Cerpen Mahdiya Rahima: Balahindang

16.23 Zian 0 Comments

Ketika embun pagi masih enggan menarik selimut putihnya, seorang laki laki berbadan besar berkumis tipis diatas bibir coklat hidup dengan seorang istri dan seorang anak lelaki yang masih kecil. sekali lagi ia memandang anak dan istrinya, dua orang terkasih yang sudah berapa tahun ini menjadi beban di pundak yang harus dipikul. dengan langkah gontai  ia segera beranjak bangun membawa tubuhnya yang kekar  dari sebuah kasur kecil meninggalkan istri dan anak nya seraya mengambil sebuah peci dan sarung coklat tua yang sudah lusuh yang  di gantungnya pelan di sebuah gantungan kecil yang terbuat dari batang-batang pohon bambu yang sudah dipotong kecil dan dihaluskan.
Ia segera keluar dari dapur rumah menuju sebuah sumur kecil yang sudah ditumbuhi lumut-lumut hijau di pinggiran nya. Dengan mata sayu yang belum sepenuhnya terbuka, ditariknya sebuah tali yang tergantung, dengan tenaga seadanya ia berhasil menarik sebuah ember tua berisikan air bersih. Dibasuhnya tiga kali  wajah sedikit keriput secara perlahan dilanjutkan dengan membasuh kedua belah tangan sampai ujung siku, dilanjutkan dengan mengusapkan air ke rambut yang sedikit ber uban, dibasahinya kedua telinganya yang masih berfungsi bagus dalam indra pendengaran, dibasuhnya kedua kakinya yang terlihat kusam. Diakhiri dengan menadahkan kedua tangan dan berdo’a.

Sepoyan angin di pagi buta menusuk tubuh kekar lelaki hampir parubaya ini. Tetesan embun pagi masih jelas terasa. kokokan ayam turut menyapanya dipagi ini. Dengan langkah perlahan ia memasuki ruang kecil berdinding  yang terbuat dari anyaman bambu. Ruangan yang hanya berisikan lemari kayu kecil dan sebuah meja makan lusuh ini sering digunakan untuk bercengkrama dengan orang terkasih, obor kecil dari bambu yang diletakkan disudut ruangan menerangi shalat subuh lelaki ini.
“Assalamu’alaikum warrahmatullah, assalamu’alaikum warrahmatullah" salam pertanda shalat subuh telah ia tunaikan, sang istri tampaknya sudah terbangun dari tidur lelap nya, ia melangkahkan kakinya perlahan ke luar dapur rumah untuk mengambil air wudhu. “kukuruyukk” kokokan ayam turut menyapa wanita berusia 39 tahun ini. Segera ia memasuki rumah dan menggelarkan sajadah tepat disamping suami terkasih yang 9 tahun lebih tua darinya.
Kedua suami istri ini sudah melaksanakan kewajiban shalat mereka, sang suami memasuki kamar kecil tempat keluarga ini melepas penat setelah bekerja seharian, ia mendapati sang anak masih tertidur pulas. “ayo makan dulu” terdengar suara lembut sang istri memanggilnya untuk menyantap makanan yang telah disiapkan. “nak, bangun..sudah pagi” terdengar perlahan suara sang suami membangunkan anaknya yang masih berbaring dikasur kecil lusuh. “huaaa, iya ayah” sahutan sang anak sambil menutup mulutnya yang menguap pelan.
Ayah dan anak ini menuju sebuah meja makan kecil terbuat dari kayu hampir rapuh. Diatas meja makan sudah terhidang  3 biji ubi rebus yang dipetik kemarin sore dan tiga gelas air putih. Sang istri sudah menunggu dua lelaki tercinta ini untuk menyantap sarapan sederhana yang sudah ia siapkan. dengan lahapnya mereka menyantap hidangan sederhana ditemani dengan air putih. “Alhamdulillah” syukur mereka panjatkan karena masih diberi nikmat untuk menyantap sarapan pagi walaupun hanya sebatas ubi rebus.
Kedua suami istri ini bekerja sebagai petani, tetapi hari ini mereka tetapkan untuk mencari ikan kesebuah sungai. Seperti biasa, anak mereka yang masih kecil ditinggal dirumah. Tak ada suara tangisan seperti anak kecil kebanyakan apabila ditinggal sang ayah dan ibu pergi. Dengan langkah kaki mantap sepasang suami istri ini berjalan menuju sebuah sungai yang berjarak tidak jauh dari rumah sederhana yang sudah mereka tinggali selama bertahun-tahun. Sambil membawa dua buah tangguk (alat penangkap ikan yang terbuat dari bambu, lalu dipotong kecil) mereka menyusuri jalan setapak yang sampingnya ditumbuhi rumput-rumput liar. Hembusan angin pagi dan kicauan burung seakan mengucapkan selamat pagi dan memberi semangat kepada sepasang suami istri ini.
Tibalah mereka disebuah sungai kecil, air nya yang bersih dan jernih semakin memberi semangat sepasang suami istri ini untuk membawa ikan sebanyak-banyaknya. Waktu terus berjalan matahari sudah mulai meninggi, tapi belum ada satu pun ikan yang tersangkut ditangguk mereka. Sampai akhirnya tangguk sang suami terasa berat, ia langsung menarik tangguk tersebut ke pinggiran sungai. “sepertinya malam ini kita akan makan ikan besar yang enak bu” ucap seorang lelaki dengan wajah berseri-seri kepada istrinya yang sedang duduk dipinggiran sungai. angan-angan makan ikan enak pada malam ini seketika buyar ketika mereka mendapati bukan ikan besar yang didapat tetapi sebutir telur putih berukuran sangat besar disbanding telur biasanya, telur itu terlihat menyeramkan sehingga sang istri menyarankan kepada suami nya untuk mengembalikan telur tersebut kesungai. Walaupun sebutir telur besar tersebut dirasa sangat cukup mengenyangkan apabila mereka menyantapnya tetapi lelaki yang sudah basah kuyup setengah badan ini menruti kata istrinya dan membuang telur itu kesungai.
Tak beselang lama, tangguk sang suami kembali terasa berat. Ia segera mengangkat nya. Akan tetapi kembali lagi bukan ikan yang didapatkan, melainkan telur putih yang tampak mengerikan yang tersangkut di tangguk sang suami. Sang istri menyarankan agar telur itu dibuang kembali kesungai, tetapi matahari sudah berada tepat diatas kepala mereka, hari semakin terik, mereka belum mendapatkan satu ikan pun. “hari ini tidak ada satu pun ikan yang kita dapat, kalau telur ini kita buang kita makan apa malam ini ?” ucap lelaki yang dahinya sudah dipenuhi cucuran keringat. “baiklah, ayah bawa saja telur nya kerumah” jawab wanita yang mengenakan baju berwarna hijau lusuh dipenuhi motif bunga.
Mereka pun memutuskan untuk membawa pulang telur putih tersebut kerumah, hembusan angin berhawa panas siang itu seakan mengucapkan selamat jalan kepada sepasang suami istri yang akan menuju rumah mereka. Dengan melewati jalan setapak, langkah kaki pelan membawa diri mereka menelusuri pohon-pohon rindang, dan sampailah mereka disebuah istana kecil yang dirasa sangat nyaman untuk beristirahat. Atapnya dari daun rumbia, berdinding anyaman bambu, tetapi tampak bersih dan rapi, halaman rumah yang rimbun dengan tanaman sawo tidak terliat kotor. Rumah mereka berada di perkampungan di desa Paulinan Linuh, Kec.Bungur, Kab.Tapin.
“Assalamu’alaikum” ucap sepasang belahan jiwa yang dari tadi pagi melangkahkan kakinya keluar rumah untuk mencari ikan. “Wa’alaikumsalam” terdengar sahutan dari balik pintu dengan bibir penuh senyum, ia lah anak tercinta yang sedari tadi menunggu kedua penyejuk hatinya pulang. Lelaki yang masih terlihat bugar walaupun hampir parubaya ini menyandarkan diriya ke dinding rumah seraya membersihkan dahi yang dipenuhi keringat kerja keras hari ini. Candaan ringan dengan sang anak sedikit mengurangi lelah dan letihnya.
Senja mengapung, lembayung memancarkan panorama jingga yang warnanya tidak terlalu jingga, mengabur tersaput awan, sekitar rumah mereka terlihat sepi, hanya suara hembusan angin ke daun-daun pohon. Memang, rumah keluarga sederhana ini jaraknya cukup jauh dengan rumah warga lainnya. Perlahan matahari kembali bersemayam di ufuk barat. Sebuah obor mulai bercahaya. Penerangan yang ada dirumah kecil sederhana ini hanya obor kecil terbuat dari bambu. Terlihat dari dapur bayangan wanita berbadan sedikit gemuk, sedang menyiapkan hidangan untuk makan malam. Tak lama kemudian bayangan itu berjalan samar, sampai terlihat wujud nya ke arah dua orang lelaki yang sudah menunggu hidangan di meja makan. Diletakkan wanita itu sebuah piring berisi telur yang ia dapat tadi siang di sungai. disamping telur tersebut ada tiga piring nasi putih dan tiga gelas air putih.
Sang suami langsung menyantap telur yang sudah direbus istrinya tersebut dengan nasi putih, akan tetapi sang istri dan sang anak hanya memakan nasi putihnya saja. Mereka merasa takut untuk memakan telur putih besar tersebut. Tak berselang lama setelah makan malam itu selesai, lelaki kekar hampir parubaya tersebut merasa gatal di sekujur tubuhnya. Tapi hal ini tidak dirasakan oleh istri dan anaknya, mungkin karena mereka tidak memakan telur putih mencurigakan tersebut.
Keesokan harinya badan lelaki itu menimbulkan sisik-sisik, dan ia berubah wujud menjadi seekor naga putih. Kian hari badan naga tersebut bertambah besar, dan hampir memenuhi ruangan di rumahnya. Merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut, sang istri menyarankan agar sang suami keluar dari rumah, dengan berat hati lelaki kekar yang sudah berubah wujud menjadi seorang naga putih ini diturunkan ke sebuah parit kecil yang jaraknya sangat dekat dengan rumah. Terasa sangat berat alunan langkah kaki naga putih ini, karena membawa tubuh yang besar.
Wanita yang menggendong anak kecil hasil buah cintanya dengan lelaki yang sudah berubah wujud menjadi naga putih harus melepaskan kepergian sang suami mencari tempat tinggal baru. Rumah mereka yang kecil tak memungkinkan untuk menampug seekor naga yang kian hari tambah besar. air mata menetes tanpa permisi. Lambayan tangan dari balik pintu terasa berat. Sesekali naga putih menengok kebelakang, masih terlihat lambayan tangan dua orang terkasih melepas kepergian nya.
Naga putih menghela nafas. Langkah kaki terus berayun pelan, tak tahu arah tujuan kemana kelak tempat ia bersinggah. Sepanjang perjalanan, naga menggerakan tubuhnya yang besar, akibat itu parit yang tadinya kecil berubah menjadi sebuah sungai yang lebar dan panjang. Konon ceritanya itulah legenda sungai yang membelah kota Rantau, masyarakat Rantau menyebut sungai itu dengan sebutan sungai Tapin.
Matahari semakin terik, suara helaan nafas yang lelah sesekali memecah kesunyian siang itu, jalan yang dilaluinya penuh dengan pepohonan rindang, badannya yang besar cukup sering tersangkut di batang-batang pohon. Terbersit dikepalanya bayangan anak dan istrinya. Tak terasa puluhan mil sudah ia berjalan dari hulu (paulaian linuh) sampai hilir (muara tabirai).
Langit senja mulai memancarkan cahaya jingga, tandanya sebentar lagi akan malam. Langkahnya terhenti di muara tabirai, disana ia menemukan sebuah lubang besar. Rencana nya ia akan mendiami lubang besar itu, lubang besar yang berada disamping sungai yang tenang, terdengar kodok-kodok bersahutan satu sama lain. Ia berkaca di air sungai yang bersih dan jernih, dipandanginya wujudnya yang skarang sudah berbeda dengan istri dan anaknya. Angin malam kala itu berhembus dengan kencang, kilat sesekali menyambar, sementara bulan telah lama bersembunyi. Ia putuskan untuk melepaskan penat perjalanan hari ini.
Malam panjang yang beselimut mendung berganti cahaya yang keluar di ufuk timur. Naga putih membuka matanya, sejauh mata memandang hanya hutan dan sungai dilihatnya. Terdengar suara berisik dari balik semak belukar disekitar lubang. Kemudian keluar seekor naga habang (merah) dengan raut wajah terkejut melihat sarang yang ditinggalkan nya untuk mencari makan dihuni oleh seekor naga putih. Naga putih pun terkejut melhat seekor naga habang dengan raut wajah marah menghampirinya. Suara naga habang memecah keheningan di pagi yang mulai bercahaya. “siapa engkau, beraninya meniduri sarangku” ucap naga habang dengan nada tinggi kepada naga putih yang berusaha bangkit dari tidur panjangnya. “aku naga putih yang menemukan lubang kosong ini tanpa penghuni, dan aku akan mendiami lubang ini” sahut naga putih dengan lantang. Perebutan lubang besar semakin memuncak, perkelahian tak dapat dielakkan. Naga putih dan naga habang berkelahi, suara kicauan burung dan jangkrik seakan memeriahkan perkelahian dua naga besar tersebut. Naga putih mempunyai kelemahan, ia tidak mempunyai taring seperti yang dimiliki oleh naga habang. Sehingga perkeahian saat itu dimenangkan oleh naga habang.
Dengan berat hati, naga putih harus rela meninggalkan lubang yang baru ia temukan. Dengan langkah gontai, tubuh lemah lunglai seusai perkelahian, ia berniat untuk beradu kepada sang istri, matahari berada tepat di atas kepala tetapi diselimuti awan hitam, gemuruh angin berhembus ke dedaunan pohon, cuaca sedikit berkabut. Ia memutuskan untuk pulang kerumah. Jarak puluhan mil kembali ia tempuh demi beradu keluh dan kesahnya seusai perkelahian.
Hari semakin Senja, sedikit gerimis menghiasi langit kala itu, sebentar lagi ia akan sampai dirumah. Hati nya berkecamuk antara bahagia dan kesal, ia bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan dua orang terkasih, tetapi ia juga merasa kesal karena dalam perkelahian perebutan lubang ia kalah melawan naga habang. Atap rumah dari daun rumbia tersebut sudah terlihat, jaraknya dengan sang istri dan anaknya sudah semakin dekat.
“Tokk tokk tokk” terdengar bunyi ketukan pintu dari dalam rumah. Wanita yang masih mengenakan mukena seusai menunaikan shalat maghrib melangkahkan kaki ke arah pintu dengan perasaan was-was. Perlahan ia putar penyangga pintu yang hanya terbuat dari batang bambu. “Astagfirullah…” jantungnya beradu sangat  cepat, terlihat sosok berbadan sangat besar dikegelapan. “ini ayah bu, ayah pulang” terdengar berbisik suara dari kegelapan itu. Sosok berbadan besar dari kegelapan tersebut adalah sang suami yang ingin menceritakan kejadian malang yang menimpanya, hati sang istri kian lega ketika mendengar suara suami tercinta nya kembali kerumah.
“………………begitulah ceritanya bu” dengan nada suara lesu, ia telah menceritakan panjang lebar kejadian yang menimpanya kepada sang istri. Hari semakin larut malam, ia masih duduk di terdiam diteras rumah ditemani sang istri, sang anak sudah tertidur pulas. Ngaung an burung hantu sesekali terdengar, malam itu langit Paulinan Linuh cukup bersinar, bulan sabit terlihat indah ditemani bintang-bintang. Naga putih masih resah, lubang di Muara Tambirai lah satu-satu nya tempat tinggal yang cocok untuk dirinya saat ini, ia tidak bisa tinggal disekitar rumahnya, kalau tetangga sekitar nya tau keadaan nya, keluarga nya akan di kucilkan. Tetapi lubang itu tidak bisa didapatkan nya jika ia tidak mampu mengalahkan naga habang. Kelemahan naga putih hanya sebuah taring, sedangkan naga merah mempunyai taring yang tajam. Istrinya menyarankan agar ia memasang dua buah pisau tajam di kanan dan kiri mulutnya, dengan begitu ia bisa mengimbangi taring naga habang.
Keesokan harinya, ketika fajar sudah terpajang di langit timur, naga putih menyiapkan diri untuk kembali menempuh perjalanan jauh dan bertarung dengan naga habang. sang istri dan anak lelakinya sudah berada didepan pintu untuk mengantarkan kepergian naga putih suaminya. dengan berat hati, wanita yang tetap mencintai dan menyayangi suaminya meski sudah berubah wujud menjadi naga tersebut harus rela melepas kepergian sang suami untuk bertarung. Memang, nyawa menjadi taruhan dalam sebuah pertarungan, apalagi pertarungan melawan naga habang. naga habang lebih dikenal masyarakat Kab.Tapin dengan sebutan Si Ribut, karena keganasan nya. Perjalanan jauh kembali dimulai, jarak puluhan mil harus di tempuh, cuaca pagi kali ini cukup bersahabat. Lambaian tangan kedua orang terkasih melepas kepergian nya, do’a tulus dari anak dan istri mengiringi setiap langkahnya. Suasana perkampungan Paulinan Linuh masih sepi, sehingga tidak ada kecurigaan dari tetangga sekitar rumahnya. Ranting-ranting pepohonan kembali menghambat langkah nya, apalagi dengan tubuh yang besar dan buntut yang cukup panjang, tetapi tak ada sedikit kegundahan, hati nya mantap ingin mengalahkan naga habang.
Matahari kian terik, ia putuskan untuk beristirahat sebentar di bawah pohon sawo. Nafas nya masih tersenggak-senggak, perlahan ia meminum air danau yang ada disamping pohon sawo. Hembusan angin cukup mampu mengeringkan keringat hasil perjalanan jauh nya. Tidak lama beristirahat, ia memutuskan untuk meneruskan perjalanan ke Muara Tambirai.
Senja hampir tiba, langit kala itu berwarna jingga cerah, matahari hampir tergelincir ke ufuk barat. Ia sudah sampai di Muara Tambirai, tempat lubang lesar yang ia perebutkan dengan naga habang. terlihat sudah dari kejauhan, naga habang sedang terlelap tidur. “aaaaaaaaa……….” Ngaungan naga putih membangunkan naga habang yang sedang menikmati tidur panjang nya. “rupanya nyali mu cukup besar naga putih” ucap naga habang dengan suara tinggi dan menantang. “aku memang bernyali besar, aku akan membalas kekalahan ku kemarin” sahut naga putih dengan suara tegas dan mantap. “baiklah kita mulai saja pertarungan ini, kalau aku kembali yang menang, lubang ini tetap menjadi milikku, tapi apa bila aku kalah, akan ku serahkan lubang ini kepadamu” ucap naga habang.
Pertarungan dimulai, kini naga putih sudah dapat mengimbangi naga habang, karena dua buah pisau sudah di pasang di kanan dan kiri mulutnya, api dari mulut kedua naga ini saling menyambar. Malam semakin larut, tetapi perkelahian kedua naga ini belum juga usai, Mereka sama-sama naga yang kuat. hingga naga putih tersungkur jatuh, tapi ia segera bangkit kembali. Sampai akhirnya naga habang lengah, naga putih segera menyobek badan naga habang dengan kedua pisau di mulut kanan dan kirinya. Naga habang tergeletak tak berdaya, ia tak mampu lagi berdiri, badan nya mengeluarkan darah sangat banyak, tampaknya naga habang sudah kalah, darahnya bercucuran sampai memenuhi sungai dekat lubang, sehingga sungai dekat lubang menjadi merah berkilauan, kilauan nya memantul beraneka ragam ke langit.
Pemenang pertarungan kali ini adalah naga putih, lubang yang diperebutkan pun kini sudah menjadi miliknya sepenuhnya.  Rasa bahagia berhasil memenangkan pertarungan tak ingin disimpan nya sendiri, ia ingin berbagi kebahagiaan kepada istri dan anaknya yang selalu mendo’akan nya. Ia beristirahat sebentar di lubang yang sudah menjadi miliknya, perlahan ia tertidur. Cuaca Muara tambirai kala itu cukup bersahabat, sehingga tidur naga putih semakin lelap. Rasa lelah seusai perkelahian sangat menyelimuti tubuhnya, ia terbangun saat fajar sudah terpajang di langit timur. Ia segera teringat akan istri dan anaknya, sehingga ia putuskan untuk memulai perjalanan ke Paulinan Linuh, rumah tercinta nya,tempat anak dan istrinya sekarang. Kabut masih menyelimuti hutan Muara Tambirai, ranting pohon kembali menjadi penghalang perjalanan nya, tubuhnya yang besar selalu tersangkut. Tapi semangat demi bertemu anak dan istrinya semakin menggebu-gebu. Sepanjang perjalanan bibirnya tak henti tersenyum, seperti nya ia akan sampai di Paulinan Linuh sore ini.
Matahari hampir kembali keperistirahatannya, sudah terlihat atap rumah dari pohon rumbia, rumah tercintanya. Terlihat juga di halaman rumah wanita berselendang hitam lusuh, berpakaian baju panjang  dengan lengan baju sampai siku, sedang menjaga anak lelaki kecil bermain. Ya, itulah dua orang terkasih yang sangat dicintainya. Rupanya dari kejauhan, sang istri sudah melihat sosok bertubuh besar itu, firasatnya mengatakan itu adalah suami tercinta, hati nya sangat senang, karena sang suami tidak celaka dalam pertarungan melawan naga habang.
Lambaian tangan sang istri dari kejauhan semakin mempercepat langkah sang suami, ia mencoba berlari menghampiri sang istri walaupun tubuhnya yang besar sangat sulit digerakkan. Setibanya di halaman rumah, ia langsung menghampiri sang istri dan memeluknya, “aku berhasil memenangkan pertarungan itu, kini lubang itu sepenuhnya sudah menjadi milikku” ucap sang suami kepada istrinya yang berada dalam dekapan nya. Nafas nya masih tersenggak, ia duduk disamping istri dan anaknya. Suasana mengharu biru, berselimut kebahagiaan, sesekali air mata bahagia menetes tanpa permisi.
Anaknya terlihat sangat bahagia, walaupun ia terlihat belum dewasa tapi ia bisa memahami apa yang terjadi, ayahnya kembali kerumah dengan selamat. Tetapi kebahagiaan yang menyelimuti keluarga kecil ini tidak berlangsung lama, karena mereka tidak mungkin bersatu lagi, sang ayah yang sudah berubah menjadi seekor naga putih tidak memungkinkan untuk tinggal di perkampungan paulinan linuh bersama anak dan istrinya. Ia akan tinggal di lubang yang sudah didapatkannya dari hasil perkelahian dengan naga habang.
“Apabila kalian merasa rindu ingin bertemu dengan ku, maka akan turun hujan panas, kemudian rintik, dan akan muncul pelangi. Selagi masih ada pelangi diangkasa, itu tandanya aku masih hidup, dan cinta suciku selalu ada untuk kalian.” itulah pesan terakhir sang suami sebelum ia pergi meninggalkan istri tercinta dan buah hatinya. “jadi ayah harus pergi meninggalkanku dengan ibu??” dengan nada lirih, anak lelaki yang masih ingusan itu bertanya kepada ayahnya. “tidak anakku, ayah selalu ada dihati kita” sahut sang ibu yang terlihat ikhlas melepas kepergian suaminya. Mulai saat ini panggillah aku dengan “Balahindang” tegas sang lelaki yang berubah wujud menjadi naga putih itu. Balahindang pun kembali ke Muara Tambirai, dengan cuaca rintik yang menemani perjalanan nya.


Sumber:
http://dyarahima.blogspot.co.id/2013/11/cerpen-pelangi-dari-sungai-tapin-si.html

0 komentar: