Cerpen Aliman Syahrani: Rudy

18.50 Zian 0 Comments

HARTANYA melimpah, jabatannya tinggi, tempat tinggalnya mentereng, fasilitas serba ada, apa saja yang dikepingininya akan dengan mudah diperolehnya. Maka, masih perlukan lagi orang seperti dia sembahyang dalam hidupnya?
Sungguh pertanyaan yang begitu ironis itu mencandakkannya. Betapa tidak? Tak ada seorangpun sebelum ini yang mengajukan pertanyaan semacam itu. Atau paling tidak, bagi lelaki ini tak ada kesempatan untuk merenungkannya. Ia terlalu sibuk dengan karier dalam jabatannya dan mengurus sejumlah perusahaan.
“Bukannya saya tidak pernah sembahyang,” kilahnya. “Tapi saya kelewat sibuk mengurus karir dan pekerjaan, sehingga tak punya waktu lagi untuk sembahyang.”
Yang mengherankan lagi adalah, pertanyaan itu diajukan oleh seorang pengemis tua renta dan ringkih. Secara kebetulan mereka bertemu malam itu, di sebuah perempatan jalan di kota Banjar***, ketika traffic-light menyala merah. Pengemis itu dengan perlahan mengetuk kaca ray-ban mobil bernopol **1* miliknya. Tapi entah kenapa, tiba-tiba ia terpana menatapi wajah pengemis itu; sorot matanya begitu dalam menembus dadanya, menumbuhkan rasa iba yang sangat.

Beberapa saat mereka bersitatap. Ia lalu menurunkan kaca pintu depan mobilnya dan memberikan segenggam uang kertas lima puluh ribuan kepada pengemis itu. Tapi aneh! Pengemis itu menolak dan menepis uang di tangannya.
“Saya mengenal Sampeyan,” ujar pengemis itu lirih sambil menggamit pundaknya. Suaranya dingin tapi kedengaran berwibawa. “Bukankah Sampeyan yang tinggal di rumah sana?”
Begitu tersemplaknya ia mendengar pengakuan pengemis misterius itu. Suatu dorongan yang begitu kuat dan terasa mistis namun tidak disadarinya menyebabkan ia minta berhenti di pinggir jalan.
“Kau pulanglah dulu,” perintahnya pada sopir pribadinya. “Biar nanti saya naik taksi.”
“Inggih, Pak.”
“Jika nanti Ibu menanyakan kepulangan saya, katakan saja kalau malam ini mungkin saya pulang agak larut,” pesannya lagi. “Kau pulanglah sekarang.”
Ia bergegas mengejar pengemis tadi yang sudah keburu beranjak meninggalkan perempatan jalan, hingga sampai di sebuah gang sempit dan agak gelap.
Begitu gesit pengemis itu, pikirnya. Pengemis itu benar-benar misterius di matanya, dan begitu menyita rasa ingin tahunya. Timbul di benaknya untuk mengetahui lebih jauh, siapa dan mau apa sebenarnya pengemis tua renta yang ringkih namun cukup gesit itu. Ada suatu tenaga gaib yang telah menyerimpung perasaannya dengan begitu kuat. Namun ia merasa tetap sadar dengan apa yang sedang diperbuatnya.
Meski dengan penyamaran sedemikian rupa, tanpa disertai seorang pengawalpun, kecuali bersama sopir pribadinya, dengan berpakaian seperti orang kebanyakan, mobil yang sederhana sekali (menurut ukurannya), tapi toh seorang pengemis ringkih masih bisa mengenali dirinya. Rasa penasarannya semakin memuncak!
“Anda sebenarnya mau apa?” salaknya mencegat pengemis yang berjalan mendahuluinya itu. “Jangan macam-macam, ini Banjar***, bung!” gertaknya. Darah lelakinya sebagai orang Banjar*** sedikit tersirap. Kata-katanya itu pula seolah memperingatkan pengemis itu pada tabiat dan temperamen orang Banjar*** yang begitu peka dengan masalah harga diri.
“Sampeyan tak perlu curiga,” cicit pengemis itu lirih. “Saya tak lebih dari seorang pengemis renta. Tidak seperti Sampeyan. Saya senang bisa ketemu Sampeyan malam ini. Saya kepingin mengajak Sampeyan jalan-jalan berdua menyusuri gang dan rumah-rumah di sekitar sini. Bagaimana?”
Ia tak menjawab. Berdua lalu mereka berjalan beriringan, perlahan-lahan. Berdua mereka menyusuri gang-gang sempit, becek dan gaduh. Angin malam luruh berembus membasuh rumah-rumah gedek yang kumuh berdesak-desak, berhimpit dan sesak, beratap daun rumbia dan retak. Suara sumbang orkes dangdut dari radio yang dinyanyikan Inul Daratista menyesaki udara malam dan melenggang-lenggok di jalanan, ritmis namun giris.
Anak-anak berlarian bermain petak umpet. Seekor anjing kurapan dan kurus kerempeng melintas di hadapan mereka, kumal dan dekil. Tubuhnya penuh koreng mengandung nanah, menebarkan bau anyir dan amis. Penjual makanan menyeret rombongnya lambat-lambat melintasi selokan buntu berbau hancing, sambil sesekali memukul kuali atau piring rombeng yang tersangkut di sisi rombong itu. Sungguh pemandangan itu membuat perasaannya menjadi begitu sumringah.
Mereka terus berjalan tanpa ada yang angkat bicara, sambil sesekali menghindari genangan air comberan yang tertampung di jalan gang yang penuh ditumbuhi lubang-lubang. Sisa-sisa aspal di jalan gang itu sudah kropos dimakan waktu, persis seperti bangunan rumah-rumah di sekitar situ yang tampak sudah sedemikian tua dan rapuh.
Denyut kehidupan yang keras dan intens masih terasa sampai jauh malam. Malam juga makin tua, penuh keringat dan makin pekat. Bulan bergeser, dan pucat. Bulan itu tersangkut sendirian di langit, termenung menemani malam yang makin kelam. Kadang-kadang awan membelai wajahnya, membuat alam temaram beberapa saat. Angin malam menyusup sekilas lalu menghilang, lenyap ditelan kegelapan. Sekawanan kelelawar muncul kerkesiuran, beterbangan mencari mangsa, lalu menghilang di ujung gang yang lengang.
Bau amis menoreh hidungnya di sepanjang gang. Tenggorokannya terasa begitu garing, parau dan tercekak. Perutnya mual tapi ditahannya untuk tidak muntah. Kepalanya juga mulai pusing. Baru sekali inilah dalam hidupnya ia menyusuri gang-gang sempit di kota Banjar*** di malam selarut ini. Selama ini ia tidak sempat, lebih tepatnyanya tidak peduli, dengan kondisi dan bentuk kehidupan masyarakat miskin di pinggiran kota yang sebenarnya dalam wilayah pemerintahannya. Karena itu ia terbius dan tak mampu bicara, bibirnya kelu, membisu selaksa aksara menyaksikan denyut kehidupan yang tengah terpampang di hadapannya. Ia terus melangkah membuntuti pengemis misterius itu.
“Ke mana kita pergi?” suaranya tersekat parau. Rasa sumringah makin menyelimui perasaannya.
“Kita hanya jalan-jalan saja,” sahut pengemis itu tanpa menoleh.
“Anda sebenarnya siapa?” tanyanya mendesak.
“Seperti yang sudah saya katakan tadi. Saya hanya seorang pengemis renta.”
“Anda tinggal di sekitar sini?”
“Inggih,” gumam pengemis itu lirih.
“Anda asli orang Banjar***?”
“Inggih.”
“Punya keluarga?”
“Inggih,” gumam pengemis itu lagi makin lirih.
“Ditanya kok Anda hanya bilang ‘inggih!’ Bisakah kita bicara yang lain?”
“Dari dulu kami di sini cuma bisa ngomong begitu. Kata orang berdasi seperti Sampeyan yang dulu pernah datang ke sini, itu adalah kebiasaan buruk; ngomong sesuatu tanpa dimengerti maknanya. Itulah katanya yang menyebabkan masih banyak orang miskin di sini. Lha, apa benar kalau orang ngomong begitu bisa jadi miskin? Dan apakah hanya karena omongan itu yang menyebabkan kami masih menjadi orang miskin?”
Angin malam kembali luruh menyusup, mengelus-elus irama kehidupan di sepanjang gang.
Mereka terus berjalan, berputar-putar. Di ujung gang, terdengar suara tangisan pilu seorang bayi, menyayat-nyayat, membelah dinginnya malam. Seperti mengisyaratkan bahwa kehidupan ini penuh dengan berbentuk ilusi dan misteri.
Alangkah kumuh dan joroknya lingkungan di sini, pikirnya untuk yang kesekian. Ia membandingkan dengan lingkungan rumahnya yang asri dan nyaman; halaman yang luas, pekarangan yang teduh, taman bunga yang indah, dan…. sungguh merupakan suatu keadaan demikian kontras dan paradoks. Ia terus berjalan mengikuti langkah pengemis itu. Entah kenapa, ia terus mengikutinya. Pikirannya menerawang, melayang-layang, mencoba memahami sebuah arti yang ia sendiri belum tahu maknanya.
Ketika sampai di sebuah gang yang agak gelap, pengemis renta itu mempercepat langkahnya, lalu berbelok ke kiri. Ia berusaha mengejarnya. Tetapi, pengemis renta itu tiba-tiba raib, tak tampak lagi. Ia menoleh kesana kemari. Tapi pengemis misterius itu benar-benar lenyap bagaikan ditelan malam.
Angin malam berembus deras sekali menampar tubuhnya, menghantarkan hawa dingin yang mencucuk-cucuk hingga ke tulang sumsum. Bau dupa tiba-tiba menggaris beku cuaca, membiaskan udara aneh yang membius. Lolong anjing terdengar pula memecah malam. Rasa takut merambat dengan cepat di benaknya, rasa takut yang menggapai ke bulu roma! Bibirnya bergemeletar. Bulu kuduknya bergemeremang bagai diusap-usap iblis durjana. Tenggorokannya kian tercekak, parau dan garing, bagai tersumpal tiang listrik! Sementara udara malam yang semakin dingin seperti benar-benar akan membekukan sekujur jasadnya. Dan tiba-tiba, didengarnya sebuah bisikan yang datangnya entah dari mana:

Dalam harta yang kita punya
terdapat hak orang lain di dalamnya. 
Begitu sering kita melupakannya…!

Ia tersadar.
Esoknya ia dirawat di sebuah kamar sanatorium rumah sakit jiwa di Ibu Kota dan mengisahkan mimpinya itu.
Di status, ia menuliskan namanya: “Rudy!”

Sumber:
https://www.facebook.com/notes/aliman-syahrani/r-u-d-y/395684462751

0 komentar: