Cerpen Hamberan Syahbana: Suatu Ketika di Ruang Nilam 3 RS Ansari Saleh
Nebuliser alat yang digunakan untuk menguapi pernapasanku itu baru saja di lepas. Sejak aku dirawat inap di Rumah Sakit Ansari Saleh, ini adalah yang ke-enam kalinya aku menjalani tindakan medis nebulisasi. Alhamdulillah, kini napasku terasa lega, tetapi jarum infus ini masih saja terpasang di tangan kananku. Padahal jarum infus ini terasa sangat menyiksa dan membuatku jadi serba salah. Lebih-lebih lagi penempatannya yang sangat riskan, salah gerak sedikit sedikit saja darah segar akan keluar dan naik melalui selang infus ini. Sehingga salatku lebih banyak dengan tayamum daripada mengambil air wudhu.Kulihat angka di layar HP-ku tertulis 11.45 tetapi mataku masih belum mengantuk juga. Sebenarnya aku ingin cepat-cepat tidur. Sama seperti malam-malam kemarin, saat-saat seperti ini setiap malam aku hanya sendiri di sini. Karena memang tak ada istri yang menemani. Maklum aku anak panti yang tak pernah mengetahui anak siapa aku ini sebenarnya. Meski sudah dua kali beristri tetapi dua kali pula aku bercerai dengan alasan klasik yang sama. Ya apalagi kalau bukan karena soal penghasilanku yang paspasan itu?
Itulah sebabnya setiap malam aku selalu sendiri di ruang ini. Istri yang pertama minta cerai karena aku tak mampu membelikan barang-barang permintaannya yang memang jauh lebih tinggi dari penghasilanku perbulan. Sedang istri kedua minggat dengan lelaki lain yang jauh lebih muda, lebih tampan dan lebih mapan dariku. Untunglah aku dirawat di kelas tiga satu kamar dengan empat pasien, jadi aku tak merasa sendiri di sini. Karena selain pasien-pasien itu, ada juga keluarganya yang menginap.
Malam ini sama seperti dua malam yang lalu. Saat ini tak ada yang bisa kulakukan selain daripada merenung dan merenung. Tetapi apa yang mau direnungkan? Ikut merenungkan masalah carut marut urusan negara? Ikut memikirkan kalah menang capres cawapres yang baru saja berlalu? Buat apa? Aku kan bukan negarawaan. Aku kan bukan relawan. Aku hanya rakyat kecil yang berkewajiban memilih salah satu di antaranya, dan itu sudah kulakukan. Itu saja. Soal kalah menang yang kupilih itu bukan urusanku lagi. Jangankan memikirkan yang itu, memikirkan kesehatanku saja, aku belum yakin bisa keluar dari rumah sakit ini dengan selamat sehat wal afiat. Jangan-jangan yang keluar hanya … Astagfirullah! Mengapa aku jadi berpikir sejauh itu? Tiba-tiba saja aku ingat beberapa hari yang lalu.
Malam itu malam Jumat. Aku merasa ada yang tak beres dengan kesehatanku. Entah apa sebabnya, semalam suntuk aku tak bisa tidur. Mataku memang sangat mengantuk tetapi aku tak bisa tidur. Berlanjut hingga ke siang harinya. Mataku semakin berat tetapi tak bisa tidur juga. Tidak bisa tidur malam dan siang membuat badanku benar-benar lemah dan terasa serba salah. Selain itu perasaanku jadi resah dan gelisah. Akhirnya sesudah Ashar aku tak bisa menahan lagi. Dengan bantuan tetangga yang juga seorang tukang ojek aku diantar ke Rumah Sakit Ansari Saleh ini.
Sesampainya di UGD aku langsung diberikan pertolongan pertama mendapat bantuan pernapasan oksigen. Setelah diperiksa, oleh dokter jaga aku diduga terindikasi serangan jantung. Rencananya aku direkomendasikan akan dirawat di Ruang ICU Rumah Sakit Ulin Banjarmasin. Karena Ruang ICU di Rumah Sakit Ansari Saleh ini saat itu sudah penuh. Tetapi untuk memastikan apakah aku benar-benar terindikasi seragan jantung atau tidak, aku harus dirontgent dulu. Akupun cepat-cepat dibawa ke laboratorium untuk dirontgen. Setelah selesai aku dibawa kembali ke ruang UGD menunggu foto hasil rontgent.
Terakhir aku dirawat inap di sini, seingatku itu juga bulan Agustus tahun 2010. Selama empat tahun terakhir ini tampaknya bukan hanya penambahan bangunan gedung yang begitu pesat, tetapi juga pasien-pasiennya semakin bertambah banyak. Tak lama kemudian foto hasil rontgentku sudah datang. Berdasarkan foto itu aku dinyatakan bukan terindikasi serangan jantung, tetapi ada cairan di dalam paru-paruku dan aku dinyatakan harus rawat inap.
Aku ingat empat tahun yang lalu waktu itu di ruang UGD tidak sebanyak ini pasiennya. Hanya menunggu selama satu jam aku sudah dibawa ke ruangan. Tidak seperti Jumat kemarn itu, ruang UGD penuh sesak dengan pasien. Sesuai dengan premi BPJS Kesehatan yang dibayar oleh perusahaan tempatku bekerja, aku berhak dirawat di kelas 3. Hari itu aku masuk UGD di rumah sakit ini pukul 17.15 sore dan pukul 24.00 tengah malam baru bisa masuk ruang Nilam 3 ini.
Kulihat angka di layar HP-ku tertulis 12.55, tetapi aku masih belum mau tidur juga. Aku mencoba online sekadar untuk melelahkan mata dengan harapan bisa membuat mataku ini mengantuk. Kubuka tabletku yang 7 inci, sebentar kemudian aku sudah berada di dunia maya. Pada saat membaca status-status di beranda facebook, kulihat muncul angka 1 di pesan inbox. Cepat kubuka pesan inbox itu, tiba-tiba saja aku terkejut membacanya.
"Ass wr wb. Bang, ini Puput, Bang. Puput yang dulu Bang. Makasih Abang sudah mengkonfirmasi pertemanan Puput."
"Wa alaikum salam wr wb. Kok Puput? Puput yang mana?" tanyaku bingung sambil mengingat-ingat nama-nama Puput yang pernah aku kenal.
"Ini kan bukan Puput? Ini Sri Indah Lestari,” sanggahku.
"Iya Bang, itu nama fesbuk Puput Bang.”
"O gitu ya? Puput yang mana ya?” tanyaku lagi.
"Puput yang ....... Puput yang Putri Sri Purnama. Abang lupa ya?"
"Lho? Ini kamu ya? Iya, iya aku ingat sekarang. Nggak mungkin lah Abang lupa sama kamu.”
"Ya iya lah. Kan dulu kita pernah anuan Bang? Lupa ya?”
“O iya, aku ingat sekarang. Sudah berpuluh tahun ya kita tidak ketemu. Kamu sekarang di mana Put? Di Banjarmasin? Atau di kota lain?”
“Ya di Banjarmasin lah Bang. Bang, ceritanya besok aja ya Bang. Abang kan lagi sakit? Istirahat aja ya Bang. Besok Puput mau membesuk Abang. Selamat tidur ya Bang. Sampai ketemu besok pagi Bang. Ass wr wb.”
Aku langsung ingat, Puput centil yang cantik jinak-jinak merpati waktu OSPEK dulu. Ya aku ingat semuanya. Sebenarmya tadi aku ingin lama-lama mengobrol tetapi ia cepat-cepat menutupnya. Ya apa boleh buat.
Meski di ruang ini ada empat pasien dan beberapa keluarganya yang ikut menginap, tetapi aku merasa sepi di sini. Pikiranku pun jadi jauh melayang ke masa lalu. Pelan-pelan semua kenangan masa lalu itu bagai tayangan sinetron di layar TV, terbayang kembali. Semuanya, tak ada satu pun yang terlewat.
***
Hari ini Senin 25 Agustus 2014 pukul 09.00 pagi. Aku baru saja selesai menjalani tindakan medis penguapan pernapasanku yang biasa disebut nebulisasi, sama seperti tadi malam, tetapi ini yang dilaksanakan siang hari. Sejak masuk rumah sakit ini, dalam satu hari aku menjalani nebulisasi dua kali. Satu kali siang hari, dan satunya lagi malam hari.
Biasanya pagi-pagi seperti ini sudah ada yang datang membesukku, kalau tidak tetanggaku, tentu rekan-rekan sejawat di tempat kerja, atau bisa juga rekan-rekan fesbuker. Tetapi pagi ini sampai pukul 10.15 tak ada seorang pun yang datang. Meski tak ada yang datang aku tetap ceria. Kenapa? Karena sebentar lagi akan datang seseorang yang sangat istimewa. Bukankah tadi malam ia telah berjanji akan datang membesukku? Tetapi kenapa ia masih belum datang juga ya? Apakah ia berbohong? Atau jangan-jangan telah terjadi sesuatu yang tak diinginkan? Astagfirullah. Kenapa aku berpikir sejauh itu? Tiba-tiba perempuan itu berdiri di ambang pintu kamar bersama seorang gadis.
Kulihat pelan-pelan ia menoleh ke arahku. Dia memandang dan terus memandangku lama sekali. Tampaknya dia mencoba mengenaliku. Sedangkan aku memandang anaknya yang masih gadis itu. Wajah itu rasanya sangat familiar bagiku, tapi aku lupa kapan dan di mana aku pernah bertemu dengannya. Meski gadis itu cantik seperti ibunya saat muda dulu, tetapi sedikit pun wajahnya tak ada mirip-miripnya. Tak lama kemudian keduanya tersenyum. Di usianya setua ini ada sesuatu yang tak pernah berubah, yaitu senyumnya. Seketika dadaku langsung berdebar-debar, sama seperti saat OSPEK dulu. Senyum itu, ya senyum itulah yang membuatku jadi serba salah waktu itu. Meski dadaku masih saja berdebar-debar, dengan perasaan suka dan gundah jadi satu, kubalas senyumannya itu dengan seyuman yang sama. Tanpa kata kami hanya bertatapan lama sekali, bicara hanya antara mata, bertegur sapa hanya antara hati.
“Put, kamu Puput kan?” tanyaku agak sedikit ragu.
“Be .. be .. benar, Bang,” jawabnya terkejut malu-malu. Sama seperti pertama kali kami bertegur sapa sehabis OSPEK Unlam tahun 90-an dulu. Tanpa canggung sedikitpun Puput langsung masuk dan memijat kakiku bagaikan seorang istri yang menyayangi suaminya. Sedang anaknya yang masih gadis itu menatapku dengan tatapan sedikit bingung. Pelan-pelan tetapi pasti gadis itu pun mendekati pembaringanku dan duduk di sisi kiriku. Aneh, diam-diam ia juga memijit kaki kiriku layaknya seorang anak kepada ayahnya.
“Kok Abang sendiri saja?” tanyanya sambil melihat-lihat kalau-kalau ada perempuan lain selain dirinya, tetapi yang dilihatnya hanyalah kondisi kamar yang berantakan.
“Iya,” jawabku lirih
“Istri Abang mana?”
“Tidak ada,” jawabku singkat.
Nampaknya Puput memahami benar bahwa memang tak ada istri yang menemaniku di sini. Tentu saja ia tidak tahu bahwa aku sudah dua kali beristri dan dua kali pula bercerai. Seandainya aku tidak cerai, tentu tidak mungkin aku bisa menerima pembesuk yang begitu intim ini. Karena kedua mantanku itu orangnya sangat pencemburu. Ah, kenapa aku jadi memikirkan istri yang tidak setia itu?
“Tahu dari mana kalau aku ada di rumah sakit?“ tanyaku mengejutkannya.
“Dari fesbuk,” sahutnya sambil melempar senyum manisnya itu. “Kan ada foto Abang di fesbuk itu? Dan ada juga tulisannya bahwa Abang dirawat di rumah sakit ini.”
“Ini anakmu ya?” tanyaku cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.
“Iya Bang. Namanya Sri Purwanti, Bang.”
“Purwanti? Apakah nama itu ada hubungannya dengan nama Putri dan Hermawan?”
Putri tidak bisa menjawab, wajahnya nampak bingung. Ia terkejut karena tak menduga bahwa aku menanyakan hal itu. Bukankah namaku adalah Hermawan Saputera? Bisa jadi kan Purwanti itu gabungan dari Puteri dan Hermawan?
Ia menatap wajah anaknya yang terlihat bingung. Melihat situasi yang tidak menyenangkan ini, anaknya langsung keluar ruangan. Sepertinya ia sengaja duduk di kursi yang ada di depan kamar ini.
Tiba-tiba saja kulihat ada sesuatu yang lain, pelan-pelan kuperhatikan ia menatapku, dan terus menatapku. Aku tidak tahu apa yang ada di benaknya, yang jelas aku merasa ia ingin mengatakan sesuatu.
“Bang, sayang kita sudah sama-sama tua ya, Bang,” desisnya lirih.
“Iya,” jawabku bingung.
Aku mencoba mencari makna apa yang ada dalam ucapannya itu.
“Sebenarnya Puput mau bilang bahwa Sri Purwanti itu adalah…” Ia tak sanggup meneruskannya.
“Sri anakmu itu?”
“Iya Bang. Sri itu…,” katanya tertunduk.
“Put, suamimu mana?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraaan.
Ia tidak menjawab, malah balik bertanya, “Sebenarnya Puput mau bilang bahwa ...”
“Jangan bilang bahwa ia itu anak kita,” selaku cepat. “Iya kan? Bukan anak kita, kan? Bukan kan?” tanyaku tak sabar mengetahui kebenarannya.
Puput diam saja, ia tak bicara apa-apa. Bisanya hanya menunduk. Aku mulai curiga. Tiba-tiba saja beribu pertanyaan bergejolak saling tumpang tindih di dadaku. Kenapa ia nggak datang bersama suaminya?
“Mana suamimu? Memangnya suamimu itu kemana sih?”
“Nah itu dia, Bang,” jawabnya tetap menunduk.
Dia tak bicara apa-apa, bicara hanya liwat pijatan tangannya di kaki dan tanganku yang semakin mesra. Layaknya seorang istri tengah memijat suaminya. Dan aku pun tak menanyakannya lagi. Entah mengapa aku membiarkan saja tangan yang mulai keriput itu memijatku dengan kasih sayang yang tersisa. Sungguh aku sangat merasakan kehangatan itu Saat ini aku merasa betapa teduh hatiku.
Seingatku dulu aku telah ditolak mentah-mentah oleh keluarganya hanya karena aku seorang mahasiswa abadi yang sampai batas akhir kuliahku tak selesai-selesai juga. Dan akhirnya dinyatakan dengan status drop out. Sejak saat itu aku menjadi buruh pabrik mengelinding ke sana kemari pindah dari tempat kerja yang satu ke tempat kerja yang lain. Dan sudah berkali-kali pula aku kena PHK
Tiba-tiba putrinya yang sudah gadis itu perlahan memasuki ruangan. Dengan wajah sendunya kulihat wajahnya yang tak asing itu. Kulihat kulitnya, rambutnya, matanya dan hidungnya. Astagfirullah! Itu kan wajahku?
“Put, jadi anak itu….?”
“Iya, Bang,” jawabnya lirih.
Dari pintu kamar yang terbuka kulihat di luar sana sepasang kucing jantan dan betina begitu akur duduk bersama, lalu berlarian berkejaran kemudian menghilang entah kemana. Ternyata kucing-kucing itu lebih mengerti dari pada kami.[]
Banjarmasin, Agustus 2014
Sumber:
Budhi, A.S. dkk. 2014. Bawin Balian: Kumpulan Cerpen Aruh Sastra Kalimantan Selatan XI Kabupaten Tapin Tahun 2014. Yogyakarta: Writing Revolution

0 komentar: