Cerpen Zaidinoor: Wanita yang Menangis Sendiri

05.25 Zian 0 Comments


“Bang, bangun... bangun bang,” kata isterinya sambil tetap berbaring.
“Ada apa bu?, tengah malam begini...” kata suaminya jengkel sambil membuka mata. Dari dalam kelambu yang transparan ia memandang jam dinding di kamar yang menunjukkan jarum setengah satu.
“Sssstt... coba dengerin bang!,” perintah sang isteri pelan.
Sang suami yang juga masih berbaring menajamkan pendengarannya ke sebelah rumah. Mulanya seperti suara kucing kawin, pelan sekali. Kadang tersendat. Sesekali diselingi suara segugukan dan isak. Benar pikir sang suami, itu adalah suara tangisan!.
“Apa sebaiknya kita datangi saja bang?, kasihan wanita itu. Kejadian ini sudah  seminggu sejak ia pindah ke sebelah rumah kita,” kata sang isteri.

Suaminya diam, ia ragu. Sudah beberapa kali isterinya menceritakan perihal tangisan wanita tetangga baru mereka itu. Wanita yang selalu menangis di tengah malam. Tangisannya baru berhenti menjelang subuh.  Namun baru malam ini ia mendengar langsung. Meski penasaran, ia merasa tak enak kalau mendatangi langsung wanita itu. Bukankah itu namanya mencampuri urusan orang lain?, begitu pikirnya.
Ia tahu wanita itu berasal dari kota. Tentu tak terbiasa dengan adat istiadat di kampung yang ketika ada masalah selalu diselesaikan dengan para tetangga dan handai taulan. Bahkan anak yang tak pulang pun biasanya seluruh kampung akan ikut sibuk mencari.
Wanita itu memang baru tinggal di kampung mereka. Kata orang-orang di kampung, wanita itu adalah karyawan bank. Ia dipindahkan oleh kantor pusatnya untuk bekerja di kantor cabang yang ada di kecamatan.
Ia menyewa rumah kosong yang ditinggal pemiliknya untuk bekerja di Arab Saudi sebagai TKI. Di rumah itu ia tinggal sendirian. Usianya sendiri sekitar 30an. Tak ada yang tahu apakah wanita itu janda atau memang belum kawin kecuali Pembakal dan aparatnya, mungkin.
Tangisan itu masih terdengar, kali ini seperti suara tenor memilukan.
Setelah hampir satu jam mendengar tangisan itu, akhirnya sang suami tak bisa menahan diri juga.
“Kita keluar aja dulu bu. Kita lihat apa yang terjadi di sebelah,” kata sang suami sambil bangkit dari pembaringannya. Isterinya mengiyakan. Keduanya kemudian keluar rumah. Di teras, mereka memperhatikan rumah yang disewa wanita itu. Rumah itu dikelilingi kegelapan. Lampu luar rumah pun tak menyala. Tangisan itu tetap berlanjut.
Suami-isteri itu berdiskusi sebentar. Akhirnya mereka sepakat untuk memanggil Pembakal. Setelah dihubungi lewat ponsel, pembakal datang lengkap dengan senter. “Ada apa?,” tanya pembakal tergopoh-gopoh.
Keduanya menjelaskan secara singkat pada pembakal. Pembakal mengernyitkan kening dan memasang telinganya. Benar, ia mendengar suara tangisan wanita!. Entah karena merasa sok pahlawan atau karena merasa memang kewajibannya untuk mengayomi warga, pembakal langsung mengambil langkah cepat. Ia mengajak suami-isteri itu mendatangi rumah di sebelahnya.
Tepat di depan rumah wanita itu, suara tangisan terdengar makin jelas, makin menyayat. Pembakal yang berada paling depan langsung mengetuk pintu. Tak ada jawaban, hanya suara tangis.
Pembakal tak sabar. Pintu digedornya, pelan, tak ada jawaban. Digedornya lagi lebih keras. Tetap tak ada jawaban. Kali ini gedorannya sangat keras namun  tangisan tak berhenti. Akhirnya pintu didorongnya perlahan, ternyata tak terkunci!.
Begitu pintu terbuka, pembakal langsung menyapu seluruh ruang tamu tanpa sofa itu dengan cahaya senternya. Cahaya senter langsung terhenti pada sosok wanita yang bersimpuh di tengah ruang. Wajahnya tertunduk segugukan. Dalam keremangan cahaya senter, pipinya basah oleh airmata . Kelihatannya wanita itu menangis tanpa menyeka airmatanya.
Pembakal mendekati wanita itu. Suami-isteri gelagapan langsung mencari stop kontak untuk menyalakan lampu. “Ada apa?, kenapa menangis tiap malam?,” tanya pembakal lembut  sesaat setelah lampu menyala. Wanita itu tetap menangis dengan wajah tertunduk. Ia tak menghiraukan pembakal serta suami-isteri tetangganya. Seolah mereka tidak ada di sana.
“Tangisan anda  memang pelan dan tak mengganggu, tapi kami harap kami bisa membantu kalau ada masalah. Anda sudah menjadi warga kampung kami, jadi anda adalah keluarga kami juga,” kata pembakal bijak meski pertanyaannya tadi tak digubris. Wanita itu masih saja menangis. Ia bahkan tak mengangkat wajahnya. Wanita itu seperti menikmati tangisannya.
Di luar rumah, warga mulai berdatangan. Rupanya mereka mendengar gedoran pintu tadi. Sesuatu yang jarang terjadi di kampung mereka. Hanya beberapa saat warga sudah berkerumun. Sebagian dari mereka ikut masuk rumah. Ruang tamu mulai sesak oleh warga yang ingin mengetahui apa yang terjadi. Setelah mengetahui tentang tangsisan wanita itu, semuanya penasaran.
Tiba-tiba wanita itu berhenti menangis. Hening sejenak. Pembakal menahan nafas. Wanita itu perlahan mengangkat kepalanya. Menatap pembakal, suami-isteri tetangganya, kemdian menyapukan matanya yang sembab ke seluruh ruangan yang sudah dipenuhi warga kampung.
“Kalian ingin tahu kenapa aku menangis?,” tanya wanita itu.
“Akhirnya wanita ini berbicara juga,” pikir pembakal lega. Pembakal dan suami-isteri disampingnya mengangguk.
“Baiklah. Tapi aku hanya akan memberi tahu dengan cara berbisik. Dan berjanjilah, kalian juga berbisik kalau ingin memberitahukan kepada yang lain!,” kata wanita itu.
“Kalau tidak, sesuatu yang buruk akan terjadi,” terang wanita itu meyakinkan. Rasa ingin tahu memuat semua yang berhadir di situ mengiyakan, termasuk mereka yang berkerumun di luar rumah.
Wanita mendekatkan mulutnya ke telinga pembakal. Setelah membisikkan sesuatu, ia kembali menundukkan wajahnya dan menangis.
Pembakal kemudian berbisik ke pasangan suami-isteri tetangga wanita itu. Suami-isteri itu membisikkannya kepada orang yang ada di samping mereka. Begitu selanjutnya bisik-membisik itu sampai kepada orang terakhir yang berada di luar rumah.
Keingintahuan memang membuat manusia melahirkan berbagai ilmu pengetahuan. Karena pengetahuan itu juga kadang manusia merasa bisa menaklukkan alam. Tapi keingintahuan tak jarang mengakibatkan hal-hal aneh terjadi. Seperti yang dialami oleh Pembakal, suami-isteri  serta warga yang berdesak-desakkan pada malam itu.
Setelah semua mendapat bisikan, tiba-tiba mereka – termasuk pembakal dan suami – isteri tetangga wanita itu  duduk bersimpuh. Mereka menundukkan wajah masing-masing dan menangis bersama wanita itu. Kali ini suara tangisan itu lebih ramai.
Memang dalam dunia, juga kehidupan ini ada hal-hal yang tak perlu dikatakan, tak perlu diketahui banyak orang. Sesuatu yang tetap rahasialah yang membuat kehidupan ini bejalan normal.***

Sumber:
Banjarmasin Post, Minggu, 9 Agustus 2015
http://ambahkata.blogspot.co.id/2015/08/cerpen-wanita-yang-menangis-sendiri.html

0 komentar: