Cerpen Rezy D Riswandy: Sepatu

01.01 Zian 0 Comments

"Sinar matahari riang memanggang seperti suka ria suara harmonika dan biola yang berbunyi. Ini kali pertama kita menapaki  jalanan festival, menertawakan balon-balon yang terlepas keudara, kagum pada api-api yang menyembur. Ini lah kita, merekam  jejak mereka berdua, kisah mereka."

***


Kita Bukanlah Lagi Hanya Kau dan Aku...
Kita  menunggu dengan bosan dibawah lampu berwarna putih dan lantunan musik yang membuat mengantuk. Sharon dan Bili terus mondar-mandir kadang teriakan nyonya Merlyn membuat mereka berjalan lebih cepat. Kau selalu bergumam "Apa yang salah dengan kita? Pasti warna kita. Aku yakin biru bukanlah warna yang populer hmmm."  Aku hanya tertawa jika kau bergumam dengan alasan itu, kau bahkan mengulangnya hampir disetiap kau bosan.
Malam itu diluar hujan, Deck datang mengambil kita, menyerahkan kita kepada Bili, untuk pertama kalinya kita terpisah, kau cemas ketika itu, aku hanya bisa memberi senyuman agar kau tetap tenang. Kita kemudian dimasukan keruangan sempit dan gelap. Kita memang tak melihat kemana kita akan pergi tapi aku yakin Deck membawa kita kesuatu tempat, membawa pulang mungkin.
Di bawanya kita melewati hujan malam ini, sesekali air hujan merembes masuk kesela dinding kertas yang menutupi kita. Deck mengetok pintu, lama, sejurus kemudian terdengar sura derit pintu dibuka, Deck lalu mengucapkan selamat hari tanggal tujuh kepada seorang wanita, wanita itu adalah Diana. Diana tergesa-gesa membuka dinding kertas yang menutupi kita, ia membuka dinding kertas yang menutupi ku terlebih dahulu kemudian kau. Dan untuk pertama kalinya di malam itu kita melihat senyum cantik Diana.
Diana memakai ku dan Deck memakai mu. Diana sangat menyukai kita, kita bisa merasakan itu dari bagaimana caranya memperlakukan kita. Ia membersihkan kita dengan lembut, melap  kita seperti ia sedang membelai setangkai bunga lili.
Sejak hari itu kita selalu bersama-sama. Kita bukan lah lagi hanya kau dan aku. Kita sekarang adalah aku, kau, Deck dan Diana. Kita pernah kepantai terlalu sore menyaksikan Deck dan Diana melangkah kan kaki-kaki telanjangnya di pinggiran air laut dan berdiri mesra dipinggiran pantai. Kita juga pernah pergi bersama ketika Sinar matahari riang memanggang seperti suka ria suara harmonika dan biola yang berbunyi. Ini kali pertama kita menapaki  jalanan festival, menertawakan balon-balon yang terlepas keudara, kagum pada api-api yang menyembur. Kita juga pernah ke pasar malam yang penuh gelembung balon yang terbuat dari sabun, ada benda-benda berterbangan berwarna-warni menyala berseliuran. Kau tersenyum bahagia dan aku memandangmu dengan penuh cinta.
Hari terus berlanjut dan hari ini kita dimasukan ke etalas, persis dibawah etalase yang membungkus kita, diletakan sebuah poto berukuran besar, foto itu adalah foto Deck dan Dian, mereka berdua berpakaian tak seperti biasanya dalam foto itu, mereka sangat mengagumkan kau bilang. Banyak orang mulai berdatangan, kita menjadi tontonan, akhirnya kau bilang orang-orang memperhatikan kita dengan penuh ke kaguman. Tak jauh dari tempat kita Deck dan Diana berciuman dihadapan semua orang yang hadir. Kita melihat kagum keduanya sembari tersipu malu.

Lakeisha Bidadari Kecil...
Tujuh tahun sudah, Diana dan Deck tak lagi memakai kita, tapi kita masih diperlakukan dengan baik dan istimewa, kita diletakan diruangan keluarga menyaksikan Deck dan Diana berbahagia. Diana mengurus Lakeisha, mencuci baju sambil bernyanyi, senyumnya masih secantik dulu, ia membereskan rumah, membenarkan tata letak foto yang miring, mengganti bunga yang layu, memasak banyak makanan walau sering kali kita mencium bau hangus dari arah dapur. Sementara Deck seperti biasa selalu pulang saat petang, Deck kerap membawakan coklat untuk Lakeisha dan itu membuat Diana mengomel, “Sayannggg! Kau mau merusak gigi bidadari kecil ku ??” Sebuah hari selalu diakhiri dengan Deck yang mengangkat Lakeisha yang tertidur. Kemudian ia kembali ke ruangan ini memeluk Diana lalu menciumnya dan menggendongnya ke dalam kamar.

Cahaya Putih...
Hari itu Diana sakit, tubuhnya panas, kita mengetahuinya dari pertanyaan Lakeisha kecil kepada Deck.
“Why mom so hot dad?”
“Mama baik-baik saja darl,” Balas Deck seraya tersenyum kepada Lakeisha.
Bulan demi bulan berlalu sakit Diana yang telah hilang kembali kambuh. Hari demi hari berikutnya dilalui Diana terbaring lemah di tempat tidur. Kau bahkan menggenggam tanganku kuat ketika sesekali melihat Diana terkulai lemas saat pintu kamarnya terbuka cukup lebar, kau berbisik lirih, “Tubuh Diana penuh selang...”
Suatu malam ketika Jum’at dini hari. Kita terbangun ketika melihat cahaya putih yang begitu menyilaukan turun keruangan Diana kemudian kembali lagi keatas dan pagi harinya semua orang menangis, sejak hari itu kita tak pernah lagi melihat Diana dan senyum cantiknya.
Tak lama setelah hilangnya Diana yang tak pernah kita tau kemana perginya. Deck mulai berubah, ia tak lagi pergi kegereja, ia menenggak banyak alkohol, Lakeisha kemudian ia titipkan ke pada ibu Diana. Deck selalu menangis di jam yang sama ketika dia memeluk Diana kemudian menggendongnya ke dalam kamar. Kita hanya bisa bersedih lirih melihat apa yang dilakukan Deck.
Deck tersenyum di depan kita, ia kemudian menangis sambil terus tersenyum, kita melihat jelas begitu banyak kerutan di wajah Deck, rambutnya memutih, berdirinya tak lagi kokoh dan kuat. Dan itu adalah hari terakhir kita melihat Deck. Cahaya putih yang sama persis yang menghampiri Diana dimalam terakhir kita melihatnya, datang dan kali ini menghampiri Deck yang sedang tertidur pulas di sofa dihadapan kita. Sejak cahaya itu muncul tangis kembali mengelegar dan Deck tak pernah terlihat lagi sejak itu.

Kita Si Perekam Jejak...
Seorang laki-laki tampan sedang duduk didepan sofa, ia memandangi kita sedari ia pertama kali duduk di sofa itu. Sejurus kemudian rasa penasarannya membuatnya menghampiri kita. Ia kemudia membaca dengan pelan tulisan dilapisan dinding etalase yang membungkus kita ; "Selamat Tanggal Tujuh Dari Buncit Untuk Nona Langsing."
Tiba-tiba Lakeisha datang. Ketahuilah Lakeisha tumbuh menjadi anak yang cantik, pintar dan begitu memukau, senyumnya secantik senyuman Diana.
“Hey sedang apa kau Riel ?”
“Ah, tidak hanya bingung kenapa sepatu-sepatu ini ada diruangan keluarga dan ada diantara poto-poto keluarga kamu”
“Ouh sepatu-sepatu vans itu, dua sepatu berwarna biru itu adalah sepatu ayah dan ibuku, dulu saat ayah mendapatkan pekerjaan baru dan mendapatkan gajih pertamanya, ayah membelikan sepatu itu untuk ibu, mereka melalui banyak hal dan pergi kebanyak tempat dengan sepatu itu, hingga saat ini mereka telah tiada, sepatu itu menjadi rekam jejak kisah cinta mereka berdua..”
Alunan Rocket To The Moon – Ever Enough, kemudian mengumandang lembut diruangan itu, Lakeisha dan Ariel duduk di sofa seraya membuka banyak kado dengan banyak kartu ucapan selamat.

Sumber:
http://www.kompasiana.com/reizy/sepatu_54f6f772a333116d5a8b4c00

0 komentar: