yang kubiarkan mendingin dengan sendirinya begitu. Tetapi satu hal yang harus kau tahu, aku telah melakukan itu sehari sejak kau pergi menggapai mimpimu. Sebuah perjalanan yang turut memindahkan hatiku bersamamu, selamanya.
Mataku nanar setiap kali memandangi potongan berita di koran yang kusimpan dengan airmata itu. Ada namamu di sana. Nama yang tertulis bersama ratusan korban lain kecelakaan pesawat tujuan negeri tirai bambu. Nama yang tak tahu di mana jasad pemiliknya berada?
Aku masih di sini. Memandangi jendela kaca besar di sudut kafe tempat kita bertemu. Menunggumu datang melunasi hutang rindu yang menjelaga di jiwa. Pulanglah ... Ini saatnya kau tahu, bahwa teknologi takkan mampu menggenggam hatiku. Sebab ia telah pergi bersamamu yang bahkan puasaranya tak mampu kutaburi dengan bunga.
Sumber:
Banjarmasin Post, Minggu, 1 Juni 2014
https://www.facebook.com/notes/miranda-seftiana/dua-cangkir-cokelat-terbit-di-banjarmasin-post-edisi-minggu-1-juni-2014/10154182071200548

0 komentar: