Cerpen Ronie Permana: Kuyang
Ipah terlihat pucat. Tidak pengap tapi berkeringat dingin. Sekujur bulu di tangan dan lehernya berdiri tegak, Tidak terlihat akan lemas. Seekor kucing bermuka marah mengerang tanpa henti. Ipah terus mendekap lutut, membenamkan wajah di sana. Terduduk lunglai, sambil terisak menahan takut.***
Kejadian tadi malam membuat Ipah tidak mampu menutup kelopak matanya walaupun untuk sekejap. Mata terbuka, namun dibenamkan dalam kegelapan, di antara lutut yang didekap. Dia hanya mendengar suara itu, tanpa berani menatap. Erangan kucing peliharaannya, dengan tatapan marah dan gusar ke salah satu sudut rumah, sangat jelas menandakan ada sesuatu yang gaib di sana.
“Aku akan memberimu kecantikan, kekayaan dan usia muda yang panjang, seperti yang kau mau. Penuhilah syarat yang kuminta saat aku membutuhkannya.” Suara itu terdengar lantang dan sangat keras di telinga Ipah. Memecah sunyi dini hari yang sepi. Suara itu juga yang membuat Ipah melompat reflek dari ranjang. Menutup wajah, bersandar ke dinding sudut rumah. Perlahan lunglai terduduk, dan mendekap lutut membenamkan wajahnya.
Tidak satu pun kata, apalagi kalimat yang mampu dikeluarkan. Lidahnya terasa kaku dirasuki ketakutan yang luar biasa. “Kamu telah meminta, dan aku sudah datang mengabulkan permintaanmu. Aku tinggal menunggu persembahanmu.” Kalimat itu menutup pertemuan horor Ipah dengan sesuatu yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Singkat, mencekam, penuh mistis.
***
Desa yang tenang di bagian hulu sungai Kalimantan Selatan itu tiba tiba berubah menjadi desa yang mencekam. Sejak kejadian yang mengerikan di desa itu, hampir setiap malam warganya tidak bisa tidur tenang. Selalu dihantui was was dan takut.
Ipah adalah seorang janda berumur tiga puluh tahun. Sudah sejak lama suaminya pergi dan tidak pernah ada tanda sedikitpun untuk kembali. Statusnya yang menggantung, membuat lelaki manapun tidak berani mendekati Ipah. Terlebih, suaminya terkenal sebagai orang yang jagau di desa itu. Ipah menderita batin, juga materi.
Belakangan, Ipah semakin jarang terlihat bersosialisasi dengan warga desa. Mungkin Ipah malu. Juga, rumahnya yang cukup jauh terpisah dari rumah lain membuat warga memakluminya.
Kejadian seminggu lalu sangat mengerikan. Seorang ibu muda seketika meninggal sesaat setelah melahirkan anaknya. Tidak hanya itu, anak yang baru dilahirkannya pun menghilang entah kemana.
Seketika, desa itu jadi mencekam. Hening di malam hari menambah suasana horor. Tadi malam, kembali kejadian yang sama terulang, dan dua hari sebelumnya ada seorang ibu hamil yang tiba tiba kehilangan janin di perutnya. Dalam seminggu sudah ada tiga kejadian misterius. Sungguh aneh.
Pemuka desa segera berkumpul membicarakan hal yang mengancam keselamatan warga ini. Sesuatu yang gaib, namun nyata terjadi. Apalagi targetnya adalah wanita yang sedang hamil atau melahirkan. Sedangkan di desa itu masih ada belasan wanita yang sedang mengandung. Akhirnya mereka putuskan untuk memakai jasa “orang pintar” untuk memecahkan misteri ini.
“Pelakunya adalah warga desa ini sendiri,” ucap orang itu mengawali analisis gaibnya.
Salah satu pemuka desa terkejut bukan main, “Siapa?” tanyanya dengan tidak sabar. “Sebaiknya kita susun rencana untuk menangkap basah dia. Karena kita tidak akan menemukan bukti apapun jika dia ditangkap sekarang.” Para pemuka desa setuju dengan itu.
“Orang pintar” itu menjelaskan kalau pelaku adalah salah satu dari warga desa. Seseorang yang sebenarnya hanya menjadi budak sesosok gaib. Namun dia sendirilah yang mengundang sosok itu datang, dan dia harus terjerumus serta menanggung semua konsekuensinya, termasuk mencari tumbal berupa darah para wanita yang baru melahirkan, atau darah para bayi yang baru lahir, bahkan para bayi yang masih dalam kandungan. Para wanita warga desa semakin takut dan gelisah.
***
Para pemuka desa berembuk, dan menunjuk beberapa warganya untuk menjalankan misi penangkapan pelaku. Walaupun gaib, namun sosok itu konon juga mudah untuk dibekuk. Warga yang telah ditunjuk mulai mengawasi setiap gerak gerik seorang wanita yang sudah dicurigai, berpedoman pada kemiripan ciri yang dijelaskan oleh “orang pintar.”
Ipah memang bersikap, berpenampilan dan beraktivitas tidak seperti biasanya. Sekarang, dia lebih senang menggunakan selendang yang menutupi kepala hingga leher. Dia lebih senang menggunakan baju terusan yang lebar. Padahal, sebelumnya wanita ini begitu simpel dengan kaos dan rok panjang, tanpa selendang yang menutupi bagian atas tubuhnya. Itu yang pertama.
Kedua, Ipah terlihat lebih sering berkeliling desa sambil senang berlama lama mengobrol dengan wanita wanita yang sedang hamil. Kecurigaan warga semakin jelas, saat menemui fakta bahwa setiap wanita hamil yang didatanginya pada siang hari, pasti akan kehilangan janin di dalam perutnya pada malam hari.
***
Beberapa hari kemudian, warga desa digemparkan dengan sebuah kepala tanpa tubuh, namun masih ada organ dalam seperti paru paru yang menempel di lehernya. Sosok itu tidak berdaya terperangkap di dalam jaring yang memang sudah disiapkan warga untuk menangkapnya. Ipah yang tinggal kepala dan organ dalam perutnya terus menjerit berteriak dan berontak ingin lari. Warga setengah iba, tapi juga jijik, juga ngeri.
***
Sejak lama, setelah ditinggalkan sang suami, Ipah memang sering mengamalkan sesuatu yang gaib. Dia selalu ingin cukup harta, awet muda dan panjang usia, namun dengan cara yang sungguh ngeri. Seperti memanggil sesuatu, Ipah tidak henti mengucapkan berbagai mantra setiap malam. Sehingga tibalah malam mencekam itu.
Setelah sosok menakutkan itu hilang, Ipah dengan ragu mulai mengeluarkan wajahnya dari balik dekapan. Didapatinya sebuah benda berisi minyak yang sepertinya sengaja ditinggalkan sosok itu untuk Ipah.
Ipah mengoleskannya di leher, pada malam hari seusai perintah gaib itu. Kali ini tidak ada rasa takut, walaupun sedikit ragu. Sesaat efeknya langsung terasa. Seperti diputus, lehernya teriris, sakit dan nyeri tak terkira. Menjerit, lalu terbang seperti burung membawa organ dalamnya dengan darah berceceran. Ipah berubah menjadi teror paling menakutkan. Kuyang.[]
Sumber:
Budhi, A.S. dkk. 2014. Bawin Balian: Kumpulan Cerpen Aruh Sastra Kalimantan Selatan XI Kabupaten Tapin Tahun 2014. Yogyakarta: Writing Revolution

0 komentar: