Cerpen Hatmiati Masy’ud: Ibu

06.07 Zian 0 Comments

“Ninaya, cepat bangun, nanti terlambat salat subuh.” Nyaring suara Ibu memecah kebisuan pagi. Ninaya bergegas bangkit dan segera turun dari lantai dua rumahnya untuk mandi kemudian salat subuh.  Hari ini ada acara sosialiasi murid baru di sekolahnya, Ninaya harus segera berangkat kalau tidak ingin terlambat. Buru-buru dimasukkan bahan sosialisasi dan buku pelajaran bahasa Indonesia ke tasnya.
Sepiring nasi goreng dan telur dadar telah siap di meja makan. Tak ketinggalan, irisan buah pepaya menggugah selera juga ada di meja.
“Ninaya, kamu makan duluan, Ibu nanti saja setelah mencuci baju.”

Ninaya mengangguk, dilahapnya dengan cepat nasi goreng made in ibunya itu. Lezat sekali, rasanya ingin nambah lagi kalau saja Ninaya punya waktu lebih banyak.
Sepeda motor membelah pagi dari Gambut menuju Banjarmasin, Ninaya, memang mengajar di salah satu sekolah favorit di kota itu. Ninaya juga menjadi guru favorit bagi anak didiknya.
Pagi yang ranum, hilir mudik kendaraan di Banjarmasin masih belum banyak Ninaya sudah sampai di sekolahnya.
“Pagi, Bu Ninaya,” sapa murid-muridnya yang kebetulan berpapasan dengannya. Ninaya tersenyum dengan riang, dibalasnya sapaan itu dengan ramah.
”Pagi juga. Eh, Gladys hari ini tambah cantik aja, apalagi dengan bibir semerah delima itu.”
Gladys tersipu dan cepat berlari ke belakang, buru-buru mengambil tissu dan menghapus lipstik di bibirnya. Ninaya tersenyum simpul sambil menaiki tangga menuju ruangannya yang terletak di lantai dua. Sebagai wakasek bidang kurikulum, Ninaya memiliki ruangan sendiri.
“Bu Ninaya, acara sosialisasi pagi ini diisi oleh kepala sekolah dan Ibu saja ya?” kata Wakil kepala sekolah.
“Iya, Bu, saya sudah siapkan bahannya.” Ninaya mengecek power point yang sudah dibuatnya malam tadi. Semua beres tinggal action saja.

***

Tok, tok, tok!
Ketukan di pintu membuyarkan konsentrasi Ninaya. Ternyata guru BP yang berada di depan pintu.
“Mari, silakan masuk, Bu.”
“Begini, Bu Ninaya. Ibu kan wali kelas XI, anak-anak Ibu itu ada yang bawa mobil, parkir di depan sekolah sembarangan, kasihan motor dan mobil guru lainnya susah untuk parkir.”
Ninaya terdiam, rupanya anak muridnya sudah ada yang bawa mobil ke sekolah.
“Baiklah, Bu, nanti saya coba tegur anak-anak itu.”
Guru BP berlalu menuju ruang guru. Ninaya berjalan menuju ruang kelas XI yang ada di lantai dua paling ujung. Ruangan kelas sangat senyap, rupanya mereka sedang serius belajar. Ninaya berlalu, dia hanya memberi kode kepada ketua kelas untuk menghadap di ruangannya.
Bel tanda istirahat berbunyi. Ketua kelas segera menghadap Bu Ninaya.
“Nina, Ibu dengar teman-temanmu ada yang bawa mobil ke sekolah.” Ninaya bertanya kepada Nina yang duduk di depannya.
“Iya Bu, Irwan, Gladys, Riza, Mayang, juga Salma, dan saya Bu,” sahut Nina pelan, dia mulai takut kalau Bu Ninaya marah.
“Coba panggil teman-temanmu ke ruang Ibu.” Nina setengah berlari menuju ruang kelas.
“Gladys, Irwan, Riza, Mayang, ayo cepat kita ke ruang Bu Ninaya. Ibu sepertinya marah. Salma mana?” Nina dengan napas ngos-ngosan berteriak memanggil teman-temannya.
“Salma lagi belanja di kantin,” suara pelan Nazwa memberitahu Nina.
“Oh, iya nanti suruh susul kita ke ruang Bu Ninaya, ya!”
Lima orang remaja itu tertunduk di depan Ninaya, tak lama Salma datang bergabung dengan teman-temannya.
“Anak-anak, boleh Ibu tahu alasan kalian mengapa membawa mobil ke sekolah?” Ninaya bertanya dengan lembut. “Silakan dimulai dari Nina!”
Sepi menyelimuti ruangan itu, sesaat kemudian Nina berucap. “Saya diberi hadiah mobil oleh ayah Bu, jadi saya pakai mobil itu.”
“Kalau saya tidak punya sepeda motor Bu,” sahut Gladys pelan.
“Saya tidak tahan panas Bu, muka saya merah-merah.” Mayang angkat bicara.
“Sepeda motor saya dipakai adik Bu,” Salma juga bicara.
“Baiklah, kalau Irwan, Riza, apa alasan kalian?”
“Yah, daripada nganggur mobil di rumah, Bu, jadi dipakai saja.” Irwan menyahut spontan.
“Baik, tapi parkir kalian asal-asalan, mengganggu mobil dan motor guru juga siswa di sekolah. Kalau memang harus membawa mobil, di depan sekolah kita ada lapangan tenis, minta izin untuk parkir di sana pagi hari, tapi dengan catatan kalian harus memberi biaya parkir kepada yang menjaga mobil kalian.
“Baik Bu,” remaja-remaja itu menyahut serentak. Ninaya menghela napas. Biarlah seperti ini dulu penyelesaiannya. Nanti sore Ninaya akan jalan-jalan sekaligus mengecek kediaman anak-anak didiknya yang mengaku tidak punya sepeda motor.

***

Lelah menggantung, Ninaya menjalankan sepeda motornya dengan pelan. Ninaya sudah mengecek rumah Gladys, di sana dilihatnya dua sepeda motor matic terparkir dengan manis di depan garasi. Sedangkan di rumah Salma malah ada tiga sepeda motor juga. Ninaya tersenyum kecut. Anak-anaknya berbohong.

***

Pagi itu, di ruang kelas, Ninaya mengecek kehadiran anak-anak didiknya. Dilihatnya Nizwar selalu terlambat pada jam pertama. Hari ini juga. Ninaya sengaja ingin memberi nasihat pada anak-anak didiknya. Selang lima menit kemudian, Nizwar masuk.
“Maaf, Bu, saya terlambat.”
“Mengapa selalu terlambat?”
“Anu, Bu, rumah ulun jauh. Pagi-pagi sudah macet, Bu.” Nizwar menyahut dengan pelan.
“Memangnya rumahmu di mana? Jauh mana dengan rumah Ibu?”
“Rumah saya di Komplek Banjar Indah, Bu.”
“Lho. Ibu tinggal di Gambut, sepertinya Ibu belum pernah terlambat. Baik Nizwar, silakan duduk!” Ninaya sudah tak perlu melihat ekspresi Nizwar lagi.
“Oh, iya, hampir lupa. Gladys, Salma, kemarin Ibu lewat di depan rumah kalian, sepertinya ada beberapa sepeda motor terparkir di halaman. Itu punya siapa ya, katanya kemarin tidak punya sepeda motor.” Ninaya menyapukan pandangannya di wajah Gladys dan Salma. Keduanya tersenyum kecut.
“Anak-anak, Ibu senang kalau kalian bersemangat belajar, bersemangat sekolah, tetapi Ibu ingin kalian juga belajar menghargai orang lain, belajar disiplin. Dan satu hal lagi, jangan pernah berbohong. Karena setiap satu kebohongan kalian harus menutupi kebohongan lainnya.”
Ninaya meninggalkan ruang kelas setelah guru Matematika berada di depan pintu kelas.

***

Senja datang juga. Ninaya bersantai di teras rumahnya. Hatinya riang sekali karena tadi dia bertemu dengan beberapa anak didiknya yang sudah lulus di sekolah tempatnya dulu mengajar. Mereka sudah ada yang S2, bahkan sudah ada yang menjadi PNS seperti dirinya. Dan, yang paling berkesan dan paling sering mengirim kartu post di mana saja dia singgah adalah muridnya yang dulu paling nakal, tetapi kini menjadi seorang pelaut. Ninaya senang anak-anaknya berhasil, sebab hanya itu tujuannya dalam mengajar, mengantarkan anak-anak didiknya berhasil dalam kehidupan.
Tiba-tiba, SMS berbunyi, “Ibu, masih ingat saya? Murid ibu dulu di SMA Bintang?” Ninaya mengingat-ingat siapa yang mengiriminya SMS.
“Saya Tatang Bu, Tatang Suwandi. Murid Ibu dulu yang suka mengantar Ibu ke terminal.”
Ninaya teringat Tatang, muridnya yang paling pintar juga santun. Dia putra seorang anggota dewan tetapi sangat rendah hati, hanya sebagian guru yang tahu Tatang putra seorang politikus ternama. Dulu, saat Ninaya belum punya sepeda motor, sering sekali Tatang mengantarnya ke terminal Pal 6, untuk mencari angkot menuju Gambut.
“Apa kabar? Mengapa baru SMS Ibu? Bekerja di mana sekarang?”
SMS itu tak berjawab. Senja berlalu dengan cepat. Ninaya beranjak, azan magrib sudah terdengar sayup-sayup.
Di sebuah sudut kegelapan, seorang pria muda cepat-cepat menyimpan HP ke pantatnya. Kemudian berbaring dengan mata berembun.
Gerimis mulai melebarkan jaringnya mengiring gelap malam, dingin membungkus setiap orang. Mereka lebih senang berleha-leha di depan TV atau bergelung dalam selimut. Tetapi, mata Ninaya terjaga. SMS Tatang siang tadi benar-benar mengganggu pikirannya. Sepertinya ada yang tidak beres dengan anak didiknya itu.
“Bu Ninaya, saya selalu teringat Ibu. Hanya nasihat Ibu yang membuat saya mampu bertahan.” Tiba-tiba SMS Tatang masuk lagi. Malam sudah tegak lurus dengan siang.
“Ada apa, Tatang. Kalau kamu mau bercerita dengan senang hati Ibu akan dengarkan.”
“Ibu, saya di penjara.”
Ninaya tercekat.
“Mengapa Tatang, terakhir ibu dengar, kamu sudah S2 dan bekerja di perusahaan ternama.”
“Iya Bu, tetapi daripada ayah saya yang masuk penjara, kasihan ibu dan adik-adik. Lebih baik saya yang mengorbankan diri.” SMS Tatang membuat Ninaya meratap.
Malam mengapung. Di tempat tak terjamah, pria muda itu menyimpan Hp-nya. Sesayup angin dingin berembus membawa bulir gerimis menyisakan gigil yang merasuk hingga ke sum-sum.[]


Sumber:
Budhi, A.S. dkk. 2014. Bawin Balian: Kumpulan Cerpen Aruh Sastra Kalimantan Selatan XI Kabupaten Tapin Tahun 2014. Yogyakarta: Writing Revolution

0 komentar: